Brunlleschi versus Ghiberti
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Membangun katedral itu perkara mudah, tapi menutup atapnya? Itu urusan lain. Pada tahun 1420, pejabat kota Florence pusing tujuh keliling melihat Katedral Florence yang sudah dibangun selama seabad namun bagian atasnya masih bolong menganga. Arsitek terdahulu dengan sangat ambisius mendesain kubah terbesar yang pernah ada, lalu meninggal begitu saja tanpa meninggalkan cetak biru cara membangunnya. Singkatnya: "Silakan dipikirkan sendiri, generasi masa depan!"
Putus asa, pihak katedral menggelar sayembara. Masuklah Filippo Brunelleschi, seorang jenius eksentrik yang mengklaim bisa membangun kubah mandiri tanpa kerangka kayu penyangga tradisional. Masalahnya, Brunelleschi menolak membeberkan detail teknisnya karena takut idenya dicuri. Karena tidak percaya penuh, para pejabat mengambil keputusan paling buruk dalam sejarah manajemen proyek: menunjuk Brunelleschi dan rival abadinya, Lorenzo Ghiberti, sebagai pengawas bersama dengan gaji sama rata, 36 florin setahun. Agak sedikit di atas honor kupas bawang merah di Indonesia masa kini. Bagi Brunelleschi, ini adalah penghinaan berat. Hubungan mereka sudah retak sejak 1401, ketika Ghiberti mengalahkannya dalam sayembara membuat pintu perunggu Baptistery Florence. Saat Ghiberti menikmati kekayaan dan gengsi di Florence, Brunelleschi yang patah hati kabur ke Roma selama hampir 20 tahun untuk belajar arsitektur kuno sambil memendam dendam.
Meski Brunelleschi yang memeras otak menciptakan solusi struktural dan mekanis, Ghiberti tetap nampang dan menerima gaji serta pujian yang sama. Muak menjadi tulang punggung kelompok dalam kerja kelompok ini, Brunelleschi merancang sebuah taktik brilian pada tahun 1423. Tepat saat para pekerja bersiap memasang struktur batu krusial untuk menahan tekanan kubah, Brunelleschi mendadak mengaku sakit parah dan mengunci diri di tempat tidur. Ketika para mandor panik dan meminta instruksi, Brunelleschi dengan senyum sarkastik berkata, "Tanya saja pada Ghiberti yang pintar itu."Benar saja, Ghiberti mati kutu. Ia dilaporkan sama sekali tidak paham cara merakit sistem tersebut, dan proyek konstruksi langsung mandek total. Setelah membuktikan bahwa Ghiberti hanyalah "beban tim," Brunelleschi secara ajaib langsung sembuh, kembali ke lapangan, dan memimpin proyek dengan perkasa nan gagah berani.
Biografer masa lalu mungkin sedikit mendramatisasi cerita ini, tetapi catatan sejarah tidak bisa berbohong. Brunelleschi akhirnya diakui sebagai penemu dan direktur tunggal mahakarya tersebut. Gajinya meroket menjadi 100 florin per tahun, sementara Ghiberti harus puas tetap di angka 36 florin sampai akhir proyek.Meski demikian, sejarah Renaisans berbaik hati mengabadikan keduanya: Ghiberti diingat berkat keindahan pintu perunggunya, dan Brunelleschi abadi bersama kubah megah yang mengubah cakrawala kota Florence untuk selamanya. Maka Ghiberti tidak merasa perlu ganti profesi menjadi tukang kupas bawang merah.

Komentar