Selasa, 07 Februari 2023 | 05:02
OPINI

Napak Tilas Wayang Orang

Napak Tilas Wayang Orang
Napak Tilas Wayang Orang (Dok Dispenal)

ASKARA - Takala di gedung olahraga TNI, Cilangkap, Jakarta beberapa kali menyaksikan latihan wayang orang dengan lakon “Pandawa Boyong” yang akan dipergelar di panggung Taman Ismail Marzuki 15 Januari 2023, saya terharu oleh keadiluhuran warisan kebudayaan Nusantara.

Terbayang pada kalbu saya kilas balik sejarah wayang orang yang kini telah diakui UNESCO sebagai warisan mahakarya kebudayaan dunia. 

Tersurat pada lembaran sejarah bahwa semula wayang orang disebut sebagai wayang wong yang diprakarsai oleh Sri Susuhunan Hamangkurat I pada 1731 di Kerajaan Mataram.

Pada awalnya wayang wong dipergelar eksklusif terbatas di dalam keraton sebagai hiburan bagi raja dan sanak keluarga beserta para abdi dalem istana Kerajaan Mataram.

Wayang yang semula dipergelar dalam bentuk wayang kulit kemudian dikembangkan untuk dipergelar oleh wong = manusia dilengkapi atribut busana serupa wayang kulit.

Cerita-cerita yang ditampilkan dalam wayang wong berasal dari wiracarita Mahabharata dan Ramayana.

Hal yang menarik pada pertunjukan wayang wong ini adalah penampilan tari kolosal dan/atau individu per pemain pada setiap jeda cerita.

Selain itu secara khusus wayang wong juga menampilkan tokoh punakawan sebagai pencair suasana yang merupakan penggambaran keadaan kawulo alit atau rakat jelata dan abdi dalem.

Wayang wong lambat namun pasti menjadi makin populer di kalangan rakyat sehingga komunitas di luar keraton mulai inisiatif menyelenggarakan pergelaran wayang orang di luar keraton.

Lembaga wayang orang swasta pertama didirikan di Surakarta dengan nama Wayang Orang Sriwedari yang kemudian disusul dengan Ngesti Pandowo, Sri Wanito dan Wahyu Utomo di Semarang.

Sementara para seniman wayang orang yang hijrah ke Jakarta mendirikan wayang orang Bharata dan Swargaloka.

Masyarakat pemerhati kebudayaan juga bersemangat mendirikan perhimpunan pencinta wayang antara lain Sena Wangi yang berjasa mengajukan wayang orang untuk diakui oleh UNESCO sebagai warisan kebudayaan dunia karsa dan karya bangsa Indonesia.

Setelah menyaksikan pergelaran opera di Paris, Berlin, Bayreuth, London, New York, balet di Moskow, Petersburg, teater Shakespeare di Stattford upon Avon dan London serta musikal di Broadway, New York maupun opera Beijing di Beijing, sebagai warga Indonesia yang bangga kebudayaan Indonesia.

Saya tersadar bahwa wayang orang memiliki segenap unsur teatrikal yang hadir pada opera, balet serta dramaturgi seni teater Barat. Segenap elemen estetikal tersebut hadir di dalam wayang orang.

Maka saya bersama Aylawati Sarwono merasa terpanggil mendirikan Laskar Indonesia Pusaka sebagai prakarsa menampilkan pergelaran wayang orang di panggung gedung kesenian terkemuka planet bumi ini seperti Sydney Opera House dan mabes UNESCO di Paris.

Kemudian Laskar Indonesia Pusaka bekerja sama dengan TNI untuk secara kolosal mempergelar wayang orang gaya milineal dengan lakon mulai “Sata Kurawa” dengan benar-benar harafiah melibatkan seratus pemeran Kurawa sampai “Sang Sukrasana”.

Serta yang termutakhir lakon “Pandawa Boyong” dengan pemeran utama tak kurang dari Panglima TNI Laksamana Yudo Margono sebagai Bimasena bersama istri beliau Veronika Yulis Trihayati sebagai Nagagini didampingi Kapolri Jenderal Lisyto Sigit Prabowo berperan sebagai Puntadewa.

Tak ketinggalan KASAL Laksamana Muhammad Ali, KASAU Marsekal Fajar Prasetyo, KASAD Jenderal Dudung Abdurachman ikut berperan di dalam pergelaran wayang orang akbar yang sebelumnya belum pernah terjadi di planet bumi ini.

Komentar