Minggu, 27 November 2022 | 16:05
COMMUNITY

Rekor MURI Untuk Empat Sosok Hebat, Ini Daftarnya

Rekor MURI Untuk Empat Sosok Hebat, Ini Daftarnya
Jaya Suprana foto bersama dengan penerima pengharggaan Rekor Muri

ASKARA - Museum Rekor Dunia Indonesia ( MURI ) menganugerahkan kepada empat rekor baru yang mengukir prestasi terunggul di bidang keahlian masing-masing.

Terdapat empat orang rekoris dengan kategori berbeda. Pertama, Rekor Film Pertama Berbahasa Sunda yang diproduksi oleh Bangsa Indonesa "Before, Now and Then" lantaran 100 persen menggunakan bahasa Sunda.

Rekor MURI kedua, karya memasak secara Daring oleh Keluarga Terbanyak dengan 1.245 Peserta. Rekorisnya ialah Nizamia Andalusia School Jakarta.

Selanjutnya, penghargaan ketiga diberikan terhadap buah karya dengan mengusung konsep Wakaf Aplikasi Ekosistem Masjid Pertama. Rekorisnya ialah GEW Foundation.

Rekor MURI keempat dipecahkan seorang remaja Indonesia pertama yang meluncurkan donasi sumbangan melalui platform NFT bagi penyandang disabilitas. Rekorisnya ialah Rainier Wardhana Hardjanto.

Pendiri MURI Jaya Suprana mengatakan, sangat terharu atas 4 peraih rekor Muri. “Semua menarik bahkan istimewa,” kata Jaya Suprana. Penghargaan yang diberikan oleh MURI, lanjutnya, sebagai wujud apresiasi akan bentuk karsa ataupun karya yang diciptakan oleh warga negara Indonesia.

“Kami bangga hari ini bertemu dengan orang-orang hebat, orang kreatif dan tangguh yang bermanfaat untuk kemajuan bangsa. Indonesia butuh orang-orang seperti yang terpilih hari ini, supaya bangsa kita tidak ketinggalan bangsa lain,” ujar Jaya Suprana, di Galeri MURI, Mall of Indonesia (MOI), Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (16/9) sore.

Pada acara talkshow, Produser film  berjudul “Before, Now & Then” (Nana), Jais Darga mengatakan film itu menjadi kado terakhir yang dipersembahkan untuk almarhumah ibundanya Raden Nana Sunani yang wafat tiga tahun lalu.

Kenapa dia membuat film di Indonesia dengan berbahasa Sunda? Karena, kata Jais Darga, dirinya ingin memperlihatkan bahwa inilah Sunda yang sebetulnya. “Karena orang Sunda sendiri terkenalnya dengan bodor-bodoran, jadi kalau orang Sunda bertemu lebih dua orang pasti heboh. Sayang ingin memperlihatkan kepada generasi muda bahwa ini lho Sunda seperti itu,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, film itu berdasarkan novel dari roman biografi dirinya yang berjudul “Jais Darga Namaku” yang menceritakan tentang telor darimana Jais asal muasalnya. Film yang diproduksi Fourcolours Films dan Titimangsa Foundation ini dibintangi Happy Salma, Ibnu Jamil, Arswendy Beningswara Nasution, sampai Laura Basuki.

Dalam kesempatan itu, Jaya Suprana menilai Jais Darga bukan hanya religius tapi juga realistis. “Anda menjadi bagian dari kehidupan bahwa ada sukanya tetapi ada juga dukanya. Dan untuk menikmati sukanya kita harus belajar untuk bisa menerima dukanya, kalau tidak akan hancur sama kita sendiri,” ucapnya.

 

 

Komentar