Kamis, 04 Juni 2026 | 11:57
NEWS

Tere Liye Sambut Baik Penghapusan Tilang di Jalan, Ini Usulan Reformasi Polisi

Tere Liye Sambut Baik Penghapusan Tilang di Jalan, Ini Usulan Reformasi Polisi
Ilustrasi. (Tribunnews)

ASKARA - Penulis novel ternama Tere Liye menyambut positif rencana kepala Polri baru Komjen Listyo Sigit Prabowo menghilangkan sistem penilangan lalu lintas terhadap pengendara yang melanggar. Sebab, sanksi tilang di tempat dinilai tidak efektif. 

Sebagai gantinya, secara bertahap kepolisian akan mengedepankan mekanisme penegakan hukum berbasis elektronik di bidang lalu lintas atau electronic traffic law enforcement (ETLE). 

"Kalau mereka mau dengerin terus mau dilaksanakan mudah saja mereformasi polisi itu. Pertama, sudah saatnya tinggalkan razia-raiza di jalanan. Buat apa? Itu tidak efektif. Ganti total dengan e-tilang," tulis Tere Liye dalam akun Facebook, Kamis (21/1).

Nantinya, Polri harus menyediakan kamera CCTV di seluruh Indonesia. Meski hal itu menjadi pekerjaan berat namun diyakini dapat mengubah perilaku anggota polisi dan pengendara itu sendiri. 

"Pasang CCTV di setiap jengkal jalan raya. Butuh investasi memang, tapi percayalah itu worth it sekali. Kita bisa mengubah tabiat pengguna kendaraan bermotor, saat setiap jengkal jalan diamati," jelas Tere Liye.

Dia mengusulkan jika ada pengendara yang melanggar lalu lintas namun enggan membayar sanksi tilang elektronik maka dokumen kendaraannya dapat dibekukan. 

"Besok-besok kirim jutaan surat tilang ke mereka. Tidak bayar e-tilang, STNK mereka bekukan. Sekali pengendara tahu setiap jalan diawasi, waah, mereka akan kapok. Berubah. Bukan kayak selama ini, razia, mereka melipir," tulis Tere Liye. 

Selain itu, reformasi kepolisian juga bisa dimulai dengan e-lapor. Apapun laporan di polres, polsek, polda, bahkan pos polisi di jalan masuk ke sistem. Dengan demikian semua laporan dapat terpantau.

"Di situ bisa dilihat, sudah berapa lama itu kasus diproses. Ngirim barang saja bisa dilacak sudah sampai mana, masa' laporan penegakan hukum ribet," kata penulis novel Negeri Para Bedebah itu.

Tere Liye menambahkan, musibah yang menimpa masyarakat seperti kehilangan dompet atau ponsel kerap dilaporkan kepada polisi bakal terawasi oleh sistem. Tentu harus dibarengi dengan tindakan yang cepat. 

"Maka, laporan rakyat yang kehilangan sapi, motor, HP, dompet, juga laporan tentang kejahatan, dan lain-lain, semua bisa dilihat rakyat Indonesia. Ada target penyelesaian, siapa yang menangani, dan lain lain, lengkap," ujarnya. 

Bagi petugas yang lamban merespons laporan masyarakat maka harus menerima konsekuensi. Sebaliknya, jika petugas mampu menanggapi masalah dengan cepat dapat apresiasi.

"Jika tidak selesai, kelihatan semua. Kapolri bisa lihat. Aparat polisi yang tidak becus terima nasib naik pangkat lama. Aparat polisi yang berprestasi kasih reward naik pangkat cepat," jelas Tere Liye yang memiliki nama asli Darwis. 

Komentar