Selasa, 14 Juli 2026 | 09:17
NEWS

Kinerja APBN DKI Jakarta Hingga 31 Oktober, Pajak Capai Rp1.072,37 Triliun

Kinerja APBN DKI Jakarta Hingga 31 Oktober, Pajak Capai Rp1.072,37 Triliun
Kantor Dirjen Pajak (Dok DJP)

ASKARA – Forum Assets Liabilities Committee (ALCO) Regional DKI Jakarta mengadakan konferensi pers daring di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) DKI Jakarta, membahas realisasi pelaksanaan APBN hingga 31 Oktober 2024. Kegiatan ini bertujuan memberikan gambaran mendetail mengenai kinerja fiskal regional.

Kepala Kanwil DJPb DKI Jakarta, Mei Ling, menyampaikan dukungan fiskal terhadap perekonomian mencapai Rp972,34 triliun, berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Inflasi Oktober 2024 tercatat 0,03%, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 4,93% (yoy), lebih rendah 0,01 poin dibandingkan triwulan sebelumnya. Neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD 1,67 miliar, sementara tingkat partisipasi kerja meningkat seiring penurunan pengangguran.

Namun, kesejahteraan petani menurun akibat kenaikan konsumsi dan penurunan produksi padi dan beras. Secara keseluruhan, kinerja APBN tetap resilient. Pendapatan negara mencapai Rp1.432,79 triliun dengan belanja sebesar Rp1.456,51 triliun, menghasilkan defisit Rp23,72 triliun.

Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan Kanwil DJP Jakarta Khusus, Yari Yuhariprasetia, menjelaskan penerimaan pajak mencapai Rp1.072,37 triliun atau 88,87% dari target, meskipun terjadi kontraksi 2,29% (yoy). Penurunan terutama terjadi pada PPh Non-Migas sebesar 6,05% (yoy) akibat penurunan PPh Pasal 25/29 Badan. Sebaliknya, PPN terus menunjukkan kinerja positif, didorong perbaikan PPN Impor dan PPN lainnya.

Sementara itu, penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp19,38 triliun atau 69,98% dari target APBN, turun 0,67% (yoy) akibat penurunan Bea Masuk. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp320,33 triliun, melebihi target 135,75%, meskipun turun 2,42% (yoy) akibat penurunan harga komoditas.

Kepala Kanwil DJP Jakarta Barat, Farid Bachtiar, melaporkan capaian penerimaan bruto sebesar Rp59,08 triliun, dengan penerimaan neto Rp52,13 triliun atau 78,14% dari target Rp66,72 triliun. Capaian ini tumbuh 6,52% dibanding tahun lalu.

Berdasarkan jenis pajak, PPh mencatat Rp24,05 triliun, PPN dan PPnBM mencapai Rp28,00 triliun, sementara pajak lainnya sebesar Rp81,27 miliar. Empat sektor utama yang mendominasi penerimaan adalah perdagangan (Rp25,80 triliun), industri pengolahan (Rp7,63 triliun), pergudangan (Rp3,41 triliun), dan konstruksi (Rp2,71 triliun), menyumbang 75,86% dari total penerimaan.

Di sisi kepatuhan, pelaporan SPT Tahunan mencapai 88,87%, dengan 366.664 SPT yang telah diterima dari target 412.582 SPT.

Kepala Kanwil DJP Jakarta Barat menekankan pentingnya sinergi antara wajib pajak, masyarakat, dan pemangku kepentingan untuk mencapai target kinerja 2024. Prospek ekonomi jangka pendek tetap optimis, dengan indikator konsumsi dan produksi yang terus menunjukkan tren positif meskipun tantangan global masih membayangi.

 

 

Komentar