Minggu, 07 Juni 2026 | 23:22
OPINI

Pakailah Logika, Mikir Dulu Sebelum Bertindak

Pakailah Logika, Mikir Dulu Sebelum Bertindak
Ilustrasi

Oleh: Mang Ucup *)

Dari sejak kecil Mang Ucup itu udah cerdas bin pinter, karena selalu menggunakan logika. Misalnya kami di didik untuk lebih percaya kepada leluhur yang pernah hidup nyata daripada Tuhan, yang tidak pernah nampak.
 
Saya dilahirkan di jalan Kelenteng di Bandung, jadi saya banyak sekali melihat berbagai macam spiritualisme, misalnya jalan di atas bara api ataupun mandi pakai minyak mendidih, bahkan dibacok sekalipun mereka kebal!
 
Namun di sisi lain, karena dari sejak kecil hobinya hanya main dan mengurus bisnis kecil-kecilan - baca jualan jangkrik dan layangan, sehingga rapor di sekolahan menjadi rapor PDI yang didominasi oleh warna merah.

Ketika saya akan mendapat rapor ketiga untuk kenaikan kelas, saya merasa resah, jiper alias takut tidak naik kelas. Karena sudah menyadari bahwa hasil rapor yang terakhir juga tidak akan berubah menjadi warna pelangi.

Oleh sebab itulah saya harus mencari dukungan dari orang pintar yang bisa bantu mendongkrak hingga naik kelas. Ternyata Sang Dukun itu benar-benar pinter sekali, dimana ia memberikan nasehat yang logis bin benar!
 
Masalahnya kamu jadi goblok bin dungu ini, karena otak kamu butek bin po-ek, jadi tidak akan pernah bisa punya pikiran yang terang cemerlang. Jadi bukannya karena males melainkan, karena udah bawaan dari sononya.
 
Siapa yang akan bisa mematahkan pendapat dari sang Dukun yang benar-benar sangat logis sekali. Agar bisa jadi terang seperti lampu senter harus dibantu dengan makan Kunang-Kunang yang selalu menyala terang.

Sesuai dengan arahan Sang Dukun, pada malam harinya saya pergi mencari kunang-kunang di kuburan yang harus ditelan hidup-hidup, jadi jangan sampai mati, karena dikunyah. Rasanya seperti mau muntah, namun agar bisa naik kelas jadi wajarlah harus bersedia berkorban sedikit.
 
Namun sialnya walaupun sudah berkorban makan Kunang-Kunang, tetapi tetap saja "Ngendok" alias tidak naik kelas satu SMP.  
Mungkin salahnya karena saya hanya menelan Kunang-Kunang, bukannya batu baterai yang lebih tokcer.

*) Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar