Kenapa Harus Sakit?
Setiap manusia di kolong langit itu harus mati dan boleh dibilang lebih dari 95% pernah sakit. Entah ini sakit perut, sakit kepala ataupun sakit, karena korengan. Hal inilah yang membuat mang Ucup jadi gatel tangan untuk mempertanyakan kenapa manusia itu harus sakit?
Bukankah kita ini diciptakan sesuai dengan gambaran-Nya, apakah dengan demikian bisa diartikan bahwa Sang Pencipta juga sering migren sakit kepala seperti kita umat-Nya? Sang Pencipta itu sedemikian kuasa dan canggih-Nya. Kenapa kok hanya bisa menciptakan manusia kodian yang sedemikian rapuh dan bokbroknya. Mirip produksi barang-barang murahan buatan Tiongkok.
Apakah manusia ini merupakan production fault dari Sang Pencipta? Dan apa manfaatnya dari sakit ini? Selainnya membuat para Dr, Apoteker dan pabrik obat menjadi kaya raya.
Orang akan lebih bisa menghayati apa artinya penderitaan sakit atau rasa nyeri itu. Apabila ia sendiri pernah mengalaminya. Berapa banyak orang yang melakukan bunuh diri, karena tidak tahan penderitaan rasa nyeri yang terus menerus tiada hentinya.
Orang bersedia melakukan apapun juga untuk bisa mengurangi ataupun mengobati rasa sakit. Untuk ini tiada biaya yang terlalu mahal dan tiada jarak yang terlalu jauh untuk ditempuh hanya sekedar untuk dapat mengurangi rasa sakit mereka.
Bahkan mereka bersedia untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk diakal sekalipun umpamanya dengan minta bantuan dari para dukun dan wong pinter maupun para arwah hanya karena ingin disembuhkan dari rasa sakitnya. Misalnya minta bantuan sang dukun cilik Ponari yang memiliki batu ajaib.
Pada saat orang menderita sakit, praktis ia benar-benar K.O. total. Ia sdh tidak bisa dan tidak bergariah lagi untuk melakukan apapun juga, boro-boro kegiatan sehari-hari untuk makan dan minum pun sudah ogah.
Pria yang bagaimana gagah perkasanya sekalipun pada saat ia menderita sakit tidak jarang yang menggerang, bahkan menangis, karena kesakitan. Oleh sebab itulah hampir semua obat tujuan yang paling utamanya ialah untuk mengurangi rasa sakitnya terlebih dahulu setelah itu baru penyembuhannya. Dan obat yang paling laris di dunia adalah obat-obatan yang bisa mengurangi atau menghilangkan rasa sakit.
Pada saat kita menggerang kesakitan, kita selalu mempertanyakan siapa sih biang keroknya yang mengirim penyakit ini kepada saya? Kok tega-teganya menyiksa saya! Dimana letak dosa dan kesalahan saya sehingga saya harus mengalami siksaan yang sedemikian beratnya? Kenapa saya? Why me God? Bukannya si Pulan yang lebih banyak nipeng maupun lacurnya?
Where is God when it hurts? Where are You God, ketika rasa sakit menerpa atau ketika penderitaan mengganduli tanpa henti-hentinya? Dan katakanlah, Tuhan, apa gunanya semuanya ini? Apakah kau senang melihat umat-Mu menderita?
Pertanyaan seperti ini bukan diajukan oleh orang awam seperti Anda dan saya saja, bahkan seorang Nabi yang sudah kuat imannya sekalipun tetap mengajukan pertanyaan dan keluhan yang sama: “Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai."
Saya kira jarang ada orang yang bisa mengucapkan: “Thank God for pain"! - "Terima kasih Allah atas rasa sakit ini!" Apabila sakit ini merupakan ANUGERAH dari Allah, maka ini akan merupakan anugerah yang paling tidak disenangi maupun disyukuri. The most unppreciated and unwanted gift!
Memang sakit itu tidak enak, tetapi apabila Anda mau hidup maka Anda harus sakit, sebab itu sudah merupakan pasangannya dari kenikmatan hidup yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.
Kesakitan adalah cara untuk dapat mengikat manusia menjadi satu, lihat saja di ruang tunggu "Bagian Perawatan Intensif" (ICU) dirumah sakit manapun juga. Disitu berkumpul segala macam jenis orang. Dari berbagai macam agama. Campur aduk antara wong kaya dan wong kere, wong goblok dan wong pinter, agamis maupun yang ateis.
Disitulah mungkin satu-satunya tempat di dunia ini, dimana perbedaan sudah tidak ada artinya lagi. Beraneka-ragam orang disitu diikat menjadi satu dengan sebuah ikatan yang amat kuat, walaupun mengerikan. Mereka diikat oleh keprihatian yang sama akan kesakitan seorang yang mereka kasihi yang tengah sekarat.
Dalam situasi seperti itu, kesenjangan sosial dan ekonomi dan perbedaan agama, serta-merta menguap lenyap seperti juga lenyapnya embun disang hari bolong. Disitulah tempat dimana orang yang belum saling mengenal sekalipun pun akan bisa saling merangkul dan menangis bersama untuk saling berbagi penderitaan mereka. Dan disitulah mereka merasakan, bahwa Allah yang mereka sembah itu sebenarnya sama!
Apakah penyakit yang saya derita ini berdasarkan santet, ataukah keinginannya dari si setan,ataukah karena kehendak Allah? Apakah penderitaan saya ini merupakan hukuman atas dosa-dosa saya; yang sedang dilimpahkan oleh Allah kepada saya? Atau karena ulah saya sendiri?
Saya akhiri tulisan ini dengan permohonan bantuan petromaksnya. Saya yakin banyak sekali pembimbing Agama yang dapat membantu Mang Ucup. Banyak terima kasih
Mang Ucup
Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar