Humor Mesir Kuno
OLEH: JAYA SUPRANA
ADKARA - Sebagai pendiri Pusat Studi Humorologi, semula saya menduga bahwa mustahil masyarakat Mesir Kuno memiliki humor. Ternyata saya keliru.
Meskipun saya sering membayangkan bangsa Mesir Kuno sebagai bangsa yang kaku dan fanatik terobsesi dengan kematian (karena Mumi dan Kitab Kematian), ternyata sebagai ekuilibrium horror mereka sangat menggemari hiburan. Humor Mesir Kuno sering kali menyasar kekuasaan, kehidupan sehari-hari, dan hubungan sosio-kultural antar manusia.
1. Lelucon Tertua di Dunia (1600 SM)
Satu di antara contoh lelucon tertua yang tercatat, ditemukan dalam Papirus Westcar. Lelucon ini melibatkan Firaun Sneferu yang sedang bosan. Lelucon tertua itu berkisah tentang "Bagaimana cara menghibur Firaun yang sedang bosan? Kau hanyutkan sebuah kapal penuh dengan wanita muda yang hanya mengenakan jaring ikan di Sungai Nil, lalu kau minta sang Firaun untuk pergi memancing". Lelucon ini merupakan bentuk humor Mesir kuno yang menggabungkan elemen hiburan verbal dan sindiran terhadap gaya hidup istana.
2. Satir Profesi
Para juru tulis (scribes) Mesir Kuno sangat suka menyindir profesi lain untuk menunjukkan betapa beruntung mereka memiliki pekerjaan yang "bersih". Dalam teks yang dikenal sebagai The Satire of the Trades, mereka menggambarkan penderitaan profesi secara jenaka sekaligus sadis. Misalnya tentang Pembuat Roti: "Dia berdiri di depan oven sementara kepalanya ada di dalam lubang api, dan kakinya terbakar" . Tentang Tukang Cuci: "Dia bekerja di tepi air bersama buaya. Dia menghabiskan sepanjang hari di air, dan jari-jarinya menjadi keriput seperti buah ara."
3. Humor Visual.
Selain teks, bangsa Mesir Kuno juga memiliki "komik" yang digambar di atas papirus atau serpihan batu (ostraca). Menariknya, mereka sering menggunakan hewan untuk menyindir struktur sosial manusia. Ada gambar menampilkan seekor tikus yang berperan sebagai raja sementara kucing-kucing menjadi pelayannya (kebalikan dunia nyata). Gambar serigala menggembala kambing, atau singa bermain papan permainan (Senet) dengan seekor kijang. Ini adalah cara mereka menertawakan ketidakadilan sosial atau memutarbalikkan hierarki kekuasaan tanpa harus menghina pejabat secara langsung. Fabel kemudian dikembangkan oleh Pancatantra, Tantri Kamandaka, Aesop, Jean de la Fontaine, George Orwell, dongeng Si Kancil, dll.
4. Teka-teki dan Permainan Kata
Bangsa Mesir kuno sangat menghargai keterampilan dalam bermain dengan kata. Berikut adalah contoh teka-teki Mesir kuno: Pertanyaan: "Sesuatu yang hamil saat kosong, dan menjadi kosong saat sudah melahirkan." . Jawaban: Jaring ikan.
5. Humor tentang Dewa
Meskipun masyarakat Mesir Kuno sangat religius, mereka juga bisa menertawakan para dewa. Dalam naskah kuno “The Contendings of Horus and Seth”, dewa-dewa digambarkan sering bertengkar manusia biasa, melakukan kesalahan konyol, dan bahkan saling menipu dengan cara yang memalukan. Ini menunjukkan bahwa bagi mereka, humor adalah cara untuk merasa lebih dekat dengan hal-hal yang sakral.
Dari segenap himpunan data tersebut dapat ditarik kesimpulan humorologis yaitu pada hakikatnya humor Mesir Kuno membuktikan bahwa meskipun ribuan tahun telah berlalu, subjek yang kita anggap lucu — seperti menyindir atasan, menyemooh pekerjaan yang sulit, menertawakan penderitaan orang lain, bermain dengan logika atau paradoks verbal maupun visual — ternyata tidak banyak berubah sejak zaman Firaun. Berarti selera humor mungkin saja berubah dari zaman ke zaman, namun naga-naganya sense of humor sudah melekat pada DNA manusia sejak manusia mampu berpikir.

Komentar