Senin, 08 Juni 2026 | 09:50
COMMUNITY

Putri-Putri Sekar Puri Rindu Wajah Budaya Ibu Pertiwi

Putri-Putri Sekar Puri Rindu Wajah Budaya Ibu Pertiwi
Putri-Putri Sekar Puri ketika bawakan tarian (Dok Hendrata)

ASKARA – Kekayaan budaya Nusantara selalu menemukan jalan untuk tetap lestari, meski dihadapkan dengan pengaruh global dan pergaulan internasional. Perayaan Hari Pahlawan yang digelar pada 10 November 2024 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjadi momentum bagi IKAASI (Ikatan Alumni ASKI, STSI, ISI) Jakarta untuk menghadirkan "Gebyar Tari Nusantara II", sebuah pergelaran tari yang membangkitkan kecintaan pada budaya melalui seni gerak.

Acara ini diikuti ratusan penari dari tujuh sanggar tari, menampilkan total 17 tarian tradisional dan kreasi baru. Salah satu sorotan menarik dari acara ini adalah penampilan tujuh perempuan dewasa yang menampilkan tari Sekar Puri dengan kostum Putri Jawa berkemben, sebuah penampilan yang menggambarkan kerinduan pada budaya Ibu Pertiwi. Ketujuh penari ini, yaitu Maria Natalia, Tri Rahmini Siwi Utami, Erika Andriano, Lina Agung, Dyah Pramesti Shinta Dewi, Endang Sri Mulyani, dan Umi Khulsum Ph.D, adalah anggota Sanggar Kamaratih yang dipimpin oleh Dra. Tita Sukmawati. Mereka telah berlatih selama enam bulan untuk penampilan publik perdana ini, membawa kembali pesona masa silam dengan penuh khidmat.

Diiringi alunan gending Jawa yang mengalun merdu, langkah lembut para penari Sekar Puri menghiasi panggung, mengisi ruang sanubari penonton dengan nuansa budaya yang kental. Di tengah gerimis November, pengunjung TMII tak bergeming menyaksikan penampilan "putri keraton" yang menari gemulai, menghidupkan keindahan dan keagungan budaya Jawa.

Martini S.SN, pengajar tari yang membimbing para penari tersebut, menuturkan perjalanan panjang yang dilalui para penari ini. "Saya mengajar Tari dengan gaya Surakarta yang khas, tetapi mereka bukan penari profesional, jadi semua gerakan dan perintah harus diulang berkali-kali. Itulah serunya melatih mereka," ujar Martini. Tarian Sekar Puri menjadi dasar bagi para anggota Sanggar Kamaratih dalam menekuni keterampilan menari Jawa, sebelum nantinya mereka akan mempelajari tarian yang lebih kompleks seperti Tari Bedoyo yang memiliki durasi lebih panjang dan gerakan yang lebih beragam.

Pengalaman mendalami dunia tari tradisional ini ternyata membawa banyak manfaat bagi para anggotanya. Mereka mengaku menjadi lebih menghargai budaya Nusantara dan merasakan adanya penguatan rasa (roso) dalam setiap gerakan tari. “Menari membuat saya lebih tenang secara spiritual, seperti beribadah. Saya yang sehari-hari bekerja sebagai konsultan pajak, merasa menari menjadi cara untuk menyeimbangkan jiwa,” ujar Umi Khulsum Ph.D., dosen STEBI Lampung.

Perayaan Hari Pahlawan dengan sentuhan budaya ini tak hanya mempersembahkan hiburan, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan pada budaya Nusantara. Gebyar Tari Nusantara II menjadi saksi bahwa budaya Indonesia tetap hidup dan selalu menemukan cara untuk dicintai kembali, melalui gerakan tari yang memikat hati setiap penonton.

 

 

Komentar