Aktivitas Sosial MEG Terhambat, Preman Bayaran Diduga Picu Konflik di Rempang Eco City
ASKARA – Tim Makmur Elok Graha (MEG) menghadapi gangguan dalam menjalankan misi mereka di Pulau Rempang. Preman bayaran yang diduga berafiliasi dengan sekelompok pendatang yang mencoba mencari keuntungan, berusaha menghalangi program reboisasi dan ketahanan pangan MEG di kawasan Goba, yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City.
Pulau Rempang, yang dulunya dipenuhi hutan hijau dan perkampungan kecil, kini rusak akibat ulah pendatang yang membuka lahan secara ilegal. MEG hadir di tengah kondisi tersebut dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk reboisasi dan pemulihan lingkungan, serta memberikan bantuan kesehatan kepada masyarakat setempat. Namun, kegiatan mulia ini terganggu oleh aksi preman yang mengatasnamakan warga setempat.
Menurut sejumlah saksi mata, aksi preman ini dimanfaatkan sekelompok oknum masyarakat pendatang untuk memprovokasi warga pendatang lainnya yang tinggal secara ilegal. Beberapa orang di lokasi menghubungi massa lain untuk memancing keributan, menyulut konflik yang seolah-olah terkait penolakan terhadap PSN. "Padahal, MEG tengah berupaya menjalankan program ketahanan pangan yang sah, bukan menjaga lahan atau memicu konflik," kata salah satu saksi mata yang enggan disebut namanya, Sabtu (21/9).
"Kami di sini bukan untuk konflik, tetapi untuk menjalankan program sosial seperti reboisasi dan ketahanan pangan," ungkap salah satu relawan MEG. "Namun, kami diintimidasi oleh sekelompok orang yang ingin mengacaukan program kami."
Aparat Penegak Hukum setempat berusaha mengendalikan situasi dengan tidak mengintimidasi warga. Namun, dalam insiden tersebut, belasan orang dilaporkan terluka, termasuk seorang ibu yang mengalami patah tulang. Polisi menegaskan bahwa mereka berwenang menangkap pelaku tindak kekerasan sesuai hukum yang berlaku.
Sementara itu, Forum Masyarakat Rempang Galang Bersatu (FRGB) menggelar pertemuan di Simpang Pantai Melayu pada 19 September 2024. FRGB, yang diwakili oleh tokoh dari tiga kelurahan — Rempang Cate, Sembulang, dan Sijantung — menegaskan sikap netral dalam konflik ini dan mengedepankan dialog serta musyawarah sebagai solusi. Mereka juga menyerukan agar masyarakat tidak terprovokasi oleh hoaks dan menjaga keamanan wilayah.
FRGB juga mengecam tindakan arogansi dalam penyelesaian masalah di Rempang, mendesak agar penyelesaian dilakukan secara humanis dan tidak merugikan masyarakat maupun tim relawan yang sedang menjalankan program sosial.

Komentar