Sabtu, 15 Juni 2024 | 07:09
NEWS

Gunung Semeru Mengembung Pertanda Apa?

Gunung Semeru Mengembung Pertanda Apa?
Letusan Semeru (Dok Askara)

ASKARA - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekam adanya aktivitas deformasi berupa inflasi atau penggembungan yang terjadi pada Gunung Semeru, Jawa Timur.

Hal itu disampaikan Koordinator Gunung Api PVMBG, Oktory Prambada, Selasa (13/12).

Peristiwa itu, jelasnya, terjadi akibat ada suplai magma yang memenuhi dapur magma atau kantong-kantong magma pada gunung api tersebut sehingga menimbulkan deformasi berupa inflasi atau menggembung pada Oktober 2022.

"Ini sejalan dengan catatan seismik PVMBG yang menunjukkan bahwa Oktober itu ada suplai magma (signifikan), baik di dapur magma atau kantong-kantong magma," ujarnya.

Paska erupsi yang terjadi pada akhir 2021 lalu, tambahnya, Gunung Semeru secara konstan mengalami suplai dan pergerakan magma hingga puncaknya terjadi pada Oktober 2022.

Gunung Semeru yang menggembung itu terjadi akibat peningkatan tekanan dan desakan magma di dalam tubuh gunung api tersebut. Perubahan deformasi itu terpantau melalui tiltmeter dan pemodelan GPS berupa gambar warna-warni yang terdapat pada tubuh gunung api tersebut.

"Dua hari sebelum meletus SO2 (sulfur dioksida) tampak besar keluar dari erupsi Gunung Semeru," katanya.

Pada 4 hingga 7 Desember 2022, citra thermal mengindikasikan anomali yang menurun dari 15 MW ke 3 MW yang mengakibatkan berkurangnya penumpukan material pijar di sekitar permukaan kawah Gunung Semeru.

Saat ini, status Gunung Semeru berada pada level III atau Siaga setelah sebelumnya sempat naik ke level IV atau Awas akibat erupsi yang terjadi pada 4 Desember 2022 lalu.

Status Awas itu hanya berlangsung selama lima hari dan turun kembali ke status Siaga pada 9 Desember 2022. Masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sebelah tenggara, sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak Gunung.

Komentar