Senin, 26 September 2022 | 09:18
NEWS

Diintimidasi dan Diancam Bakar

Mafia Tanah Bermain, Siapa Tokoh Dibalik Pendemo Rumah Tahfidz Siti Hajar Sibolangit?

Mafia Tanah Bermain, Siapa Tokoh Dibalik Pendemo Rumah Tahfidz Siti Hajar Sibolangit?
Pendemo Rumah Tahfidz Siti Hajar Sibolangit

ASKARA – Aksi demo penolakan Rumah Tahfidz Quran Siti Hajar di Dusun V, Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, beberapa hari lalu viral di medsos.

Sekelompok pendemo mendatangi Massa datang dengan mengusung poster dan spanduk mendesak pemilik pesantren Tahfiz Qur'an ini untuk ditutup karena dianggap mengganggu tempat Usaha Hotel GH yang tak jauh dari lokasi Tahfiz Qur'an tersebut. Lucunya menurut pendemo, kegiatan pesantren menimbulkan keresahan.

“Bahkan adanya aksi demo dan teror berdampak psikologis dan trauma dialami para santri. Padahal tanah bukan di pinggir jalan. Hampir tak ada orang lewat. Kasihan siswa Tahfidz nya sudah gemetar disuruh bubar dan meninggalkan sekolah,” ungkap pengelola pesantren Ustadz Fachry, dikutip Senin (19/9).

Tak hanya itu, ungkapnya, sekelompok orang kemarin datang mendemo menebar ancaman bunuh dan bakar bila tak segera pindah dari lokasi itu. Kini mereka mengaku cemas dan meminta perlindungan dari pihak pihak terkait dari ancaman dan intimidasi sekelompok orang yang memaksa pesantren Tahfiz ini ditutup.

"Mereka saya perkirakan orang bayaran yang mengaku penduduk sekitar sini, mereka mengaku kegiatan Tahfiz Qur'an ini mengganggu tempat usaha yang ada dekat rumah Tahfiz. Saya diancam bunuh dan rumah akan dibakar bila tak segera pindah dari lokasi ini," tuturnya.

Dari keterangan pihak Rumah Tahfidz Siti Hajar, bahwa pemilik hotel The Hilll sempat mau membeli tanah lokasi Rumah tahfidz Siti hajar, tetapi tawaran itu di tolak, krn tanah tidak di jual. menurut keluarga yang punya rumah tahfidz, mereka memiliki ( SHM) dan juga bayar IMB.

Sebelum pesantren dibangun, kata pemilik, ada orang keturunan China yang diduga pemilik Hotel The Hill ingin membeli tanah tersebut. Namun saat itu keluarga tidak menjualnya karena ingin membangun Rumah Tahfiz.

Dalam penjelasannya, bahwa rumah tahfidz di Sibolangit merupaka tanah keluarga seluas 4 Ha. “Menurut keluarga yang membuat Pesantren Tahfidz itu mereka punya Surat Hak Milik (SHM) dan juga bayar IMB,” terangnya.

Di lokasi, pendemo ini adalah lokasi yang di bangun Rumah Tahfidz Siti Hajar yang dibuat untuk anak-anak penghafal Alquran. “Apakah bisa dalam kegiatan yang menimbulkan keresahan? Dimana toleransi kita?” tanyanya.

Pemilik Rumah Tahfidz juga menduga bahwa sekelompok orang yang melakukan aksi intoleran tersebut adalah massa yang sengaja dibayar oleh orang tertentu.

Ketua Badan Wakaf Ar Raudlatuh Hasanah, H. Ilyas Tarigan menjelaskan Tahfidz Quran Centre Pancur Batu/Sibolangit berada di wilayah Deli Serdang. Wakaf yang dikembangkan oleh H. Ilyas seluas 3 rante dan baru dikembangkan 2 tahun yang silam.

Pengembangan Hill Park seluas 2,5 hektar sudah hampir 2 dasa warsa yang berPHD aktif. Demikian juga rumah ibadah sekitarnya. “Pendemo belum dipastikan warga sekitar atau karyawan Hill Park,” katanya.

Pengurus Forum Umat Islam (FUI) Sumatera Utara menduga ada kepentingan tertentu di balik aksi demo yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menolak keberadaan Pesantren Tahfiz Quran Siti Hajar di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang.

“FUI Sumut menduga aksi itu dilakukan oleh oknum tertentu diduga demi kepentingan bisnis,” tegas Ketua Umum FUI Sumut Ustadz Indra Suheri.

Pihaknya sudah berkomunikasi dengan pengelola pesantren dan pesantren Tahfiz Quran tersebut sudah berjalan sejak 6 tahun lalu dan selama ini tidak memiliki permasalahan.

“Sebelumnya ada 30 santri Tahfiz Quran yang belajar secara gratis. Sejak adanya aksi demo yang dilakukan oleh sekelompok orang, santrinya tinggal 10 orang karena trauma dan takut akan aksi demo serta teror tersebut,” terang Ustadz Indra Suheri.

Ustadz Indra menduga yang melakukan unjuk rasa itu bukan dari warga setempat, melainkan dari kelompok atau pegawai tempat bisnis yang ada di dekat pesantren tersebut.

“Saya menduga demo itu orang yang bekerja di lokasi bisnis tempat wisata itu. Diduga ada desakan kepentingan dibelakang mereka. Ditambah dengan keterangan pemilik, tidak didukung warga setempat. Patutut diduga kuat segelintir orang demi kepentingan bisnis,” tegas Ustadz Indra.

Indra menyayangkan adanya unjuk rasa tersebut, karena tempat itu sudah lama berdiri. Bahkan itu merupakan tempat penghafal Quran. Sudah pasti, mereka seorang anak yang tidak menggangu masyarakat setempat.

“Saya lihat video itu, dalam spanduk tertulis “warga menolak karena menimbulkan keresahan warga”. Itu tulisan opini yang sesat, saya yakin pesantren tahfiz mengajarkan kalam suci. Mereka (para santri) tidak mau banyak bicara, karena takut hafalannya hilang,”ujarnya.

Untuk itu, FUI Sumut akan melakukan kordinatif; komunikatif dengan cara pihak terkait seperti kepolisian, pemerintah setempat lainnya. “Desakan dari para laskar, Sabtu (17/9) massa FUI Sumut turun ke Sibolangit,” tegas Ustadz Indra

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Deli Serdang, Amir Panatagama S.Pdi,  mengimbau diadakannya mediasi yang baik untuk menyelesaikan permasalahan di pesantren Tahfidz Siti Hajar, Sibolangit.

"Kita tetap mendukung kegiatan proses belajar tahfidz quran tanpa mendiskriminasikan pengembangan usaha perekonomian umat," tutur Amir Panatagama.

Sehingga, sambungnya, visi relegius rukun dalam kebhinekaan dapat dwujudkan oleh masyarakat Deli Serdang.

"Selagi masih ada jalan mediasi, dengan baik diharapkan pihak manapun yg belum mendapat izin operasional diupayakan untuk disempurnakan, sehingga visi relegius rukun dalam kebhinekaan dapat dwujudkan oleh masyarakat deli Serdang utk mencapai masyarakat yang sejahtera dalam ridho Allah Taala,” ucapnya.

Ketua MUI meyakini bahwa masing-masing pihak tidak ada maksud saling membuat kericuhan dan gangguan. "Pesan yang perlu kita sampaikan adalah, kepada pihak - pihak jangan sampai ada yang dimanfaatkan untuk membuat suasana saling tidak nyaman. Bila di muka bumi ingin hidup sendiri dan nyaman tanpa bergesekan dengan makhluk Tuhan, cari dunia lain yang bisa hidup sendiri dengan tenang,” pungkasnya.

Dalam kasus ini, Pengembang Hill Park setelah dipanggil DPRD Provinsi bila membuat kisruh maka akan menutup kawasan Hill Park dengan PHK hampir 510 karyawan dari warga Pancur dan Sibolangit.

Terpisah, Kasatreskrim Polrestabes Medan  Kompol Teuku Fatir Mustafa S.I.K saat di konfirmasi mengatakan kalau hal itu sudah dalam pengawasan Polsek Sibolangit.

Masalah ini sedang diselidiki apakah ada orang atau tokoh di balik demonstrasi tersebut.

Komentar