Kamis, 22 April 2021 | 02:29
NEWS

Saring Informasi Sebelum Disebar untuk Tangkal Hoaks Covid-19

Saring Informasi Sebelum Disebar untuk Tangkal Hoaks Covid-19
Dialog Produktif bertema Melawan Hoaks dan Misinformasi Vaksinasi Covid-19. (Dok FMB9ID_IKP)

ASKARA - Informasi salah terkait vaksin Covid-19 terus beredar di masyarakat. Dari penularan, obat Corona, serta chip yang ada di dalam vaksin sempat meresahkan masyarakat. 

Penyebaran hoaks di masa pandemi ini sangat merugikan, karena menimbulkan rasa tidak percaya pada otoritas pemerintah. Juga program vaksinasi Covid-19 yang tengah berjalan.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Widyawati menyebut, isu tentang kesehatan merupakan isu spesifik dan dibutuhkan keahlian khusus untuk mengidentifikasi sebuah informasi beredar itu nyata atau hoaks. 

“Maka dari itu, kami selalu mengimbau masyarakat untuk melakukan saring sebelum sebar (3S),” katanya dalam Dialog Produktif bertema Melawan 
Hoaks dan Misinformasi Vaksinasi Covid-19, Rabu (7/4). 

Dia menyadari hoaks belakangan banyak mengenai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau dengan vaksinasi Covid-19. Nantinya hoaks itu akan ditelusuri dan olah bersama. 

"Karena isu kesehatan perlu ahli untuk klarifikasi. Apabila informasi tersebut salah, maka kami luruskan dengan mengadakan konferensi pers dan menyebarkannya di kanal-kanal kami,” terang Widyawati. 

Communication for Development Specialist UNICEF, Rizky Ika Syafitri 
menyampaikan organisasi Kesehatan dunia (WHO) sendiri menempatkan hoaks atau misinformasi sebagai salah satu ancaman global kesehatan masyarakat. 

“Satgas Penanganan Covid-19, dan Kementerian Kesehatan sampai membuat task force sendiri untuk menangani hoaks," imbuh Rizky. 

Sedikitnya ada 5 hoaks baru yang tersebar setiap hari, sementara untuk mengklarifikasinya perlu proses. "Kalau dilihat secara umum, hoaks vaksinasi sebenarnya berulang," tutur Rizky. 

Misalnya tentang KIPI, tahun 2017-2018 saat Kemenkes melakukan kampanye besar vaksinasi campak rubella, dengan target vaksinasi kepada 77 juta anak Indonesia. 

"Salah satu kenapa cakupannya tidak mencapai 95 persen karena hoaks yang beredar,” terang Rizky menceritakan dampak hoaks yang sangat mempengaruhi kampanye imunisasi.

Dia berpendapat, masyarakat perlu dibekali dengan kemampuan literasi digital, untuk memahami tidak semua informasi yang bersumber dari internet itu benar.

Strategi lain ialah perlu dilakukan dalam mencegah penyebaran hoaks, masyarakat perlu dipersiapkan mengenai informasi bahwa ada pihak-pihak tidak ingin bangsa ini keluar dari pandemi.

“Sehingga saat masyarakat menerima hoaks mereka sudah tahu jenis-jenis dan tidak terpengaruh dengan hoaks tersebut,” tandas Rizky. Tercatat hingga Selasa (6/4) lalu ada 154 yang beredar tentang vaksin Covid-19. 

Komentar