Kamis, 04 Juni 2026 | 06:41
NEWS

Penjelasan PVMBG Soal Amblas di KM 122 Tol Cipali

Penjelasan PVMBG Soal Amblas di KM 122 Tol Cipali
Jalur arah Jakarta KM 122 Tol Cipali amblas. (Antara/PJR Cipali)

ASKARA - Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menerjunkan tim ke lokasi amblasnya tanah di Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) KM 122.400 arah Jakarta. 

Kepala PVMBG Andiani mengatakan, jenis gerakan yang terjadi di wilayah Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, Selasa (9/2) pukul 03.00 WIB itu merupakan nendatan lambat atau rayapan yang ditandai dengan retakan pada badan jalan.

"Retakan terjadi pada badan jalan Jalan Tol Cipali sepanjang 20 meter dengan kedalaman satu meter pada jalur arah Jakarta," kata Andiani melalui keterangan resmi.

Dia menjelaskan, secara umum, lokasi bencana yang berdampak retakan dan amblasnya jalan hingga tidak dapat dilalui kendaraan dan menyebabkan arus lalu lintas di Tol Cipali tersendat itu merupakan daerah landai hingga agak curam yang berada di bantaran Sungai Cipunagara dengan kemiringan lereng di bawah 20 derajat. Lokasi tersebut berada pada ketinggian 20-25 meter di atas permukaan laut.

"Di sekitar area gerakan tanah tidak terdapat struktur geologi berupa lipatan maupun sesar atau patahan," kata Andiani.

Andiani juga mengatakan, berdasarkan Peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah Bulan Februari 2021 di Kabupaten Subang, ruas Jalan Tol Cipali KM 122 juga berada pada wilayah dengan potensi gerakan tanah rendah.

"Artinya, pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah kecuali pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai dan gawir atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama (di sekitar lokasi bencana) telah mantap kembali," jelasnya.

Berdasarkan analisa tersebut, PVMBG menyimpulkan bahwa terdapat sedikitnya empat dugaan penyebab KM 122 Tol Cipali amblas. Pertama, kemiringan lereng yang tidak tercantum curam sehingga gerakan tanah relatif lambat.

Kedua, kemungkinan material timbunan yang kurang padu atau mudah tererosi. Ketiga, pengaruh dari erosi air permukaan (air hujan maupun aliran sungai) di kaki lereng mengingat lokasinya yang berada tidak jauh dari sungai besar.

"Terakhir, curah hujan yang tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah," demikian Andiani.

Komentar