Merasakan Keberadaan Tuhan Melalui Olah Rasa Seperti Paham Jawa
ASKARA - Tokoh umat Katolik, Franz Magnis Suzeno berbicara tentang kepercayaan kepada Tuhan sebagai Pencipta kehidupan. Sekaligus akan menjawab pertanyaan beberapa orang yang meragukan keberadaan Tuhan.
Romo Magnis sapaan akrabnya menyebut, tak bisa disangkal bahwa ada orang yang mulai ragu-ragu. Tentunya keraguan dari beberapa sudut. Dia menyinggung sebagian orang yang masih tak percaya berkaitan dengan keyakinan.
"Itu gagasan tidak mengesankan karena Tuhan tidak kelihatan, kalau orang hanya mengira secara indrawi, fisik dan teknis bisa dirasakan dari mana dia tahu bahwa di seberang tidak ada," kata Romo Magnis dalam YouTube Jaya Suprana, Selasa (22/12).
Dia menceritakan kisah tentang seorang kosmonot Uni Soviet bernama Yuri Gagarin yang berhasil berjalan-jalan di luar angkasa. Dengan pesawat luar angka yang pertama dikirim oleh negeri Beruang Merah itu.
Kejadian terjadi pada awal 1960 lalu, ketika Gagarin sudah berada di luar angkasa. Dia mendapat perintah melihat ke luar jendela pesawat untuk memastikan keberadaan Tuhan. Namun tentu saja itu tidak bisa terbukti.
"Itu diumumkan di Uni Soviet bahwa Gagarin tidak melihat Tuhan. Andai kata melihat sesuatu sudah pasti bukan Tuhan, karena Tuhan tidak terlihat. Andai kata Gagarin melihat Tuhan, pasti dia tidak bisa telepon dengan pemimpin Uni Soviet kala itu," cerita Romo Magnis.
Menurutnya, pendekatan seperti itu tidak ada dan saat ini banyak pertanyaan yang meragukan keberadaan Tuhan. Maka Romo menyampaikan jika ingin merasakan Tuhan bisa bertolak dari sesuatu yang dimengerti orang Jawa.
"Orang Jawa tahu bahwa yang sebetulnya paling penting menemukan yang benar dalam semua dimensi itu adalah roso (rasa)," terangnya.
Menurutnya manusia perlu mengolah rasa. Memperdalam rasa tersebut hingga kian dalam rasanya, Sehingga akan menyadari realitas. Bayangkan dalam paham Jawa dan hal itu tidak keliru. "Di dasar sukma manusia. Kita bisa bertemu dengan yang sukma," cetusnya.
Romo Magnis mengumpamakan untuk membayangkan berada di rerumputan yang hijau, kemudian lubang digali. Lama-lama tanahnya basah, gali lagi lebih dalam sesudah beberapa meter ada air.
"Begitu ketika turun dalam diri kita, kita merasakan sesuatu itu Tuhan. Saya merasa mestinya juga seorang atheis mengerti," tandasnya.

Komentar