Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Universitas Tarumanagara Bangun Generasi Muda Berwawasan Indonesia Emas 2045
ASKARA - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MSc menyampaikan perguruan tinggi memegang peran yang paling sentral dan strategis dalam membangun SDM unggul dan kapasitas inovasi bangsa Indonesia. Disamping itu, ia mengingatkan civitas akademika Universitas Tarumanagara (UNTAR) untuk tidak melupakan jati diri bangsa dan nilai-nilai kebangsaan yang menjadi landasan kokoh menuju Indonesia Emas 2045.
Hal itu disampaikan Prof. Rokhmin Dahuri saat mengisi Kuliah Umum bertema “Membangun Generasi Muda Berwawasan Indonesia Emas 2045” di Audit Lt. 8, Gedung M, Kampus 1, UNTAR, Jakarta, Rabu, 11 September 2024.
“Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi bangsa yang maju dan berdaulat. Dengan populasi 281,6 juta jiwa dan kelas menengah yang terus tumbuh, Indonesia berada di ambang bonus demografi yang bisa menjadi mesin penggerak ekonomi jika dikelola dengan baik,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa kemajuan ini hanya bisa dicapai jika nilai-nilai kebangsaan tetap menjadi landasan dalam setiap langkah pembangunan. “Nilai-nilai kebangsaan sangat diperlukan untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Perguruan tinggi harus berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai ini, terutama di tengah era polycrisis dunia,” tegasnya.
Dalam mewujudkan Indonesia Emas pada 2045, kata Prof. Rokhmin Dahuri, Perguruan Tinggi harus berperan aktif dalam menghasilkan lulusan yang unggul, hasil penelitian (invensi dan inovasi) yang berguna bagi pembangunan ekonomi dan kehidupan bangsa Indonesia serta umat manusia, dan perbaikan dan pengembangan kapasitas, etos kerja, dan akhlak masyarakat dan aparat pemerintah (ASN).
“Melalui kegiatan Tri DARMA nya, yakni: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat. Dan, di era dunia yang highly interconnected dan borderless, bercirikan VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambiguous), Pemanasan Global dan kerusakan lingkungan yang kian masif dan meluas, dan ketimpangan sosial-ekonomi (kaya vs miskin) yang semakin melebar; PT dan segenap alumninya juga dituntut untuk berkontribusi signifikan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, maju, sejahtera, adil, aman, damai, dan berkelanjutan,” sebutnya.
Key Global Trends
Pada prinsipnya, menurut Prof. Rokhmin Dahuri, ada 5 kecenderungan global (key global trends) yang mempengaruhi kehidupan dan peradaban manusia di abad-21, yakni: (1) jumlah penduduk dunia yang terus bertambah; (2) Industri 4.0 (Revolusi Industri Keempat); (3) Perubahan Iklim Global (Global Climate Change); (4) Dinamika Geopolitik; (5) Era Post-Truth.
“Kelima kecenderungan global diatas mengakibatkan kehidupan dunia bersifat VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, and Ambiguous), bergejolak, tidak menentu, rumit, dan membingungkan (Radjou and Prabhu, 2015),” ujarnya.
Bob Johansen, kata Prof. Rokhmin Dahuri, mengusulkan konsep VUCA Prime sebagai strategi untuk menghadapi tantangan dunia VUCA. VUCA Prime terdiri dari Vision, Understanding, Clarity, dan Agility. Oleh sebab itu, dirinya menekankan agar sistim dan lembaga Pendidikan Tinggi harus mampu mendesain dan memberikan kapasitas kepada para mahasiswanya dan bangsa Indonesia yang dapat mengelola atau mengatasi fenomena VUCA tersebut.
“Kapasitas (knowledge, skills, expertise, dan attitude) yang dibutuhkan untuk mengarungi kehidupan di era VUCA dengan sukses dan bahagia adalah: kreativitas, inovatif, kemampuan beradaptasi, daya lenting (resillience), agility (kegesitan), kolaborasi (teamwork), positive thinking, entrepreneurship, dan iman dan taqwa menurut agama kita masing-masing,” tandasnya.
Selain itu, Prof. Rokhmin Dahuri juga menegaskan Perguruan Tinggi harus mampu menghasilkan lulusan (alumni) yang sukses dan hidup bahagia di dunia serta akhirat kelak. Yakni alumni yang mampu menciptakan lapangan kerja atau bekerja dengan pihak lain, yang menghasilkan barang dan jasa (goods and services) yang berdaya saing tinggi, menghasilkan keuntungan (upah, gaji, salary) yang mensejahterakan dirinya dan pegawai lainnya secara berkelanjutan.
“Pekerjaan dan kiprah kehidupan para alumni yang sukses juga turut bekontribusi signifikan dalam mewujudkan Indonesia Emas, paling lambat pada 2045; dan mewujudkan dunia yang lebih baik dan berkelanjutan, ‘a better and sustainable world’. Alumni yang sukses dan bahagia hidup di dunia dan akhirat adalah mereka yang memilik Iman dan Taqwa (IMTAQ) yang kokoh dan dipraktekkan dalam kehidupan keseharian, menurut agama masing-masing,” paparnya.
Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan positioning mahasiswa dan alumni untar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 di era dunia VUCA. Sejatinya, kondisi Pendidikan Tinggi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dari 104 Perguruan Tinggi (PT) yang mendapatkan status akreditasi institusi unggul dari BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi), tidak ada satupun yang masuk dalam jajaran 100 besar (terbaik) PT berkelas dunia (World Class University) versi QS World University Ranking (WUR) maupun Times Higher Education (THE).
Malaysia sudah sejak lama memiliki satu PT yang bertengger di jajaran 100 besar dunia versi QS WUR, yakni University of Malaya (UM) yang berada di peringkat ke-60 dunia. Singapura memiliki National University of Singapore (NUS) yang bertengger di peringkat-8 dunia, dan Nanyang Tehcnological University (NTU) di peringkat-15 dunia.
Sementara itu, Indonesia baru bisa menempatkan 5 PT yang berada di 500 besar dunia: UI (ke-206), UGM (239), ITB (256), UNAIR (308), dan IPB (426). Kriteria (fitur) utama QS WUR: (1) Reputasi Akademik (40%), (2) Reputasi Dosen (10%), (3) Rasio Mahasiswa – Fakultas (20%), (4) Ideks Sitasi per Fakultas (20%), (5) Rasio Dosen Intrenasional di Fakultas (5%), dan (6) Rasio Mahasiswa Internasional (5%).
Kriteria utama THE: (1) Pembelajaran (29,5%), (2) Lingkungan Penelitian (29%), (3) Kualitas Penelitian (30%), (4) Industri (4%), dan (5) International Outlook (7,5%). Terdapat 4.593 Perguruan Tinggi, 29.413 Program Studi ,8,48 Juta Mahasiswa, terdaftar 312.890 Dosen. Sementara itu, Universitas Tarumenagara menduduki rangking 63 dari 75 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia 2024 versi Edurank (Kemendikbud Ristek, 2024).

Karakter Alumni Perguruan Tinggi
Adapun karakter alumni peguruan tinggi (PT) yang dibutuhkan di abad-21 yang penuh dengan ketidakpastian, dan insya Allah hidupnya sukses serta bahagia adalah mereka yang memiliki 8 karakter (ciri) berikut. “Pertama adalah Kompeten pada bidang IPTEK yang ditempuh selama pendidikannya,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.
Kedua, memiliki kemampuan analisis, sintesis, kritis, kreatif, inovatif, dan problem solving (memecahkan masalah). Ketiga, menguasai dan terampil teknologi digital (menggunakan komputer, HP, dan platform lainnya.
Keempat, memiliki soft skills seperti dapat memelihara dan memompa motivasi diri, adaptive (cepat belajar dan menyesuaikan diri dengan hal baru), agile (gesit, cekatan), bisa bekerja sama, teamwork, disiplin, entrepreneurship, dan leadership.
Kelima, menguasai sedikitnya satu bahasa asing seperti Inggris, Arab, atau Mandarin. Keenam, berakhlak mulia termasuk jujur, amanah, fathonah (cerdas dan visioner), tabligh, berempati, menyayangi sesama makhluk Tuhan YME, sabar, dan bersyukur.
Dan, ketujuh adalah beriman dan takwa kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing. Lebih dari itu, dia menghormati pemeluk agama lain, dan senang hidup harmonis penuh kedamaian dengan sesama insan, tanpa memandang suku, agama, dan latar belakang primordial lainnya.
Kedelapan, terus membaca dan belajar tentang Iptek baru. “Karena, belajar dan menuntut ilmu itu sejatinya harus ‘dari sejak kita lahir hingga sebelum wafat’ (Hadits). Long-life Education,” kata Prof Rokhmin Dahuri.
Anggota DPR-RI Terpilih 2024-2029 itu memaparkan kunci sukses pembangunan sebuah bangsa-bangsa, antara lain: Pertama, punya rencana (Roadmap, Blueprint) Pembangunan yang komprehensif, tepat, dan benar serta diimplementasikan secara berkesinambungan.
“Kedua, setiap komponen bangsa menyumbangkan kemampuan terbaiknya bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa. Ada a critical mass (SDM unggul), minimal 60% total penduduk (Pareto, 1970),” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.
Ketiga, antar komponen bangsa bekerjasama secara sinergis; Keempat, A competent, capable, strong, and good leader (Issard, 1972).
Menurutnya, peta jalan pembangunan bangsa juga mesti mempertimbangkan potensi dan permasalahan bangsa. Kendati demikian, Indonesia memiliki potensi pembangunan (modal dasar) yang besar dan lengkap untuk menjadi negara maju, adil-makmur, dan berdaulat (Indonesia Emas) pada 2045.
Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menjabarkan karakter soft skills, etos kerja, dan akhlak mulia yang dibutuhkan di abad-21, antara lain: Soft-skills tersebut mencakup: Kemampuan memahamo kekuatan dan kelemahan diri; Kemampuan memahami kemauan dan kesukaan orang lain (mitra);
Kemampuan terus memelihara dan memompa motivasi untuk menjadi yang terbaik; Kemamuan analisis dan memecahkan masalah; Kreatif dan inovatif; Kepemimpinan; Kewirausahaan; Kolaborasi; Kemampuan Bahasa asing (Inggris, Arab, Mandarin, dan lain-lain). Lalu etos kerja mencakup: kerja keras; rajin; disiplin; tahan banting, tak mudah putus asa, dan pantang menyerah; antisipatif; adaptif; dan agile (lincah).
“Adapun akhlak mulia terdiri dari: shidiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), fathonah (cerdas dan visioner), mampu menyampaikan dan berbagi kelebihan kepada orang lain, sabar dan syukur, qana’ah (sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya), tidak iri dan dengki, serta tidak pemarah dan pendendam,” tuturnya.
Kemudian, peningkatan kualitas SDM yang saat ini sudah bekerja, yakni: 1. Upskilling untuk jenis-jenis pekerjaan yang masih exis saat ini, tapi dengan perkembangan IPTEK baru, diperlukan peningkatan pengetahuan, skills (keterampilan), expertise (keahlian), dan etos kerja. Melalui training di perusahaan (tempat kerja) masing-masing, BLK (Balai Latihan Kerja), perusahaan konsultan, SMK, Perguruan Tinggi Vokasi, dan lainnya.
2. Reskilling untuk menambah (mengubah) pengetahuan, skills, expertise, dan etos kerja baru, seiiring dengan pesatnya perkembangan IPTEK di abad-21 ini, khususnya terkait dengan jenis-jenis teknologi Industry 4.0, seperti: Digital Coding, Big Data, IoT, AI, Blockchain, Cloud Computing, Robotics, Drone, Advanced Materials, Biotechnology, dan Nanotknologi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dosen Kehormatan Mokpo National University itu mengingatkan pentingnya Inovasi, antara lain: 1. Mengembangkan Keterampilan Adaptif dan Fleksibilitas. Tingkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan tantangan baru.
2. Menguasai Teknologi dan Literasi Digital. seperti kecerdasan buatan (AI), big data, dan Internet of Things (IoT). Literasi digital mencakup kemampuan menggunakan alat dan platform digital secara efektif.
3. Pendidikan Berkelanjutandan Lifelong Learning. Peningkatan Keterampilan (Upskilling) melalui kursus, sertifikasi, dan pelatihan, serta mengadopsi konsep pembelajaran berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan sesuai perkembangan global.
4. Meningkatkan Keterampilan Sosial dan Emosional. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, membangun hubungan kerja yang efektif, dan meningkatkan Inteligensi Emosional (EQ). 5. Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah. Asah kemampuan berpikir kritis dan ciptakan solusi inovatif untuk masalah yang kompleks.
6. Kewirausahaan dan Inovasi. Kembangkan mentalitas kewirausahaan dan dorong inovasi dalam setiap aspek pekerjaan. 7. MemperkuatJaringandan KolaborasiGlobal. Bangun dan perluas jaringan profesional serta kolaborasi internasional.
8. MemahamiIsuGlobal dan BudayaMultinasional. Memahami isu-isu global seperti perubahan iklim, krisis kemanusiaan, dinamika politik global, dan kemampuan beradaptasi dengan budaya multinasional.
9. Membangun Kesehatan Mental dan Fisik. Mengelola stres, menjaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi, mengadopsi gaya hidup sehat dengan olahraga, diet seimbang, dan istirahat yang cukup. 10. Berpikir Visioner dan Berwawasan Jauh. Miliki visi jangka panjang dan rencanakan langkah strategis untuk masa depan.
Pada kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan tantangan kehidupan pada abad ke-21 makin kompleks. Karena itu, lulusan perguruan tinggi diharuskan memiliki profil mumpuni agar mampu eksis di abad ke-21. “Paling tidak, ada 10 karakter alumni perguruan tinggi yang dibutuhkan di Abad-21 ,” katanya.
10 karakter tersebut antara lain: 1. Kompeten pada bidang IPTEK yang ditempuh selama pendidikannya, 2. Memiliki kemampuan analisis, sintesis, kritis, kreatif, inovatif, dan problem solving, 3. Menguasai dan terampil teknologi digital (menggunakan komputer, HP, dan platform lainnya), 4. Memiliki soft skills : memompa motivasi diri, bisa bekerjasama, teamwork, disiplin, dan leadership), 5. Menguasai sedikitnya satu bahasa asing (seperti Inggris, Arab, atau Mandarin.
6. Berakhlak mulia (jujur, amanah, fathonah/visioner, tabligh, berempati, kanaah, sabar, dan bersyukur), 7. Beriman dan taqwa kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing, 8. Hidup harmonis penuh kedamaian dengan sesama insan, 9. Keinginan untuk Belajar Sepanjang Hayat (Lifelong Learning), 10. Memahami isu-isu lingkungan dan sosial, berpartisipasi dalam inisiatif untuk keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.
Untuk itu, tambah Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) tersebut, para mahasiswa (calon alumni) harus membekali dirinya dengan sebaik-baiknya. “Keahlian alumni PT yang dibutuhkan di abad ke-21 mencakup hard skills maupun soft skills,” tuturnya.
Hard skills itu terdiri dari iptek yang dapat menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan manusia (pangan, sandang, perumahan, kesehatan dan wellness, pendidikan, energi, mineral, transportasi, serta rekreasi dan hiburan) yang berdaya saing. “Selain itu, iptek yang berhubungan dengan Revolusi Industri 4.0,” kata ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.
Adapun soft skills mencakup critical thinking (berpikiri kritis), analytical thinking (berpikir analitis), problem solving (pemecahan masalah), teamwork (kerja tim), entrepreneurship (kewirausahaan), serta iman dan takwa menurut agama masing-masing.
“Karakter tersebut, mencakup iman dan takwa kepada Tuhan Yang Mahaesa menurut agama masing-masing; memiliki kompetensi iptek sesuai program strudi/fakultas (hard skills); dan memiliki jasmani dan rohani yang sehat, dan kemampuan soft skills. Selain itu, menguasai iptek di era industri 4.0, dan memiliki etos kerja unggul dan akhlak mulia,” ujarnya.
Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan, Iman dan taqwa kepada Allah SWT, Tuhan yang menciptakan kita manusia dan alam semesta, ini sangat penting supaya kita terus istiqomah mengerjakan kebajikan, menuntut dan mengamalkan IPTEK, menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, merawat lingkungan hidup, dan amal saleh lainnya. Juga agar kita terus konsisten menjauhi beragam jenis kemaksiatan, korupsi, kebohongan, kedzaliman, kemalasan, iri, dengki, kemalasan, dan larangan Tuhan yang lainnya.
“Iman dan Taqwa juga membuat kita ikhlas, sabar, dan tangguh dalam menghadapi segala bentuk ujian duniawi. Sebab, baginya kehidupan di dunia ini hanya sementara dan panggung sandiwara. Sedangkan, kehidupan yang sejati, adil, dan abadi adalah di akhirat kelak,” tegasnya.
Pemimpin yang ambidextrous/Agility perlu memiliki kompetensi HAVE (Humble, Adaptable, Visionary, Engaged), yaitu kemampuan untuk menerima masukan dan mengakui bahwa orang lain lebih tahu dari Anda. Penerimaan bahwa perubahan itu konstan dan bahwa mengubah pikiran Anda berdasarkan informasi baru merupakan kekuatan daripada kelemahan.
Tujuan yang jelas tentang arah jangka panjang, bahkan dalam menghadapi ketidakpastian jangka pendek. Kemauan untuk mendengarkan, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal yang dikombinasikan dengan rasa minat dan keingintahuan yang kuat terhadap tren yang sedang berkembang.
Sedangkan 3 perilaku yang cerdas sangat penting bagi perusahaan untuk sukses dalam persaingan di lingkungan yang dinamis, yaitu hyperawareness, fast execution, informed decision-making. “Kompetensi ini terwujud dalam perilaku bisnis yang terus berubah, dan pemimpin harus menguasai pemanfaatan kompetensi ini,” tegasnya.
Kemudian mengubah pola pikir melalui Cognitive (Berpikir Kritis, Perencanaan dan Cara Kerja, Komunikasi, Fleksibilitas Mental), Interpersonal (Menggerakkan Sistem, Mengembangkan Hubungan, Efektivitas Kerja Tim), Self Leadership (Kesadaran Diri dan Manajemen Diri, Kewirausahaan, Pencapaian Tujuan), Digital (Kesejahteraan Digital dan Kewarganegaraan, Penggunaan dan Pengembangan Perangkat Lunak, Memahami Sistem Digital).
Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menjabarkan jenis-jenis pekerjaan terdiri: 1. Wirausaha (entrepreneur) menciptakan lapangan kerja sendiri. “Entrepreneurship, menjadi jalan yang paling efektif di tengah himpitan ekonomi yang semakin besar dan lapangan pekerjaan yang semakin sempit untuk membangkitkan kembali kehidupan perekonomian masyarakat. Bagi Individu, berwirausaha (menjadi entrepeneur) berarti menciptakan lapangan keja, menolong orang lain, dan menjadi “tangan di atas” menciptakan kebahagiaan. “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah” (HR. Bukhari),” paparnjya.
2. ASN (Aparat Sipil Negara): Kementerian dan Lembaga Negara, Pemprov dan Pemkab/Pemkot, TK, SD, SLTP, SLTA, Perguruan Tinggi Negeri, BRIN dan BRIDA, dll, 2. BUMN dan BUMD, 3. Perusahaan Swasta Nasional dan Internasional, 4. Koperasi dan UMKM, 5. Yayasan, 6. Konsultan, 7. LSM lokal, nasional, dan internasional, 8. Dll.
Selain itu, ada 12 (duabelas) kelompok IPTEK, keterampilan (skills), dan keahlian (expertise) yang dibutuhkan di abad-21 ini. Antara lain: Pertama, Teknologi dan Manajemen untuk memproduksi produk dan jasa bagi pemenuhan kebutuhan dasar manusia: pangan, sandang, rumah, kesehatan, pendidikan, dan rekreasi (wisata).
Kedua, Pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersier manusia: peralatan rumah tangga, komputer, kendaraan, dll. Ketiga, Pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, jaringan listrik, gas, dan Telkom. Keempat, Transportasi, komunikasi, dan konektivitas digital. Kelima, Pertahanan dan keamanan, termasuk industri pertahanan.
Keenam, Eksplorasi, produksi, pengolahan, dan distribusi mineral dan bahan tambang. Ketujuh, Eksplorasi, produksi, pengolahan, dan distribusi berbagai jenis energi terbarukan dan tidak terbarukan. Kedelapan, Teknologi dan manajemen lingkungan untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Kesembilan, Mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim dan bencana alam lainnya. Kesepuluh, Teknologi Industry 4.0 dan Society 5.0 seperti IoT. Kesebelas, Manajemen ekonomi, investasi, bisnis, dan perdagangan. Keduabelas, Ilmu-ilmu dasar yang mendukung pengembangan kesebelas kelompok IPTEK terapan.

Modal Dasar Pembangunan Indonesia
Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu menjelaskan, Indonesia memiliki modal dasar yang lengkap dan besar untuk menjadi bangsa maju, adil-makmur, dan berdaulat, yaitu: Pertama, Bonus Demografi. Jumlah penduduk 281,6 juta orang (terbesar keempat di dunia) dengan jumlah kelas menengah yang cukup besar, dan dapat bonus demografi dari 2020 – 2040 sebagai potensi human capital (daya saing) dan pasar domestik yang luar biasa besar
Kedua, Kaya Sumber Daya Alam. Kaya Sumber Daya Alam (SDA) baik di darat maupun di laut. Ketiga, Posisi Geoekonomi Dan Geopolitik 45% dari total perdagangan barang global bernilai 15 trilyun dolar AS/tahun dikapalkan melalui ALKI (UNCTAD, 2012). “Selat Malaka (ALKI-1) merupakan jalur transportasi laut terpadat di dunia, 200 kapal/hari,” terangnya.
Keempat, Rawan Bencana Alam. 70% gunung berapi dunia, tsunami, dan hidrometri à mestinya sebagai tantangan yang membentuk etos kerja unggul (inovatif, kreatif, dan entrepreneur) dan akhlak mulia bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan, United States Trade Representative (USTR) menyebut keanggotaan dalam G20 menunjukkan negara-negara anggotanya memiliki PDB diatas USD 1 trilyun.
Posisi Indonesia di G20 merupakan salah satu Negara berkembang yang menjadi anggota G20; satu-stunya anggota ASEAN dan G20 yang berperan penting dalam pemulihan kesehatan dan perekonomian dunia;
Peringkat 10 dalam daftar paritas daya beli (Purchasing Power Parity) dan perekomian di antara anggota G20 dunia; diakuai menjadi kekuatan pasar baru (New Estabilished Emerging Market) dengan PDB di atas US$ 1 Triliun; Presidensi G20 tahun 2022 merupakan yang pertama kali bagi Indonesia dan merupakan kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinan Indonesia di kancah global.
Tantangan Pembangunan Indonesia
Lebih lanjut, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, alhamdulillah bangsa Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami perbaikan hampir di semua bidang kehidupan. “Contohnya, kalau pada 1945 – 1955 sekitar 70 persen rakyat Indonesia masih miskin, pada 1970 jumlah rakyat miskin menurun menjadi 60 persen,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri, merujuk data BPS yang diolah oleh RD Institute (2023).
Selanjutnya, pada 2004 tingkat kemiskinan turun lagi menjadi 16 persen, tahun 2014 mejadi 12 persen, dan tahun 2019 tinggal 9,2 persen. Jumlah penduduk miskin berkurang 10,88 juta jiwa dalam kurun 20 tahun terakhir. Tingkat kemiskinan pun turun dari 16,66 % menjadi 9,03%. Namun, dampak dari pandemi Covid-19, pada 2022 tingkat kemiskinan meningkat lagi menjadi 9,6% atau sekitar 26,4 juta orang.
Saat ini, menurut World Bank, ukuran ekonomi atau PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia mencapai 1,1 trilyun dolar AS atau terbesar ke-16 di dunia. Dari 200 negara anggota PBB, hanya 19 negara dengan PDB US$ > 1 triliun.
Perhitungan angka kemiskinan atas dasar garis kemiskinan versi BPS (2024), yakni pengeluaran Rp 582.932/orang/bulan. Garis kemiskinan = Jumlah uang yang cukup untuk seorang memenuhi 5 kebutuhan dasarnya dalam sebulan. Menurut garis kemiskinan Bank Dunia (3,2 dolar AS/orang/hari atau 96 dolar AS/orang/bulan (Rp 1.440.000)/orang/bulan), jumlah orang miskin pada 2023 sebesar 111 juta jiwa (37% total penduduk).
Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan permasalahan & tantangan pembangunan Indonesia. Pertama. Pertumbuhan ekonomi rendah (<7% per tahun). Kedua, Pengangguran & Kemiskinan. Ketiga, Ketimpangan ekonomi terburuk ke-3 di dunia. Keempat, Disparitas pembangunan antar wilayah. Kelima, Fragmentasi sosial: Kadrun vs Cebong, dll. Keenam, Deindustrialisasi. Ketujuh, Kedaulatan pangan, farmasi, dan energy rendah. Kedelapan, Daya saing & IPM rendah. Kesembilan, Kerusakan, lingkungan & SDA. Kesepuluh, Volatilitas global (perubahan iklim, China vs AS, Industry 4.0).
Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi (terburuk) di dunia, Menurut laporan Credit Suisse’s Global Wealth Report 2019, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 44,6% kue kemakmuran secara nasional, sementara 10% orang terkaya menguasai 74,1%. Kekayaan 4 orang terkaya (US$ 25 M = Rp 335 T) sama dengan total kekayaan 100 juta orang termiskin (40% penduduk) Indonesia. (Oxfam, 2017). “Sekitar 0,2% penduduk terkaya Indonesia menguasai 66% total luas lahan nasional (KPA, 2015),” ungkapnya.
Bahkan sekarang, sambungnya, 175 juta ha (93% luas daratan Indonesia) dikuasai oleh para konglomerat (korporasi) nasional dan asing (Institute for Global Justice, 2016). Pertumbuhan Ekonomi dan Kontribusi PDRB Menurut Pulau, Triwulan III dan IV-2022. masih di dominasi oleh kelompok Provinsi Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB 2023 sebesar 57,05% dan 2024 TW I Sebesar 57,70%.
Disisi lain, sambungnya, deindustrilisasi terjadi di suatu negara, manakala kontribusi sektor manufakturnya menurun, sebelum GNI (Gross National Income) perkapita nya mencapai US$ 12.536. “Hingga 2021, peringkat Global Innovation Index (GII) Indonesia berada diurutan ke-87 dari 132 negara, atau ke-7 di ASEAN,” kata Prof. Rokhmin Dahuri yang juga Dosen Kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu.
Masalah lainnya kekurangan rumah sehat dan layak huni. Dari 65 juta Rumah Tangga, menurut data BPS tahun 2019 dimana 61,7 persen tidak memiliki rumah layak huni. “Padahal, perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (human basic needs) yang dijamin dalam Pasal 28, Ayat-h UUD 1945, bahkan hingga 2021, Indeks Pembangunan Manusia Indonesia berada diurutan ke-114 dari 191 negara, atau peringkat ke-5 di ASEAN,” terangnya.
Disisi lain, biaya yang diperlukan orang Indonesia untuk membeli makanan bergizi seimbang sebesar Rp 22.126/hari atau Rp 663.791/bulan. Harga tersebut berdasarkan pada standar komposisi gizi Healthy Diet Basket (HDB) (FAO, 2020).
Yang sangat mencemaskan, sambungnya, adalah bahwa 30% anak-anak kita mengalami stunting, 17,7% bergizi buruk, dan 10,2% berbadan kurus akibat kurang makanan bergizi (Kemenkes dan BKKBN, 2022). Satu dari tiga anak di Indonesia mengalami stunting. Jika tidak segera diatasi maka generasi mendatang fisiknya lemah dan kecerdasannya rendah menjadi “a lost generation”.
“Atas dasar perhitungan diatas; ada 183,7 juta orang Indonesia (68% total penduduk) yang tidak mampu memenuhi biaya teresebut,” terang Prof. Rokhmin Dahur mengutip Litbang Kompas, 2022 di Harian Kompas, 9 Desember 2022.
Kondisi Perekonomian Indonesia terkini mengalami kecenderungan pertumbuhan ekonomi menurun. Pertumbuhan ekonomi – RI pada 2023 hanya 5,05% lebih rendah dari pada 2022 sebesar 5,31% (BPS, 2024). Pertumbuhan ekonomi pada 2024 dan 2025 diperkirakan sekitar 4,9% (Bank Dunia, 2024).
Tren penurunan pertumbuhan ekonomi itu disebabkan baik oleh faktorfaktor domestik (kenaikan harga barang pokok khususnya beras dan komoditas pangan utama lainnya, penurunan daya beli masyarakat, penurunan jumlah kelas menengah, deindustrialisasi, rendahnya daya saing, dan PHK) maupun oleh faktor- faktor eksternal (Perubahan Iklim Global dan ketegangan geopolitik) yang mengakibatkan terganggunya inevestasi dan ekspor Indonesia. Pertumbuhan Ekonomi = f (Investasi, Ekspor, Konsumsi, dan Impor).
Bank Dunia dalam Global Economic Prospects edisi Januari 2024 menyoroti suramnya perekonomian global. Pada 2022 pertumbuhan ekonomi global mencapai 2,9%. Kemudian, pada 2023 menurun menjadi 2,6%, dan pada 2024 diperkirakan akan menurun lagi menjadi sekitar 2,4%. Melemahnya pertumbuhan ekonomi global telah berdampak pada penurunan harga komoditas, khususnya Batubara dan CPO, sehingga berakibat pada penurunan nilai ekspor RI, melemahnya geliat industri manufaktur, dan melonjaknya PHK.
Sejak 2020 (Covid-19) hingga sekarang gelombang PHK terus meningkat. Pada 2022, PHK sebanyak 25.144 orang. Kemudian, pada 2023 PHK meningkat menjadi 64.855 orang, dan per Mei 2024, jumlah PHK mencapai 69.472 orang (Kemenaker, 2024). PHK Sebagian besar terjadi di industri tekstil dan produk tekstil (TPT).
Dalam 10 tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja di sektor industri manufaktur kian menyusut. Pada 2013, setiap Rp 1 trilyun investasi mampu menyerap 4.594 pekerja. Namun, pada 2022, setiap Rp 1 trilyun investasi, hanya mampu menyerap 1.081 pekerja (APINDO, 2024). Penyebabnya, antara lain karena investasi di sektor riil tradable semakin berkurang.
Dalam 10 tahun terakhir, kebanyakan investasi dan bisnis terjadi di sektor non-riil (sektor keuangan) dan riil non-tradable (sektor jasa). Selain itu, digitilisasi dan otomatisasi juga turut mengurangi kesempatan kerja. Akibatnya, setiap 1% pertumbuhan ekonomi hanya dapat menyerap 200.000 orang (tenaga kerja). Sementara, sektor riil tradable (industri manufaktur, pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan, dan ESDM), setiap 1% pertumbuhan ekonomi mampu menyediakan 400.000 orang tenaga kerja (Bappenas, 2020).
Selanjutnya, Anggota Dewan Pakar MN-KAHMI itu menguraikan kondisi perekonomian terkini (2024) Indonesia, yaitu: Alarm Kinerja Industri Manufaktur, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index = PMI) manufaktur bulan Juni 2024, yang dirilis S & P Global, mengalami penurunan, meskipun industri manufaktur masih dalam zona ekspansi (tercermin dari angka PMI yang masih diatas 50).
PMI bulan Juni sebesar 50,7, mendekati ambang batas menuju kontraksi industri manufaktur (PMI = 50). PMI Juni itu menurun 1,4 dari PMI Mei sebesar 52,1. Kemudian, pada Juli berada pada 49,3 (zona kontraksi, PMI < 50), turun 1.4 poin dari bulan sebelumnya (Juni). Kontraksi aktivitas manufaktur terjadi setelah mampu bertahan di zona (level) ekspansi selama 34 bulan berturut-turut.
“Padahal, sektor industri manufaktur merupakan tulung punggung perekonomian Indonesia, yang menyumbangkan 18,7% PDB dan 72,24% total ekspor RI. Sektor ini juga banyak menyerap banyak tenaga kerja,” tandasnya.
Selanjutnya, angka PMI Juli merupakan PMI terendah sejak Nopember 2022. Padahal, sektor industri manufaktur merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, yang menyumbangkan 18,7% PDB dan 72,24% total ekspor RI. Sektor ini juga menyerap banyak tenaga kerja. Penurunan kinerja sektor Industri Manufaktur berdampak negatip terhadap kinerja ekspor dan neraca perdagangan yang akhir-akhir ini mencemaskan.
Ekspor produk manufaktur non-migas, yang terus meningkat sepanjang 2019 hingga 2022, sejak awal 2023 berbalik terkontraksi sebesar 11,95% akibat perlambatan ekonomi global dan rendahnya daya saing produk manufaktur RI (terutama tekstil dan produk tekstil).
Sementara itu, neraca perdagangan, meskipun masih menunjukkan tren surplus selama 49 bulan (4 tahun terakhir) secara berturut-turut, nilai surplusnya kian tergerus, lantaran semakin mengecilnya selisih nilai ekspor dan impor. Pertumbuhan nilai ekspor yang double digit pada 2022, tidak berlanjut sejak awal 2023, karena sebelumnya ekspor RI banyak ditopang oleh komoditas alias raw materials (seperi CPO, batubara, nikel, rumput laut, dan udang).
Defisit perdagangan yang melebar akan memperparah twin deficit yang dialami Indonesia, yakni defisit neraca transaksi berjalan dan defisit APBN, yang pada gilirannya akan berdampak negatip terhadap ketahanan ekonomi makro (eksternal) Indonesia.
Penurunan kinerja industri manufaktur selain berdampak negatip pada nilai ekspor, neraca perdagangan, dan twin deficit, juga telah mengakibatkan gelombang PHK masal di seluruh wilayah Nusantara, khususnya Jawa, dan lebih khusus lagi di DKI, Jabar, Banten, dan Jatim.
Penurunan PMI bukan hanya dialami Indonesia, tetapi merupakan fenomena global. Namun, Indonesia menderita penurunan PMI yang paling signifikan. Oleh sebab itu, tidak hanya penurunan permintaan global yang menyebabkan penurunan tajam PMI RI, tetapi juga lantaran rendahnya daya saing produk manufaktur RI.
Selain itu, kenaikan harga bahan baku lantaran melemahnya nilai tukar rupiah, kenaikan harga solar, dan tingginya biaya logistik juga menjadi penyebab turunnya PMI. “ Disisi lain, utang Pemerintah Yang Sangat Besar dan Terus Meningkat: Membahayakan Perekonomian Indonesia. Sementara itu, tingkat utang pemerintah dan swasta yang semakin besar dapat mengikis kepercayaan para investor untuk berinvestasi di Indonesia,” tegasnya.
Utang pemerintah yang tinggi akan membatasi ruang fiskal negara (karena sebagian APBN digunakan untuk bayar utang: cicilan pokok maupun bunganya), serta menghambat investasi publik dan swasta (Aaditya Mattoo, Kepala Ekonomi Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Bank Dunia, 2024).
Mengutip World Bank, 2024, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan, setiap kenaikan utang sebesar 10% poin akan menurunkan laju pertumbuhan investasi sebesar 1,1% poin (East Asia – Pacific Economic Update April 2024 “ Firm Foundation of Growth”. Menurut laporan Credit Suisse’s Global Wealth Report 2019, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 44,6% kue kemakmuran secara nasional, sementara 10% orang terkaya menguasai 74,1%.

Penyebab Ketertinggalan
Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (ASPEKSINDO) itu menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan Indonesia tertinggal dibandingkan sejumlah bangsa lain. “Penyebab ketertinggalan Indonesia itu ad fakror internal, ada pula faktor eksternal,” kata Prof Rokhmin Dahuri.
Ia menyebutkan, faktor internal tersebut yaitu belum ada “Road Map Pembangunan Nasional yang Komprehensif, Tepat, dan Benar” yang dilaksanakan secara berkesinambungan Kualitas SDM (knowledge, skills, expertise, kapasitas inovasi, dan etos kerja) relatif rendah Akhlak Bangsa belum baik (budaya “sms”, instan, susah kerjasama, tidak amanah, KKN, dan hedonis).
“Selain itu, belum ada pemimpin yang capable, negarawan, dengan IMTAQ kokoh dan akhlak mulia. Fragmentasi sosial masyarakat,” ujarnya.
Adapun faktor eksternal, terangnya, antara lain keserakahan bangsa-bangsa maju dan kapitalisme cenderung menjajah secara politik - ekonomi negara berkembang disrupsi akibat kemajuan IPTEK yang sangat pesat (industri 4.0), global warming, dan tensi geopolitik pertarungan ideologi.
Sayangnya, kata Prof Rokhmin Dahuri, pada 2018-2022 indeks daya saing Indonesia semakin menurun, hingga 2022 diurutan ke-44 dari 141 negara, atau peringkat ke-4 di ASEAN. “Hampir semua indikator yang terkait dengan kapasitas Iptek, riset, inovasi, dan kualitas SDM bangsa Indonesia masih rendah (tertinggal),” ujarnya.
Implikasi dari rendahnya kualitas SDM, kapasitas riset, kreativitas, inovasi, dan entrepreneurship adalah proporsi ekspor produk manufaktur berteknologi dan bernilai tambah tinggi hanya 8,1 persen. Selebihnya, 91,9 persen berupa komoditas (bahan mentah) atau SDA yang belum diolah. “Sementara, Singapura mencapai 90 persen, Malaysia 52 persen, Vietnam 40 peren, dan Thailand 24 persen,” urai Rokhmin mengutip data UNCTAD dan UNDP, 2021.
Hasil survei Program International for Student Assessment (PISA) 2022, yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar kelas 3 SLTP seluruh dunia, Indonesia menduduki peringkat ke-69 dari 81 negara. Sedangkan dari hasil riset tingkat literasi Negara di dunia yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Riset yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Riset yang dilakukan oleh UNESCO (via World Bank) yang diolah oleh Our World in Data pada 2021, menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-100 dari 207 negara. Hingga 2019, Indonesia berada diurutan ke-75 dari 137 negara atau peringkat ke-6 di ASEAN.
Hingga 2023, peringkat GII (Global Innovation Index ) Indonesia berada diurutan ke-61 dari 132 negara, atau ke-6 di ASEAN. Pada 2024, indeks daya saing Indonesia meningkat, diurutan ke[1]27 dari 67 negara, atau peringkat ke-3 di ASEAN.
World Digital Competitiveness melakukan penilaian adopsi teknologi untuk peningkatan ekonomi dan efisiensi di berbagai bidang diukur dari faktor pengetahuan, teknologi, dan kesiapan adopsi teknologi untuk masa depan. Pada 2023, Indonesia berada pada urutan ke-45 dari 64 negara. Implikasi dari Rendahnya Kualitas SDM, Kapasitas Riset, Kreativitas, Inovasi, dan Entrepreneurship adalah: Proporsi ekspor produk manufaktur berteknologi dan bernilai tambah tinggi.
Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menguraikan sepuluh risiko terbesar yang dihadapi dunia dalam dua tahun ke depan, yaitu 1. Misinformasi & Disinformasi, 2. Kejadian Ekstrem, 3. Polarisasi Masyarakat, 4. Ketidakamanan Siber, 5. Konflik Bersenjata Kepentingan, 6. Kurangnya Peluang Ekonomi, 7. Inflasi, 8. Kemerosotan Ekonomi, 9. Pencemaran, 10. Migrasi Yang Tidak Sukarela.

Menuju Indonesia Emas 2045
Menurutnya, peta jalan pembangunan bangsa untuk menuju Indonesia Emas 2045juga mesti mempertimbangkan potensi dan permasalahan bangsa. Kendati demikian, Indonesia memiliki potensi pembangunan (modal dasar) yang besar dan lengkap untuk menjadi negara maju, adil-makmur, dan berdaulat (Indonesia Emas) pada 2045.
Dia juga menekankan bahwa perguruan tinggi terutama Universitas Tarumanegara harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan kerja dan industri. “Hal ini bisa dilakukan dengan memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi dengan industri, membuka program magang, atau menawarkan kurikulum yang relevan dan terkini,” tandasnya.
Indonesia Emas 2045 akan terwujud jika Indonesia mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi (rata-rata > 7% per tahun), berkualitas (menyerap banyak tenaga kerja), inklusif (menyejahterakan seluruh rakyat secara adil), ramah lingkungan, dan berkelanjutan (sustainable). “Semua itu dapat diwujudkan melalui implementasi Ekonomi Hijau, Ekonomi Digital, dan Ekonomi Spiritual (Pancasila),” jelasnya
Lebih lanjut, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, peta jalan pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Selama 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi-RI stagnan di angka sekitar 5%, masih jauh dari potensi ekonomi-RI yang sesungguhnya, 8% - 10% per tahun (Mc. Kinsey, 2022; FE-UI, 2024).
“Ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi sangat dominan bergantung pada konsumsi rumah tangga atau belanja masyarakat, sekitar 56%; dan ekspor bahan mentah,” jelasnya mengutip Prof. Chatib Basri, 2024.
Sedangkan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 mestinya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 – 2024 berkisar 6 – 7 persen per tahun; 2024 – 2029 tumbuh sekitar 8%; 2029 – 2034 tumbuh sekitar 7%; dan 2034 – 2045 timbuh sekitar 6,5% .
Angka pertumbuhan ekonomi ini bisa dicapai dengan kontribusi investasi terhadap PDB sebesar 41 – 48 persen. Sayangnya, kontribusi investasi terhadap PDB hingga kini baru mencapai 35% (Prof. Chatib Basri, 2024).
Hal ini disebabkan karena ICOR Indonesia masih terlalu tinggi, alias tidak efisien (mahal) dan tidak efektif akibat birokrasi pemerintah yang sarat KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme); dan Iklim Investasi yang kurang kondusif.
Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan, persyaratan dari Negara Middle-Income menjadi Negara Maju, Adil-Makmur dan Berdaulat, yaitu: Pertama, pertumbuhan ekonomi berkualitas rata-rata 7% per tahun selama 10 tahun. Kedua, I + E > K + Im. Ketiga, Koefisien Gini kurang 0,3 (inklusif). Keempat, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia masih mendominasi ekspor rumput laut kering. Sebanyak 66,61% produk ekspor rumput laut Indonesia didominasi oleh rumput laut kering, sedangkan rumput laut olahan (karagenan dan agar-agar) masih sebesar 33,39%. Pada tahun 2023, Indonesia memproduksi rumput laut basah sebanyak 10,7 juta ton. Pemanfaatan rumput laut olahan selama ini paling banyak digunakan untuk produk makanan dan minuman sebesar 77%, sedangkan untuk farmasi, kosmetik, dan lainnya hanya sebesar 23%. Industri ini perlu lebih adaptif terhadap perubahan dan perkembangan pasar.
Dari dominasi impor dan konsumsi ke investasi, produksi, dan ekspor. Karena sekitar 2/3 perdagangan global berjalan melalui GVC = Global Value Chain (Rantai Nilai Global). Maka, bila Indonesia ingin memacu pertumbuhan ekonominya diatas 7% per tahun, produk dan jasa (goods and services) buatan Indonesia harus terintegrasi ke dalam GVC. Artinya: produk dan jasa Indonesia mesti berdaya saing tinggi (Kualitas top, Harga relatif murah, dan Suplai mampu memenuhi kebutuhan konsumen/pasar setiap saat) → Solusinya: INDUSTRIALISASI!
Partisipasi Indonesia dalam GVC sebagian besar terbatas pada proses manufaktur sederhana seperti perakitan, dan tingkat partisipasinya rendah dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Pangsa ekspor global produk manufaktur Indonesia pada tahun 2021 adalah 0,38%, dibandingkan dengan Vietnam sebesar 2%, dan Malaysia sebesar 2,9%. Pangsa ekspor manufaktur Indonesia kurang dari 1%, dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang masing-masing mencapai 1,5%, dan Vietnam sebesar 3,5% (UNCTAD, 2022).
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan, Indonesia merupakan Negara Kepulauan terbesar di bumi, terdiri 34 Provinsi Pesisir (100%), 327 Kabupaten Pesisir (63,62%), 2,232 Kecamatan Pesisir (31,78%), 12,852 Desa Pesisir (15,31%).
Territorial Sea Area: 3.4 milion km2 • Luas area ZEE: 3 million km2 • Panjang Gris Pantai: 108,000 km (Kedua terpanjang di dunia setelah Kanada) • Jumlah Pulau: 17,504 pulau (16,056 dengan nama & 1,448 tanpa nama).
Memiliki sebelas sektor Kelautan terdiri 1. Perikanan Tangkap, 2. Perikanan Budidaya, 3. Industri Pengolahan Hasil Perikanan, 4. Industri Bioteknologi Kelautan, 5. ESDM, 6. Pariwisata Bahari, 7. Perhubungan Laut, 8. Sumberdaya Wilayah Pulau-Pulau Kecil, 9. Coastal Forestry, 10. Industri Jasa Maritim, 11. Sumberdaya non-konvensional. “Total potensi ekonomi sebelas sektor Kelautan Indonesia: US$ 1,4 triliun/tahun atau 5 kali lipat APBN 2024 (Rp 3.400 triliun = US$ 212,5 miliar) atau 1,2 PDB Nasional saat ini,” terangnya.
Adapun Domain Bioteknologi Kelautan menurut Prof Rokhmin meliputi: 1. Bioprospeksi dan ekstraksi senyawa bioaktif (produk alami) dari biota laut untuk bahan baku industri makanan & minuman nutraceutical (sehat), farmasi, kosmetik, cat film, biofuel dan berbagai industri lainnya.
Di perairan Indonesia terdapat 13 spesies mikroalga yang mengandung lemak (senyawa hidrokarbon) yang berpotensi sebagai biofuel. Empat Spesies Utama: Nannocholoropsis oculata (24%), Scenedesmus (22%), Chlorella (20%), dan Dunaliela salina (15%) (Kawaroe, 2010).
Total potensi ekonomi sebelas sektor Kelautan Indonesia: US$ 1,4 triliun/tahun atau 5 kali lipat APBN 2024 (Rp 3.400 triliun = US$ 212,5 miliar) atau 1,2 PDB Nasional saat ini. Lapangan kerja: 45 juta orang atau 40% total angkatan kerja Indonesia.
Pada 2018 kontribusi ekonomi kelautan bagi PDB Indonesia sekitar 14% (Kemenko Marves, 2018). Negara-negara lain dengan potensi kelautan lebih kecil (seperti Thailand, Korsel, Jepang, Maldives, Norwegia, dan Islandia), kontribusinya > 30%.
Bidang Industri Bioteknologi Kelautan, antara lain: 1. Bioprospeksi dan ekstraksi senyawa bioaktif (produk alami) dari biota laut untuk bahan baku industri makanan & minuman nutraceutical (sehat), farmasi, kosmetik, cat film, biofuel dan berbagai industri lainnya;
2. Rekayasa genetika untuk menghasilkan ikan, udang, kepiting, moluska, rumput laut, tanaman pangan dan biota lainnya yang unggul: SPF (Specific Pathogen Free), SPR (Specific Pathogen Resistance), dan Fast Growing; 3. Rekayasa genetika mikroorganisme (bakteri) untuk bioremediasi lingkungan yang tercemar; 4. Konservasi: genetika, spesies dan ekosistem
Hingga saat ini, pemanfaatan Bioteknologi Kelautan Indonesia masih sangat rendah (< 10% dari total potensinya). Banyak produk industri bioteknologi kelautan yang bahan bakunya berasal dari Indonesia diekspor ke negara lain. Negara pengimpor tersebut kemudian mengolahnya menjadi berbagai produk jadi seperti obat-obatan, kosmetik, serta makanan dan minuman sehat yang selanjutnya diekspor kembali ke Indonesia. Contoh: teripang, squalene, minyak ikan, dan Omega-3.
“Jika Potensi Blue Economy didayagunakan dan dikelola berbasis inovasi IPTEKS dan manajemen profesional, maka sektor-sektor ekonomi kelautan diyakini akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam mengatasi segenap permasalahan bangsa, dan mewujudkan Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia serta Indonesia Emas paling lambat pada tahun 2045,” tegasnya.
Spiritual Economy (Ekonomi Pancasila)
Ekonomi Spiritual (Agama) Ekonomi spiritual didasarkan pada model kebutuhan rendah, keserakahan rendah yang mempromosikan keberlanjutan dengan memprioritaskan konsumsi rendah dan distribusi kekayaan yang adil atas pertumbuhan PDB, berfokus pada kesejahteraan dan produksi yang diperlukan, dan menghargai industri skala kecil dan teknologi yang tepat guna. (Ekonomi Bisnis, 2019).
Dalam Islam, ekonomi spiritual didasarkan pada keimanan kepada Allah (Tuhan Yang Maha Esa), Akhirat (kehidupan di akhirat), dan kekayaan bukan milik manusia tetapi merupakan titipan dari Allah, diaktualisasikan melalui praktik ekonomi yang sesuai dengan Syariah, termasuk sistem keuangan bebas riba, zakat dan infaq untuk redistribusi kekayaan, wakaf untuk kesejahteraan sosial, dan standar bisnis etis yang tinggi.
Prinsip-prinsip ini bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan holistik yang mengintegrasikan aspek material dan spiritual, yang mengarah pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. Maka, nilai-nilai kebangsaan yang diperlukan dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045 pada era polikiris dunia
Sedangkan pengaruh globalisasi terhadap identitas nasional yaitu: Peningkatan Akses Budaya Global memungkinkan pertukaran budaya, ide, dan teknologi dari seluruh dunia, yang dapat memperkaya identitas nasional;
Tekanan Homogenisasi Budaya Budaya global dari negara lain dapat mengancam keunikan budaya local; Bahasa & Tradisi Terancam Bahasa internasional bisa mengancam keberadaan bahasa lokal, dan tradisi lokal dapat tergantikan oleh budaya global;
Peluang & Tantangan Globalisasi dapat memperkenalkan budaya lokal ke panggung global, tetapi juga menjadi tantangan dalam mempertahankannya keaslian dan keberlanjutan budaya tersebut;
Peningkatan Akses Informasi Memudahkan akses informasi dan pengetahuan yang dapat memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai nasional;
Hedonisme & Individualisme Gaya hidup hedonistik dan individualistik yang dibawa oleh globalisasi dapat bertentangan dengan nilai kebersamaan dan gotong royong. Sedangkan nilai-nilai kebangsaan, antara lain a) Kerja keras, tekun, Ikhlas, dan menyumbangkan kemampuan terbaik b) IMTAQ & Berakhlak mulia c) Saling menghormati antar umat beragama d) Kesetiakawan sosial (Gotong royong) e) Persatuan dan kesatuan f) Nasionalisme g) Rela berkorban;
2045
“Nilai-nilai kebangsan yang pada hakekatnya merupakan nilai yang disepakati dan dipandang baik, yang melekat pada setiap warga negara Indonesia berupa norma-nprma dan etika kebaikan yang terkandung menjadi ciri kepribadian bangsa Indonesia yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika,” paparnya.
Pancasila adalah Dasar NKRI, sudah merupakan kesepakatan final, semua warga negara dilarang mengubahnya; Pancasila sejalan, tidak bertentangan dengan Agama yang resmi ditetapkan oleh Pemerintah RI;
Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara benar dan konsekuen, terutama Sila-2 dan Sila-5 akan menjamin kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkeadilan; Keadilan di semua aspek kehidupan (Ekonomi, Sosial[1]Budaya, dan POLHUKAM) akan menghadirkan kehidupan bangsa yang rukun, damai, dan solid. “No Justice, No Peace”.
Total potensi ekonomi sebelas sektor Kelautan Indonesia: US$ 1,4 triliun/tahun atau 5 kali lipat APBN 2024 (Rp 3.400 triliun = US$ 212,5 miliar) atau 1,2 PDB Nasional saat ini.
Estimasi nilai ekonomi sebelas sektor blue economy Indonesia, yaitu: Lapangan kerja: 45 juta orang atau 40% total angkatan kerja Indonesia. Pada 2018 kontribusi ekonomi kelautan bagi PDB Indonesia sekitar 14% (Kemenko Marves, 2018). Negaranegara lain dengan potensi kelautan lebih kecil (seperti Thailand, Korsel, Jepang, Maldives, Norwegia, dan Islandia), kontribusinya > 30%.
Profil Universitas Tarumanagara
Kemudian, Prof. Rokhmin Dahuri mengutip penjelasan Rektor UNTAR Prof. Dr. Amad Sudiro, S.H., M.H., M.Kn., M.M, terkait sejarah singkat Universitas Tarumanegara yang merupakan salah satu universitas swasta tertua di Indonesia.
Terinspirasi dari Kerajaan Tarumanagara, ide pertama untuk mendirikan suatu perguruan tinggi dicetuskan pada tahun 1957 oleh sekelompok sosiawan di lingkungan Perhimpunan Sosial Candra Naya yang pada waktu itu masih bernama Sin Ming Hui. Atas prakarsa Drs. Kwee Hwat Djien, mereka sepakat untuk mendirikan suatu yayasan yang diberi nama Yayasan Tarumanagara pada tanggal 18 Juni 1959.
Yayasan Tarumanagara mendirikan perguruan tinggi pertamanya yaitu Perguruan Tinggi Ekonomi Tarumanagara, Jurusan Ekonomi Perusahaan pada tanggal 15 Oktober 1959. Perguruan tinggi ini dipimpin oleh Drs. Kho Oen Bik sebagai Dekan dan Drs. Lo Kiem Tjing sebagai Wakil Dekan.
Prof. Rokhmin Dahuri mendorong UNTAR untuk meningkatkan kapasitasnya menjadi a World-Class University untuk menghasilkan 3 output Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk menghasilkan lulusan SDM unggul, invensi dan inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat yang mensejahterakan rakyat serta turut membangun Dunia yang lebihsejahtera, adil, damai, dan berkelanjutan (sustainable).
“UNTAR mendirikan sejumlah fakultas, jurusan, dan penguatan diantaranya Fakultas terdiri Ekonomi dan Bisnis, Hukum, Teknik, Kedokteran, Psikologi, Teknologi Informasi, Seni Rupa dan Desain, Ilmu Komunikasi,” tegasnya.
UNTAR, jelasnya, memiliki visi menjadi Universitas Entrepreneurial unggul yang memiliki Integritas dan Profesionalisme di Asia Tenggara. Dengan misi menyelenggarakan pendidikan berlandaskan nilai-nilai Integritas, Profesionalismke, dan Entreprenneurship (IPE).
Menyelenggarakan kegiatan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan ilmu, teknologi, dan seni secara berkesinambungan.
Menyelenggarakan dan mengembangkan kegiatan Tridarma bagi seluruh Sivitas Akademika yang berlandaskan nilai-nilai Integritas, Profesionalisme, dan Entrepreneurship.
Menyelenggarakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri dalam rangkat memperluas jejaring.
“Universitas Tarumenagara menyiapkan mahasiswa dan alumni untar yang sukses, bahagia dunia – akhirat, dan berkontribusi signifikan dalam mewujudkan indonesia Emas 2045,” terang Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan tersebut.
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa Universitas Tarumanagara harus terus beradaptasi dan mengembangkan diri agar dapat memenuhi tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat.
“Saya berharap UNTAR akan menjadi contoh yang baik perguruan tinggi lainnya dalam menghasilkan lulusan yang kompeten dan inovatif beretos kerja unggul, berakhlak mulia dan beriman-taqwa sebagai kunci sukses kehidupan di era ketidakpastian global,” ujar anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Kelautan, Universitas Bremen, Jerman itu.

Komentar