Sabtu, 27 November 2021 | 12:09
OPINI

Tiga Pelukis Indonesia Yang Mendunia Maupun Melegenda

Tiga Pelukis Indonesia Yang Mendunia Maupun Melegenda
Affandi Koesoema

Ketika Mang Ucup kelas 3 SD Babah (ayahanda) memberikan hadiah kepada saya berupa pensil berwarna De Drie Vogels dari Faber Castell, karena Babah mengetahui bahwa saya senang menggambar. Ketika kecil saya juga pernah ingin jadi pelukis komik maka saya berguru kepada John Lo pelukis komik Wayang Purwa.

Disamping itu juga saya pernah jadi murid dari pelukis kondang : Kartono Yudhokusumo (1924 – 1957) beliau dahulu punya Sanggar di Lembah Siliwangi – Bandung.

Karena tujuan hidup saya ingin jadi Juragan dan menilai kalau jadi seniman itu selalu kere bin miskin maka saya tidak melanjutkan keinginan untuk jadi pelukis.

Namun apakah anda tahu bahwa hasil karya dari para Maestro pelukis Indonesia sekarang ini sudah mencapai puluhan milyar Rp untuk setiap hasil karyanya.

Mengingat keterbatasan waktu maka dengan ini saya hanya mampu memperkenalkan tiga pelukis Maestro Indonesia saja walaupun saya yakin masih banyak puluhan pelukis lainnya yang juga memiliki prestasi maupun nama besar seperti mereka. Siapa saja?

Basuki Abullah (1915-1993)

Basuki Abdullah merupakan pelukis potret yang terkenal di dunia. Ia lahir di Surakarta, 25 januari 1915 dan meninggal pada 5 November 1993. Ia telah mendapatkan beasiswa pada tahun 1933 untuk belajar di Academie Voor Beeldende Kunsten Den Haag, Belanda.

Ia juga merupakan salah satu pelukis Indonesia yang mengharumkan nama bangsa, karena pada 6 September 1948, sewaktu penobatan Ratu Yuliana di Belanda Basuki berhasil mengalahkan 87 pelukis kaliber internasional dalam sebuah sayembara yang diadakan di Amsterdam.

Pelukis terkenal Indonesia yang beraliran realis dan naturalis ini pernah diangkat menjadi pelukis Istana Kerajaan Thailand pada tahun 1960-an dan pelukis resmi Istana Merdeka pada tahun 1974.

Sebelum adanya Photoshop beliau sudah mampu melukis wajah orang menjadi lebih baik dan lebih cantik daripada aslinya.

Oleh sebab itulah ia disukai oleh kaum jetset. berbagai negarawan dan istri mereka berlomba meminta agar dilukis olehnya, seperti Bung karno, Pangeran Philip dari Inggris, Pangeran Bernard dari Belanda maupun Sultan Brunei .

Ia juga merupakan salah satu pelukis Indonesia yang mengharumkan nama bangsa, karena pada 6 September 1948, sewaktu penobatan Ratu Yuliana di Belanda Basuki berhasil mengalahkan 87 pelukis kaliber internasional dalam sebuah sayembara yang diadakan di Amsterdam. Bahkan tidak kurang dari 22 negera di dunia mengoleksi karyanya.

Affandi Koesoema (1907 – 1990)

Diantara para maestro dan legenda pelukis terkenal Indonesia, mungkin Affandi lah yang menggunakan teknik lukis paling aneh. Ia melukis tidak menggunakan kuas.

Proses awal yang ia lakukan adalah menumpahkan cat-cat berwarna ke dalam kanvas, jika dilihat mungkin akan memberi kesan yang amburadul.

Namun setelah itu Affandi akan menyikat warna-warna cat tersebut dengan jarinya hingga tahap finishing dengan hasil yang menawan.

Affandi Koesoema termasuk seniman yang berumur panjang. Ia lahir di Cirebon pada tahun 1907 dan meninggal pada tahun 1990.

Affandi digadang-gadang sebagai pelukis Indonesia yang paling terkenal di kancah dunia, berkat gaya ekspresionisnya dan romantisme yang khas.

Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di Amerika Serikat, Inggris, India dan Eropa. Ia juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dan rendah hati.

Pernah pada suatu ketika, kritisi lukisan dari Barat menanyakan apa gerangan aliran-aliran lukisannya. Tanpa disangka ia malah balik bertanya dan meminta kritikus Barat tersebut untuk menjelaskan perihal aliran-aliran yang ada dalam lukisan.

Namun, banyak orang yang menilainya jenius. Karena semasa hidupnya Affandi telah menghasilkan karya lebih dari 2000.

Delsy Syamsumar (1935 -2001)

Multitalenta, kata itu sangatlah pantas untuk menggambarkan sosok pelukis terkenal Indonesia yang bernama Delsy Syamsumar.

Ya, seniman yang digadang-gadang sebagai yang terbaik se Asia Tenggara ini tidak hanya memiliki bakat melukis saja, namun juga dikenal sebagai komikus, ilustrator, desainer dan lain sebagainya.

Hal ini terbukti saat ia berhasil memenangkan penghargaan Art Director terbaik di Asia lewat film yang berjudul “Holiday in Bali” dengan sutradara H. Usman Ismail dalam sebuah Festival Film di Tokyo pada tahun 1962.

Dalam jagad seni lukis, ia bukanlah orang sembarangan. Kerja keras, kedisiplinan dan ketekunannya menghasilkan karya bernilai tinggi yang bisa membuat banyak orang terpukau.

 Bahkan menjadikan Delsy Syamsumar sebagai satu-satunya pelukis Indonesia yang diberi predikat Litteratures Contemporaines L’ Azie du Sud Est dan II’exellent dessinateur oleh Lembaga Seni dan Sejarah Perancis melalui buku literatur seni dunia yang fenomenal, France Art Journal 1974.

Delsy Syamsumar lahir di Medan pada tanggal 7 Mei 1935. Bakat seni yang beraliran Neo-Klasik ini sudah malai terlihat saat ia masih berusia 5 tahun. Beruntung ia bertemu dengan Wakidi, seorang pelukis ulung pada era Orde Lama.

Dari pertemuan itulah Delsy Syamsumar memperdalam ilmu lukis sekaligus terus mengasah bakat yang dimilikinya. Pernah suatu ketika dalam suatu pameran, buah karyanya dicatat sebagai lukisan termahal bersamaan dengan pelukis kondang lainnya seperti Affandi dan Basuki Abdullah.

Hal tersebut mengukuhkan Delsy Syamsumar tidak hanya sebagai pelukis terkenal Indonesia namun juga sebagai salah satu legenda yang ada. Delsy Syamsumar meninggal dunia pada tanggal 21 Juni 2001 di Jakarta pada usia 66 tahun.

https://www.youtube.com/watch?v=becuRUu-U9M&t=10s

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar