Rabu, 06 Juli 2022 | 13:49
NEWS

Pakar Geomorfologi UGM Jelaskan Sebab Banjir Rob di Semarang

Pakar Geomorfologi UGM Jelaskan Sebab Banjir Rob di Semarang
Banjir rob di Semarang (Dok Solopos)

ASKARA - Tanggul penahan air laut di kawasan Lamacitra, Pelabuhan Tanjung Mas, Kota Semarang tidak mampu menahan debut air hingga jebol dan menyebabkan banjir rob, Senin (23/5). 

Banjir rob mencapai 1,5 meter di kawasan Lamacitra. Lalu, 55 sentimeter di Jalan Coaster dan 40 sentimeter di Jalan M. Pardi.

Banjir juga menggenangi Jalan Yos Sudarso dan Jalan Ampenan dengan tinggi air  50 sentimeter.

Pakar geomorfologi pesisir dan laut dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Bachtiar W. Mutaqin mengatakan, sepanjang pesisir utara Pulau Jawa memang rawang terjadi banjir rob. 

Penyebabnya, kata Bachtiar, adalah meningkatnya muka air laut akibat pemanasan global dan material tanah di utara Jawa yang belum solid. 

Bachtiar juga menyebut, banyaknya permukiman dan perusahaan di pesisir pantai utara menambah potensi banjir rob.

"Permasalahannya cukup kompleks mulai dari kenaikan muka laut, kemudian material tanahnya yang alluvial umurnya masih muda, juga terkait dengan penggunaan lahan," ujar Bachtiar menukil laman resmi UGM, Selasa (24/5). 

Menurut dosen Fakultas Geografi UGM itu, peristiwa rob di Semarang sesungguhnya sudah memiliki riwayat lama. Banjir rob sangat sering dan kejadian terkini karena bersamaan dengan puncak-puncaknya pasang, di mana posisi bumi dan bulan begitu dekat.

“Pasangnya cukup tinggi, tanggulnya jebol, ya akhirnya kawasan di pesisir Semarang terendam. Sebenarnya fenomena ini sudah dimitigasi oleh pemerintah, tetapi karena muka laut memang cukup tinggi dan ada bangunan yang jebol akibatnya banyak yang terendam," urainya.

Bachtiar menjelaskan, material tanah di utara Jawa sebenarnya berasal dari endapan atau sedimentasi proses sungai sehingga material sedimen tersebut bila diukur dari skala geologi masih tergolong muda. 

Sedangkan, di atasnya berdiri banyak bangunan sehingga makin memperberat. Belum lagi penggunaan air tanah yang berakibat penurunan muka tanah. 

Bachtiar mengungkapkan, penurunan muka tanah di Semarang terjadi sekitar 19 cm per tahun. Untuk rob naik 40-60 cm dan pernah mencapai 1 meter pada 2013. 

“Padahal stasiun pasang surut sudah ada, tanggul laut sudah ada, tetapi kemarin fenomena pasangnya memang cukup tinggi dibandingkan dengan biasanya," ujar Bachtiar. 

Dia menduga salah satu penyebabnya karena pulau Jawa masih berada dalam cuaca ekstrem hingga Juni mendatang.

Bachtiar juga meminta pemerintah setempat lebih menggiatkan lagi upaya mitigasi untuk mencegah kejadian serupa. 

Komentar