Kamis, 24 September 2026 | 01:07
OPINI

Lucy

Lucy
Ilustrasi Lucy (Dok Gemini)

OLEH JAYA SUPRANA

ASKARA - Fosil Lucy (Australopithecus afarensis) umur 3,2 juta tahun lalu, ditemukan tahun 1974 di Ethiopia oleh Donald Johanson. Diberi nama Lucy karena saat perayaan penemuannya, tim peneliti memutar lagu The Beatles Lucy in the Sky with Diamonds. Lusy udah berjalan tegak, tapi otaknya masih kecil seperti simpanse (400cc). Ini adalah nenek moyang jauh homo sapiens.

Film  LUCY (2014) mahakarya Luc Besson sering dianggap film aksi fiksi ilmiah biasa. Padahal, di balik adegan tembak-menembak, bunuh-membunuh, Besson sedang mencoba memvisualisasikan dua teori filsafat paling rumit: tentang waktu dan ruang. Film ini dibintangi Scarlett Johansson sebagai Lucy, dan Morgan Freeman sebagai Profesor Norman, yang perannya adalah juru bicara filsafat dalam film.

Film ini memakai mitos palsu "manusia hanya memakai 10% otak". Itu salah secara sains. Tapi lupakan itu. Mitos itu hanya alat untuk membawa kita ke pertanyaan filsafat yang asli: Apa yang terjadi jika kesadaran manusia tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu?

Pada 1% - 20% kapasitas otak, Lucy masih terikat oleh filsafat Aristoteles dan Newton. Ruang adalah kotak, waktu adalah garis lurus. Ia masih berpikir seperti kita: ada masa lalu, masa kini, masa depan. Ada di sini dan di sana. Ia masih butuh pistol dan mobil.

Memasuki 40% - 60%, Lucy masuk ke filsafat Einstein dan Bergson. Profesor Norman menjelaskan, waktu adalah satu-satunya satuan ukur yang nyata. Besson menampilkan ini dengan visual mobil yang menghilang. Ruang mulai melipat. Lucy bisa melihat sinyal ponsel, melihat aliran darah, melihat waktu tidak lagi linear. Ini adalah konsep durasi dari Henri Bergson: waktu bukan jam, tapi kesadaran yang mengalir.

Pada 80% - 100%, Lucy mencapai filsafat Spinoza dan Buddhisme. Inilah klimaks filosofis film ini. Lucy berkata: "Kita tidak pernah mati." Pada titik ini, ia tidak lagi berada di dalam ruang dan waktu. Ia ADALAH ruang dan waktu itu sendiri. Seperti yang dikatakan Profesor Norman: "Manusia menganggap dirinya berbeda, padahal kita semua adalah satu."

Besson menggambarkan pencerahan tertinggi bukan sebagai menjadi Tuhan yang berkuasa, tapi menjadi hilang. Di akhir film, Lucy tidak menjadi superhero. Ia menjadi flashdisk hitam. Ia menjadi ada di mana-mana dan tiada di mana-mana. Ini adalah konsep ANATTA (tanpa-aku) dalam Buddhisme dan panteisme Spinoza. Pencerahan sejati adalah ketika ego yang terikat ruang-waktu lenyap, dan yang tersisa adalah informasi murni.

Kelemahan film LUCY adalah terlalu terburu-buru. Evolusi kesadaran yang butuh ribuan tahun meditasi, diringkas dalam 90 menit dengan bantuan narkoba sintetis CPH4. Besson memberikan jawaban instan untuk pertanyaan yang seharusnya tidak punya jawaban instan.

Namun sebagai eksperimen visual, LUCY berhasil. Ia berhasil membuat ide abstrak dari Whitehead, Bergson, dan Spinoza menjadi tontonan popular. Bahwa waktu bukanlah sesuatu yang kita lalui, tapi sesuatu yang kita ciptakan agar kita bisa memahami kekacauan semesta.

Pesan akhirnya sederhana: Manusia yang terobsesi menguasai ruang dan waktu pada akhirnya akan dikuasai olehnya. Pembebasan sejati adalah melepaskannya. Bebas dari apa yg disebut sebagai kemelekatan.

 

Komentar