Kamis, 04 Juni 2026 | 08:48
LIFESTYLE

Menyamar Jadi Suami Atau Kekasih Korban

KRH Gus Ripno: Hobi Genderuwo Paling Dominan Menggoda Istri-Istri Kesepian Atau Para Janda

KRH Gus Ripno: Hobi Genderuwo Paling Dominan Menggoda Istri-Istri Kesepian Atau Para Janda
KRH Gus Ripno Waluyo, SE, SP.d, S.H, C.NSP

ASKARA - Mitos dalam perjudian Ritual pemanggilan genderuwo yang lengkap dengan segala sesajinya banyak dilakukan orang, terutama yang berkepercayaan tradisional di pulau Jawa. Hal ini berkaitan dengan maraknya judi togel yang dulu tenar dengan istilah “nomor buntut” atau “nomor jitu“.

“Para praktisi tersebut mempercayai bahwa dengan mengundang genderuwo, hajat untuk mendapat nomor yang beruntung bisa terpenuhi dan bermodal sedikit keberanian, keuntungan besar bakal gampang mereka peroleh,” ujar  Tokoh Spiritualis Kota Malang Raya, KRH Gus Ripno Waluyo, SE, SP.d, S.H, C.NSP, Senin (31/1).

Hal unik, katanya, yang terjadi dalam ritual pemanggilan genderuwo hingga permintaan untuk menyebutkan “nomor jitu” adalah dilakukannya tawar menawar seperti layaknya jual beli pedagang di pasar.

Gus Ripno menceritakan, konon ketika genderuwo keluar dari sarang mereka setelah mendengar rapalan mantra berikut bau daging gosong gagak terpanggang, praktisi harus secepatnya meminta apa yang mereka inginkan sebelum genderuwa mencuri atau memakan umpan sate burung gagak sebelum mengucapkan permintaan.

“Sebab, bila genderuwo sudah kenyang dia akan segera menghilang pergi tanpa mau memberikan jawaban yang diinginkan pelaku ritual,” ungkapnya.

Banyak yang mempercayai salah satu cara untuk memanggil Gendruwo adalah dengan membakar sate Gagak, sebab Burung Gagak konon adalah makanan kesukaan dan binatang peliharaan Gendruwo. Membakar Burung Gagak di lokasi kuburan yang angker bisa mengundang berbagai macam makhluk halus dan arwah penasaran.

Cara melakukan Ritual Pesugihan “Sate Gagak”, cukup memanggang daging Gagak di sekitar lokasi kuburan yang angker, tak lama kemudian arwah-arwah orang yang meninggal karena penasaran akan menghampiri bau harum sesajen tersebut, lengkap dengan keadaan fisik mereka waktu meninggal.

“Jika hendak melakukan ritual ini, kita harus punya keberanian dan mental yang kuat. Hantu Genderuwa (dalam pengucapan Bahasa Jawa: “Genderuwo“) adalah mitos Jawa tentang sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia menyerupai kera dengan postur besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, badannya tertutup rambut lebat yang tumbuh pada sekujur tubuh,” bebernya.

Berbagai kepercayaan Orang Jawa, sambungnya, ketika ada orang yang menderita sakit lalu terdengar suara burung Gagak Hitam, itu menandakan orang yang sakit akan segera menjemput ajalnya. Orang yang menjelang ajal itu memang sudah menebarkan aroma khas bau mayat. Konon Gagak mempunyai insting dan penciuman yang sangat tajam, bahkan radiusnya bisa ribuan km, dan Burung Gagak dalah salah satu burung pemakan bangkai. “Ada pula kepercayaan yang menghubungkan sate Gagak sebagai sarana pemanggil Genderuwo,” kata Gus Ripno.

Genderuwo, sebutnya, dikenal paling banyak dalam masyarakat di Pulau Jawa, Indonesia. Orang Sunda menyebutnya “gandaruwo” dan orang Jawa umumnya menyebutnya “gendruwo“. Habitat hunian kegemarannya adalah batu berair, bangunan tua, pohon besar yang teduh atau sudut-sudut yang lembab sepi dan gelap Mitos genderuwo sebagai makhluk gaib sendiri diduga berakar dari mitos kuno Persia gandarewa.

Dalam mitos Persia, gandarewa adalah siluman air Persia yang terus-menerus mencoba melahap hal-hal baik yang tercipta dalam mitos penciptaan Persia dan akhirnya akan dikalahkan oleh pahlawan Keresaspa. Genderuwo dipercaya bisa berkomunikasi dan menjalin kontak langsung  dengan manusia. Berbagai legenda mengatakan kalau genderuwa dapat mengubah penampakan dirinya mengikuti wujud fisik seorang manusia untuk menggoda sesama manusia. Genderuwo dipercaya sebagai sosok makhluk yang iseng dan cabul, karena kegemarannya menggoda,

Genderuwo konon suka menepuk pantat perempuan, membelai tubuh perempuan ketika sedang tidur, bahkan sampai memindahkan pakaian dalam perempuan ke orang lain. Kadang genderuwa nampak dalam wujud makhluk kecil berbulu yang bisa tumbuh membesar dalam sekejap, genderuwa juga gemar melempari rumah orang dengan batu kerikil di malam hari.

Salah satu hobi  genderuwo yang paling dominan yaitu menggoda istri-istri kesepian yang ditinggal suami atau para janda, bahkan tidak jarang genderuwa bisa sampai melakukan kontak badan/hubungan seksual dengan mereka.

“Tapi biasanya wanita korban yang disetubuhi oleh genderuwo tidak menyadari sedang bersetubuh dengan genderuwo, karena genderuwo akan menyamar sebagai suami atau kekasih korban dalam melakukan hubungan seks,” ujarnya.

Disebutkan pula jika genderuwo memiliki libido dan gairah seksual yang besar dan jauh di atas manusia, itu sebabnya ia amat mudah terangsang ketika melihat kemolekan tubuh perempuan dan itu pulan yang membuatnya menjadi makhluk yang senang menggoda perempuan.

Dalam kepercayaan Jawa, tidak semua genderuwa bersifat jahat, konon ada pula genderuwa memiliki sifat baik. Genderuwo  yang bersifat baik ini dipercaya biasanya menampakkan wujudnya sebagai seorang kakek tua berjubah putih yang kelihatan amat berwibawa.

“Genderuwo yang baik tidaklah cabul seperti saudara sebangsanya yang mempunyai sifat jahat, genderuwa yang baik acapkali membantu manusia seperti menjaga tempat gaib atau rumah dari orang yang berniat tidak baik, bahkan perampok,” terang Gus Ripno.

Bahwa genderuwo yang bersifat baik kadang-kadang membantu menyunat anak-anak dari keluarga tidak mampu yang saleh beribadah. Ritual pemanggilan banyak kalangan mempercayai salah satu cara memanggil genderuwo adalah dengan membakar sate gagak.

Konon ketika genderuwo keluar dari sarang mereka setelah mendengar rapalan mantra berikut bau daging gosong gagak terpanggang, praktisi harus secepatnya meminta apa yang mereka inginkan sebelum genderuwa mencuri atau memakan umpan sate burung gagak sebelum mengucapkan permintaan.

“Sebab, bila genderuwo sudah kenyang dia akan segera menghilang pergi tanpa mau memberikan jawaban yang diinginkan pelaku ritual,” pungkas Advokat Peradi Perjuangan itu.

Komentar