Soal Fenomena Cuaca Dingin di Sejumlah Wilayah, Ini Penjelasan BMKG
ASKARA - Sebuah pesan berantai yang menyebutkan cuaca dingin di Indonesia terjadi lantaran jarak bumi dengan matahari dalam titik terjauh saat periode revolusi atau Aphelion beredar di sejumlah aplikasi perpesanan.
Saat berada di titik Aphelion, cuaca di bumi cenderung lebih dingin dibanding periode lainnya.
Pelaksana tugas (Plt) Deputi Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Urip Haryoko mengatakan, fenomena Aphelion adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli.
Menurut Urip, fenomena cuaca dingin di beberapa wilayah Indonesia tidak terkait dengan Aphelion.
Pasalnya, Aphelion tidak berpengaruh signifikan terhadap suhu di bumi. Hal itu termasuk pada periode jarak bumi yang lebih dekat dengan matahari (Perihelion).
"Adapun periode fenomena astronomis Aphelion puncaknya terjadi pada bulan Juli, sedangkan Perihelion adalah Januari," ujar Urip dalam keterangan tertulis, Selasa (4/1).
Dijelaskan Urip, saat Aphelion posisi matahari memang berada pada titik jarak terjauh dari bumi. Kendati begitu, kondisi tersebut tidak berpengaruh banyak pada fenomena atmosfer permukaan.
"Jadi, cuaca dingin dalam beberapa hari terakhir bukan karena Aphelion tetapi karena faktor-faktor lain di luar, sebab bumi berada di jarak terjauh dari matahari," jelasnya.
Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim hujan dengan masa puncak terjadi pada Februari 2022.
Hal ini menyebabkan seolah Aphelion memiliki dampak ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia.
"Padahal pada faktanya, penurunan suhu di masa pergantian tahun banyak disebabkan faktor di luar itu," tandas Urip.

Komentar