Selasa, 16 Juni 2026 | 01:35
COMMUNITY

Paus Fransiskus Jadi Paus Pertama yang Kunjungi Bahrain

Paus Fransiskus Jadi Paus Pertama yang Kunjungi Bahrain
Paus Fransiskus bersama Raja Hamad (Dok Vatican)

ASKARA - Paus Fransiskus menjadi Paus pertama dalam sejarah yang mengunjungi Bahrain, dalam perjalanannya pekan ini yang diharapkan  mempererat hubungan dengan Islam, tetapi juga menandai tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di negara Teluk itu.

Kunjungan pada Kamis hingga Minggu dalam perjalanan internasional ke-39 Kepausan Fransiskus ini, terjadi tiga tahun setelah perjalanan bersejarahnya ke Uni Emirat Arab tahun 2019, di mana ia menandatangani manifesto Muslim-Kristen untuk perdamaian.

Tetapi, sejumlah kelompok HAM berharap Paus Fransiskus akan menekan pemimpin Sunni Bahrain, Raja Hamad bin Isa Al-Khalifa, menghentikan penindasan terhadap Muslim Syiah di negara itu, bahkan ketika catatan HAM tetangganya Qatar telah menarik lebih banyak perhatian dalam beberapa bulan terakhir menjelang Piala Dunia.

Paus Fransiskus, 85, telah menjadikan komunitas Muslim sebagai prioritas selama kepausannya, dengan mengunjungi negara-negara Timur Tengah, termasuk Mesir tahun 2017 dan Irak tahun lalu sambil berjanji dialog antaragama dengan ulama Muslim terkemuka.

Pada  Jumat, Paus Fransiskus menemui otoritas tertinggi Islam Sunni, Sheikh Ahmed al-Tayeb, Imam Besar Masjid Al-Azhar di Kairo dan pusat studi Islam di Istana Sakhir di pusat negara itu.

Kedua pemimpin agama itu telah menandatangani dokumen bersama di Abu Dhabi pada Februari 2019 yang menjanjikan koeksistensi antaragama di antara Kristen dan Muslim. 

Kunjungan itu adalah pertama oleh seorang paus ke wilayah Teluk, tempat lahirnya Islam.

Paus  juga akan bertemu dengan Dewan Ulama Muslim yang berbasis di Abu Dhabi untuk forum “Timur dan Barat”, dengan komunitas Muslim di Barat, krisis kemanusiaan, masalah iklim dan hubungan Muslim-Kristen dalam agendanya.

Dalam sebuah wawancara dengan Media Vatikan, Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin mengatakan bahwa Perjalanan Apostolik Paus adalah tanda harapan dan dialog dalam momen tragis dalam sejarah.

Kardinal Parolin menekankan bahwa “di dunia yang dicirikan oleh ketegangan, pertentangan, dan konflik,” kunjungan Paus dan peristiwa di Bahrain di mana ia akan berpartisipasi adalah “pesan persatuan, kohesi, dan perdamaian.”

Baik umat Kristen maupun Muslim menyambut Paus Fransiskus ke Bahrain sebagai “Bapa Paus” untuk kunjungan bersejarahnya ke negara Teluk itu, kata Nivedita Dhadphale, pakar komunikasi Bahrain.

Komentar