Jaya Suprana: Musik Maunya K-Pop, Musik Pop Maunya dari Amerika, Itu Kekeliruan Berbangsa
ASKARA - Budayawan Jaya Suprana menyambut baik gerakan literasi yang digagas generasi milenial dari penjuru negeri. Gerakan tersebut digelar untuk meningkatkan minat literasi menjadi budaya yang dijalankan suatu masyarakat.
"Saya sangat terkesan kepada gerakan literasi, yang menurut saya itu suatu gerakan yang diprakarsai oleh generasi milenial," kata Jaya Suprana dalam diskusi virtual Generasi Literasi, Minggu (18/10).
Bahkan generasi milenial patut berbangga dengan gerakan literasi, karena semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Terlebih adanya pegiat literasi di kalangan masyarakat dan pendidikan.
"Generasi milenial itu sangat membanggakan, karena pada masa saya itu tidak ada seperti ini. Kita semua disuruh cari sendiri-sendiri, tapi ini menunjukan gejala yang positif dan kontrukstif," ucap Jaya.
Jika berbicara kebanggaan nasional tentu berkaitan dengan kebangsaan. Jaya Suprana menilai kebanggaan yang dimiliki bangsa ini masih kurang. Meski Indonesia merupakan bangsa yang besar dan hebat.
"Kebanggaan nasionalnya relatif kurang, karena kita mungkin terbiasa dididik oleh para penjajah untuk tidak menghargai peradaban dan kebudayaan kita sendiri," imbuh Jaya.
Menurutnya, jika punya semangat kebanggaan nasional, maka Indonesia menjadi bangsa yang sulit terjajah. Namun semangat kebanggaan nasional justru sengaja dipatahkan bangsa penjajah.
"Kita beruntung sekali, karena tidak semua keluarga bangsa Indonesia bisa dipatahkan semangatnya. Seperti Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Soedirman serta Sutan Syahrir," jelasnya.
"Semua tokoh kemerdekaan itu adalah generasi muda, yang semangat kebanggaan nasionalnya tidak bisa dipatahkan oleh kaum penjajah," tambah Jaya Suprana.
Kemudian para pahlawan itu memperjuangkan kemerdekaan dengan mengusir penjajah dari Indonesia. Seharusnya generasi saat ini lebih mencintai perjuangan pahlawan terdahulu, bukan sebaliknya.
"Beliau-beliau perjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Kalau kita perhatikan selama 75 tahun masih ada warga Indonesia yang masih menganut paham memuja yang serba asing," tuturnya.
"Musik saja maunya K-pop, terus musik pop maunya dari Amerika Serikat. Kemudian tarian kalau bisa dansanya hip hop. Itu adalah kekeliruan dalam berbangsa," timpalnya.
Pendiri MURI itu menambahkan, bahwa bangsa yang kuat ialah jika masyarakatnya mempunyai semangat kebanggaan nasional. Dengan demikian akan sulit dijajah. Terlebih di tengah masa sulit akibat pandemi Covid-19.
"Jadi harapan kami kepada generasi penerus bangsa Indonesia, jangan biarkan diri kita memecah belah diri kita sendiri. Mari kita bersatu padu dan menjalin semangat nasional," tandasnya.

Komentar