Selasa, 21 Juli 2026 | 23:06
NEWS

Cek! Kapan Akhir Cuaca Ekstrem?

Cek! Kapan Akhir Cuaca Ekstrem?
Kepala BMKG ketika memberikan keterangan terkait cuaca ekstrem (Dok BMKG)

ASKARA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk selalu memperbarui informasi prakiraan cuaca sebelum melakukan perjalanan selama periode Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru). Langkah ini penting sebagai antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat mengganggu kelancaran arus transportasi seluruh moda.

"Seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Kami meminta masyarakat untuk terus memantau prakiraan cuaca melalui aplikasi InfoBMKG yang diperbarui secara berkala. Peringatan dini cuaca akan disampaikan sepekan sebelumnya, diulang tiga hari sebelum kejadian, bahkan hingga tiga jam sebelum cuaca ekstrem terjadi," ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam dalam keterangan yang dikutip, Jumat (6/12).

Dwikorita mengungkapkan, berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, diperkirakan 110,67 juta orang akan melakukan perjalanan selama musim libur Nataru 2024/2025. Sebagian besar pelaku perjalanan menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan motor, sehingga rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.

BMKG memproyeksikan cuaca ekstrem berpotensi terjadi hingga Maret-April 2025 akibat fenomena La Nina Lemah yang meningkatkan curah hujan hingga 20 persen. Selain itu, dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan potensi cold surge dari daratan Asia (Siberia) menuju wilayah barat Indonesia diperkirakan aktif selama periode Nataru.

"Kedua fenomena ini dapat meningkatkan intensitas dan volume curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Meski begitu, skala dan dampaknya masih memerlukan pemantauan lebih lanjut," jelas Dwikorita. BMKG terus memantau kondisi ini secara cermat untuk mendukung langkah antisipatif dan mengurangi risiko di lapangan.

Dwikorita juga menjelaskan bahwa aplikasi InfoBMKG menyediakan fitur *Digital Weather for Traffic (DWT)* yang dapat membantu masyarakat memantau informasi cuaca di jalur mudik. Fitur ini mencakup informasi peringatan dini, cuaca jalur darat, rute perjalanan, bandar udara, pelabuhan, penyeberangan, hingga informasi penerbangan dan gelombang.

"Update informasi cuaca berkala sangat diperlukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan atau kunjungan ke destinasi wisata. Di musim penghujan seperti sekarang, bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan air, dan tanah longsor sangat rawan terjadi," tambahnya.

Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menambahkan bahwa sejumlah fenomena atmosfer diprediksi akan memengaruhi pola cuaca dalam sepekan ke depan. Sirkulasi siklonik yang terdeteksi di Laut Natuna, Samudra Hindia barat daya Banten, Perairan Barat Aceh, dan Laut Arafuru memicu pengangkatan massa udara yang mendukung pembentukan awan hujan berintensitas tinggi.

"Kombinasi aktif MJO, gelombang Rossby, gelombang Kelvin, serta konvektif lokal memperkuat dinamika atmosfer. Hal ini meningkatkan potensi hujan lebat di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi, yang berisiko menyebabkan banjir, tanah longsor, atau bencana hidrometeorologi lainnya," ujar Guswanto.

Ia juga menyoroti potensi hujan lebat di daerah aliran sungai di sekitar gunung berapi aktif yang dapat memicu banjir lahar hujan. "Kami mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap risiko bencana hidrometeorologi dan terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG," pungkasnya.

 

Komentar