I Am 80 Years "Young"
Oleh: Mang Ucup *)
Apakah kalau seseorang sudah mencapai usia delapan puluh tahun itu berarti sudah tua? Bagi Mang Ucup tidak! Maklum kata tua itu sudah di delete dalam kamus hidup saya. Mereka sudah bisa dinilai tua apabila usianya 10 tahun + jauh lebih tua daripada usia saya pada saat sekarang ini.
Bagi kaum perempuan pada umumnya mereka merasa sudah menjadi tua dimana mereka tidak dipanggil dengan panggilan Miss lagi melainkan "Momy". Hal ini tidak akan terjadi bagi saya, sebab dalam usia berapa pun juga, mereka akan tetap memanggil saya dengan panggilan ‘Sir”!
Entah kenapa saya tidak pernah merasakan menjadi tua, apakah karena saya tidak pernah sakit dan tensi pun selalu berkisar 80/130? Disamping itu masih tetap rajin jalan kaki dua kali 30 menit per hari dan tidak pernah absen, tekecuali kalau diluaran hujan lebat.
Saya bisa dan boleh makan apapun juga tanpa ada pantangan, walaupun saya sendiri memilih Vegan. Bahkan saya masih bisa memenuhi kebutuhan bantin dari sang istri - S1 (seminggu 1 x) tanpa bantuan obat atau vitamin apapun juga.
Saya menjalani kehidupan saya setiap hari tanpa makan obat ataupun vitamin penunjang entah apapun juga. Semangat hidup saya masih berkobar-kobar seperti kawah Candra Dimuka. Otak pun masih tokcer, sehingga mampu menulis artikel hampir setiap hari.
Rahasianya dimana? Saya selalu mensyukuri hidup saya dengan mengawali ucapan doa syukur setiap hari, tidak pernah ngongso dan tidak pernah mau memikirkan masa lampau lagi. Sebab hidup saya dimulai setiap hari dengan lembaran baru yang putih bersih tabula rasa.
Lembaran kemarin ataupun masa lampau sudah dihapus delete dan tidak mau dipikirkan lagi, dengan demikian saya bisa hidup dengan tentram dan damai. Sambil mendendeangkan lagu “What Ever Will Be, Will Be"
Apakah tidak ada kekurangan? Ada, dimana saya merasa terlalu gendut, maklum berat badan saya 88 kg. Namun bagi sayq angka 88 itu adalah angka hoki, jadi tidak ada keinginan untuk merubahnya lagi, I am hepi dengan bodi nDut! Disamping itu sudah torek bin budeg, namun who care? Tiada gading yang tak retak!
Cuma kasihan Mbak Wied (istri), ia terkadang merasa malu kalau kami jalan-jalan ke kota, karena orang suka berpaling melihat kepada kami. Ketika melihat seorang gadis muda sedang membentak-bentak ayahnya yang sudah tua.
*) Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar