Rabu, 22 Juli 2026 | 03:44
COMMUNITY

Berani Ungkap Pagar Laut, Pak Kholid Tak Takut Ancaman Demi Hak Nelayan

Berani Ungkap Pagar Laut, Pak Kholid Tak Takut Ancaman Demi Hak Nelayan
Pak Khalid

ASKARA - Pak Kholid, seorang nelayan asal Banten, berani mengungkapkan soal pagar laut karena merasa ada ketidakberesan dan kepentingan publik yang harus dibela. Karena ia merasa hak-hak nelayan dan masyarakat sekitar terganggu oleh keberadaan pagar laut tersebut. 

Selain itu, Pak Kholid juga mengungkapkan bahwa ia sempat ditelpon oleh seorang meminta untuk tidak mengurusi masalah di Tangerang. Namun, ia tetap teguh dalam perjuangannya untuk melindungi hak-hak nelayan dan masyarakat sekitar. Pak Kholid menyatakan bahwa pagar laut tersebut merugikan para nelayan dan tidak adil bagi mereka.

Beliau mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini pada akhirnya akan hilang. Harta, kekuasaan, ketenaran, atau apa pun yang kita anggap penting dan berharga di dunia ini, semua itu bersifat sementara dan akan lenyap seiring berjalannya waktu. Hanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang kekal dan abadi.

"Selain Tuhan Yang Maha Esa (Allah) semua kekuasaan yang ada di bumi ini lenyap. Harta, ketenaran, kehebatan, kesaktian, kekuasaan apa saja selain Allah punah," tegas Kholid lewat pernyataannya di video yang tersebar di medsos, dikutip Senin (27/1).

Kholid menegaskan bahwa dalam menghadapi keserakahan dan kerakusan, ia tidak takut karena pada akhirnya semua manusia akan menghadapi kematian. Pengandaian tentang telur itik yang pindah ke alam yang lebih merdeka menunjukkan keyakinannya bahwa setelah kehidupan di dunia ini, ada kehidupan yang lebih baik dan lebih bebas di akhirat.

*Makanya yang saya hadapi adalah keserakahan, kerakusan, saya gulung. Takut sama siapa, ujungnya kan mati. Ibarat telur itik pindah ke alam lebih merdeka sehingga saya bebas tidak terkungkung dari jasad, selesai. Takut sama siapa, memangnya hidup ini hanya di dunia saja," tutur Kholid merupakan seorang nelayan dari Desa Kronjo, Kecamatan Pontang, Serang, Provinsi Banten.

Keberanian dan kepedulian Kholid inilah yang membuatnya mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan, termasuk para nelayan lainnya yang merasa terdampak.

Saat menjadi narasumber dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC), Kholid mengungkap dugaan korporasi di balik pembangunan pagar laut yang merugikan para nelayan. Sebagai orang yang mencari nafkah di laut, Kholid memilih untuk melawan.

"Lebih baik saya melawan, daripada hidup saya sebagai petani nelayan dikelola oleh korporasi. Karena ainal yaqin, kalau saya sebagai rakyat dikelola korporasi sampai kiamat anak cucu saya pasti miskin," tegasnya.

Kholid mengungkapkan bahwa pagar laut sepanjang 30 kilometer itu merugikan para nelayan.  Terkait ancaman pada dirinya karena menyoroti pagar laut Tangerang, Kholid mengungkit sebuah buku berjudul 'Logika Penjajah' karya Yai Midi.

"Dalam isi buku tersebut persis seperti kata penelpon tersebut ke saya, kamu orang Serang nggak boleh urusi Tangerang. Padahal menurut saya, nelayan tidak boleh parsial," paparnya.

"Nah ciri-ciri penjajah itu memiliki pandangan parsial, sampai tingkatannya kita tidak menolong tetangga kita yang kelaparan atau sedang dijajah," ujarnya dikutip dari YouTube ILC.

"Begitu juga di laut. Ketika orang Tangerang menangis, orang Serang menangis. Ketika Rempang menangis, orang Serang menangis," sambungnya.

Ia menyatakan bahwa dirinya ingin agar masyarakat tahu tentang kejanggalan yang ada, terutama terkait penerbitan sertifikat yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang ada, seperti yang terjadi pada pagar laut di perairan Tangerang. 

Kholid juga melihat bahwa keberanian untuk membuka isu ini diperlukan demi transparansi dan kepentingan lingkungan serta masyarakat. Selain itu, ia berpendapat bahwa jika dibiarkan, masalah tersebut akan semakin merugikan banyak pihak, termasuk negara dan masyarakat yang seharusnya mendapatkan perlindungan atas kekayaan alam.

Tentu saja, keberanian tersebut berisiko, karena ia menghadapi pihak-pihak yang berkepentingan dan memiliki pengaruh besar, tetapi keyakinan untuk mencari keadilan menjadi dorongan utama bagi Kholid untuk berbicara terbuka tentang kasus pagar laut ini.

Komentar