Tausyah Buka Puasa ICMI dan KAHMI Korwil Bogor, Ary Ginanjar: Spiritual Kunci Keberhasilan Mencapai Ulil Albab
ASKARA - Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Korwil Bogor di Kediaman Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MSc, Jl. Brawijaya No.7 Villa Indah Pajajaran Bogor, Jumat (14/4).
Dalam tausiyah Ramadhan, Founder ESQ, Dr. Ary Ginanjar Agustian memaparkan, bahwa puasa adalah Tazkiyatun Nafs (membersihkan) dan Taqwiyatun Nafs (menguatkan). Kadang-kadang ketika dibersihkan tapi tidak tahu apa yang dikuatkan. Maka, kita harus mampu membedakan mana yang dibersihkan dan mana yang dikuatkan.
“Karena kebanyakan apabila satu pohon dibersihkan ditebang sampai ke akar-akarnya, hilang semua. Padahal, seharusnya ada yang dikuatkan . Jadi ada yang dilemahkan ada yang dikuatkan,” tutur Presiden Direktur PT Arga Bangun Bangsa itu.

Selanjutnya, Ary Ginanjar menerangkan, ada tiga why (dorongan) yang membuat kita bergerak di dunia ini. Ada strong why, big why dan grand why adalah alasan terbesar kita yang paling utama dimiliki. Yaitu alasan kita sebagai manusia di muka bumi, sebagai seorang hamba, sebagai seorang khalifah dan pembawa misi rahmatan lil alamin.
“Masalahnya kita ini kehilangan grand why nya. Apabila dihubungkan dengan Tazkiyatun Nafs dan Taqwiyatun Nafs maka puasa adalah melemahkan keinginan untuk makan, keinginan kita seperti hewan dimatikan. Karena itu kita diminta untuk berpuasa,” ujar Sekjen Dewan Pakar ICMI itu.
Kemudian, lanjutnya, jika big why dimatikan maka muncul nafsu ingin dihargai, nafsu ingin dihormati, nafsu yang membuat ujub dan takabur. “Dari sini kita bisa mendeteksi strong why dan big why dimatikan, maka grand why itulah yang harus ditemukan di bulan Ramadhan. Jika kita sudah mengalahkan nafsu, sudah menanamkan fitrah kemudian bertemu dengan dimensi atas yaitu mengenal, merasakan dan mencintai Allah. Maka kita akan mengalami sebuah fenomena spiritual experience yang disebut dengan lailatul qadr,” terangnya.

“Kalau ini tercipta dan terbentuk maka akan terjadi Power Man dari grand why itu hidup dan itu akan dirayakan dengan Hari Raya Idul Fitri,” sambungnya.
Substansi seperti ini, jelasnya, yang banyak tidak dipahami dan tidak disadari. Akibatnya strong why nya ditebang semua, grand why nya mati. Strong why nya hidup, hedonis. Ketika strong why dan big why tidak berhasil dimatikan maka yang lahir adalah firaun-firaun kecil, Namrud-Namrud kecil. Itu yang dimatikan.
Namun, ketika itu dimatikan maka manusia akan memiliki keunggulan sejatinya, dia akan memiliki kekuatan sejatinya. Nah disitulah ketika dirayakan dengan Takbiran (melihat, merasakan, kebenaran, keagungan, hamba-hamba Allah yang memiliki kesempurnaan). “Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta`murụna bil-ma'rụfi wa tan-hauna 'anil-mungkari wa tu`minụna billāh (Kamu adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah).”

“Kalau ini ditemukan, Indonesia Emas akan menjadi kenyataan. Bangsa ini bangkit luar biasa. Tapi untuk mampu menemukan ini, Inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfil-laili wan-nahāri la`āyātil li`ulil-albāb (Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal),” ujarnya.
Ary Ginanjar menjelaskan, untuk menemukan sesuatu, Rasulullah menahan diri. Suatu hari sebelum shalat subuh sudah ada di Masjid. Tapi saat itu Rasulullah belum hadir. Lalu Bilal menuju rumah Rasulullah.
Saat itu Bilal melihat Rasulullah sedang menangis bercucuran air mata, lalu bertanya,” Ya Rasulullah mengapa engkau menangis?” Lalu Rasulullah menjawab, “ aku baru saja menerima firman Allah, Inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfil-laili wan-nahāri la`āyātil li`ulil-albāb. ( Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal)”.
Ketika terjadi pencerahan dimana dua potensi sains dan spiritualisme bertemu, maka samudera pencarian menjadi ilmu kelautan, ilmu ekonomi, ilmu sosial dan ketika ketika Allah menurunkan hidayahNya mebuka tabirnya antara dimensi intelektual dengan dimensi spiritualitas, maka manusia akan menangis tersungkur dan berkata, “… Rabbana faghfirlana zunubana wa kaffir anna sayyiatina wa tawaffana maal abrar. (Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti)”

Sebelumnya, Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan bahwa seorang muslim seharusnya menjadi orang bertakwa yang paling optimis, paling tenteram, hidup damai tidak pernah cemas dan orang yang paling bahagia. “Karena Allah menjanjikan bersegeralah mencari ampunan dari Allah dan mencari surga untuk orang yang muttaqin,” ujar Wakil Ketua Dewan Pakar FKA-ESQ itu.
Jadi, lanjutnya, kalau ada muslim dan muslimah yang murung terus, gundah gulana. Padahal kita hidup dalam tuntunan Alquran, yang membuat Allah langsung. “Inna nahnu nazzalna adz zikra wa inna lahu lahafidhun. (Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Alquran telah dijaga)”.
Kenapa bangsa Indonesia sudah 77 tahun merdeka, negaranya belum baldatun toyyibatun wa robbun ghafur? Padahal, kata Prof. Rokhmin Dahuri, Allah menjanjikan dalam QS Al Araf ayat 96, “ Walau anna ahlal-qurā āmanụ wattaqau lafataḥnā 'alaihim barakātim minas-samā`i wal-arḍi wa lāking każżabụ fa akhażnāhum bimā kānụ yaksibụn (Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya).”
“Kita membangun bangsa ini, semestinya harus berakhlakul karimah. Kita bersyukur kepada Allah menjadi umat Islam yang taat beragama, semoga kita semua menjadi penghuni Surga yang kekal dan abadi,” tutup Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University itu.

Komentar