Senin, 17 Januari 2022 | 13:52
OPINI

Korban Perceraian

Korban Perceraian
Ilustrasi

Oleh: Mang Ucup *)

Pernahkan Anda merenungkan bagaimana perasaan orang yang kehilangan pasangan hidupnya? Perlu Anda ketahui stres yang paling berat di dalam kehidupan manusia adalah pada saat mereka ditinggal oleh orang yang mereka kasihi.

Kebanyakan orang melakukan bunuh diri, bukannya karena kehilangan harta maupun jabatan, melainkan karena kesepian. 

Perceraian dinilai oleh banyak agama sebagai haram sehingga seharusnya dihindari. Pada saat seorang istri ditinggal mati oleh suaminya banyak orang datang berkujung, bahkan diadakan doa dan malam hiburan khusus bagi istri yang ditinggal. 

Setelah itu pun masih banyak lagi tetangga maupun rekan-rekan lainnya yang saling berdatangan untuk menghibur sang janda. Bahkan mereka menawarkan berbagai macam pertolongan maupun bantuan untuk kelanjutan hidup sang istri yang ditinggal. 

Janda cerai dan janda yang ditinggal mati oleh suaminya sama-sama menderita karena kehilangan pasangan hidupnya. Walaupun demikian janda cerai ada jauh lebih menderita daripada janda yang ditinggal mati oleh suaminya. 

Pada saat seorang perempuan diceraikan. Jangan harap ada orang yang mau datang berkujung apalagi menghibur. Kalau tidak di gosipin sudah bagus.

Padahal janda cerai hidupnya jauh lebih menderita, lebih berat dan juga lebih banyak pertolongan maupun bantuan yang dibutuhkan. Ia bukan saja ditinggal oleh suaminya melainkan juga oleh seluruh anggota keluarga suaminya. Penghasilan pun tidak ada.

Sedangkan janda yang ditinggal mati masih bisa dapat uang pensiun maupun warisan dan juga masih dibantu oleh anggota keluarga suaminya. 

Apabila perempuan ditinggal mati oleh suaminya. Banyak orang yang turut berduka cita bahkan turut menangis maupun berdoa untuknya.

Namun untuk janda cerai tak ada seorangpun yang peduli akan pederitaannya apalagi mau turut merasakan kepedihan maupun kesedihan hatinya. 

Teman-teman dekatpun satu per satu akan menjauhinya, karena janda cerai itu lansung dikategorikan seperti juga perempuan najis yang suka ngerebut suami orang. 

Oleh sebab itulah janda cerai itu penderitaannya jauh berlipat kali lebih berat daripada janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Ia bukan hanya kesepian karena ditinggal suaminya saja. Bahkan juga dikucilkan oleh keluarga maupun kawan-kawannya. 

Perempuan yang ditinggal oleh pasangan hidupnya harus siap dan bisa melakukan fungsi sebagai suami, sebagai ayah maupun sebagai pencari nafkah. Mereka tidak punya waktu untuk belajar ataupun mengadaptasinya terlebih dahulu, karena perobahan drastis terjadi dalam sehari. 

Oleh sebab itulah jangankan punya waktu untuk mengurus diri sendiri untuk mengurus kebutuhan dan keperluan sehari-haripun sudah tidak ada waktu lagi. Waktu untuk berdoa dan menangis hanya ada di malam hari saja. 

Kebanyakan cowok lebih senang memilih dan menikah dengan janda yang ditinggal mati oleh suaminya daripada janda cerai. Disamping itu banyak janda cerai hidupnya menjadi trauma dan takut untuk memulai hubungan baru lagi. 

Hati yang terluka mungkin bisa sembuh, tetapi cacad lukanya tidak bisa dihilangkan dan ini akan membayangi terus selama hidupnya.

*) Menerap di Amsterdam, Belanda

Komentar