Mengenang Situ Aksan (Balong Aksan) Bandung
Sambil memejamkan mata, Mang Ucup mencoba berusaha untuk mengingat kembali pengalaman masa kecil. Anggap saja seperti perjalanan nostalti dengan menggunakan time machine, tapi bukan Ahead to the Future melainkan Back To the Past!
Biaya masuk Situ Aksan (Balong Aksan) pada saat itu adalah Setalen (25 sen), sedangkan untuk menyewa perahu kecil untuk dua orang biaya sewanya seperak, dan perahu yang lebih besar untuk empat orang biayanya Dua Perak.
Kami berangkat dari rumah naik becak patungan beserta dengan tiga orang teman lainnya. Begitu kami masuk Situ Aksan, kami langsung bisa menikmati keindahan kolam pertama yang dipenuhi tanaman bunga teratai. Antara kolam pertama dan kolam kedua dihubungkan dengan satu jembatan kecil.
Di tengah Situ Aksan ada pulau kecil yang dapat dijangkau dengan perahu. Bukan hanya sekadar pada Hari Raya Peh Cun saja, melainkan hampir setiap akhir pekan orang boleh memancing ikan di sana. Pada saat itu, kebanyakan umpan yang digunakan terbuat dari bungki atau ampas kedelai.
Hiburan yang paling Mang Ucup senangi di Hari Raya Peh Cun, selain ngadu domba juga ngadu bagong dengan anjing. Maklum, pada saat itu saya termasuk budak bengal (anak nakal).
Namun sekarang saya tidak tega lagi melihat binatang dianiaya hanya demi tontonan semata. Misalnya, melihat kera disuruh menari di jalanan saja, Mang Ucup sudah merasa kasihan.
Di samping tontonan tersebut di atas, masih ada hiburan lainnya seperti balapan perahu, balapan tong air, maupun lomba menangkap bebek untuk anak-anak. Hiburan lainnya yang sering juga disajikan di sana adalah Wayang Golek, Orkes Harmonium Bunga Mawar atau Orkes Keroncong Candra Kirana.
Situ Aksan diyakini oleh masyarakat Bandung sebagai sisa peninggalan danau purba, Situ Hyan. Sayangnya, suasana seperti itu hanya bisa dinikmati hingga tahun 1970.
Pada awal tahun 1970, kawasan Situ Aksan mulai mengalami penyusutan karena pembangunan areal hunian di sekitarnya. Dan sekarang ini Situ Aksan sudah benar-benar lenyap tanpa sisa barang sedikitpun juga. Sungguh tragis!
Mang Ucup
Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar