Senin, 08 Juni 2026 | 03:13
NEWS

MURI Beri Anugerah Mahakarya Kebudayaan Kepada Para Tokoh Berpengaruh

MURI Beri Anugerah Mahakarya Kebudayaan Kepada Para Tokoh Berpengaruh
Prof. Emil Salim, salah seorang tokoh penerima anugerah mahakarya kebudayaan dari MURI. (Dok MURI)

ASKARA - Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2020 menapaki langkahnya di usia 30 tahun. Memperingati hari spesial tersebut, MURI menggelar dan memberikan anugerah mahakarya kebudayaan secara virtual. 

Insan-insan dan organisasi terpilih merupakan hasil seleksi ketat Dewan MURI dengan beragam kategori bidang, seperti kemanusiaan, olahraga, kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, seni budaya, korporasi, dan inventori. 

Penyerahan piagam MURI dilaksanakan secara bertahap dari bulan Juli 2020 hingga Agustus 2020. MURI juga mengadakan Penganugerahan Mahakarya Kebudayaan bertajuk "Berbakti untuk Negara". 

"MURI memberikan anugerah mahakarya kebudayaan. Khusus kepada para tokoh-tokoh yang telah berjasa. Mempersembahkan mahakarya kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia," kata Pendiri MURI, Jaya Suprana dalam keterangan video, Rabu (26/8).

Hal itu sebagai penghargaan kepada insan maupun lembaga yang telah mengabdikan dirinya, untuk negara dan masyarakat Indonesia berdasarkan keahliannya masing-masing. 

Adapun insan maupun lembaga yang akan menerima Penghargaan Mahakarya Kebudayaan di antaranya: 

1. Prof. Emil Salim, 

"Tokoh Lingkungan Hidup" 
(Menteri Lingkungan Hidup yang menjabat selama 15 tahun pada 1978-1993. Pendiri Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) pada tahun 1994 dan masih aktif terlibat sebagai pembina KEHATI sampai saat ini).

2. Dr. Seto Mulyadi

"Pemerhati dan Praktisi Pendidikan dan Perkembangan Anak" 
(Dosen, penulis buku dan artikel ilmiah, sebagai Ketua Umum LPAI banyak menangani kasus perlindungan anak. Di dunia pendidikan aktif mengkampanyekan pentingnya Pendidikan Usia Dini dan pendidikan ramah anak).

3. Ida I Dewa Gede Catra

"Penyulih Aksara Bali dan Penyalin Lontar Terbanyak" (Penulis lontar yang telah menulis 4.120 cakep lontar-sejak 1972 untuk kepentingan koleksi perpustakaan pribadi dan untuk memenuhi permintaan masyarakat maupun instansi pemerintah).

4. Alfonsa Raga Horeng

"Pelestari Kain Tenun Lepo Lorun" 
(Pendiri sanggar bernama Lepo Lorun yang artinya "rumah tenun" dan terbuka bagi masyarakat umum).

5. Saung Angklung Udjo 

"Sanggar Pelestari Angklung" 
(Pelestari kebudayaan Sunda, khususnya angklung kepada masyarakat melalui sarana pendidikan dan pelatihan).

MURI mengundang seluruh elemen masyarakat untuk menjadi saksi Penganugerahan Mahakarya 
Kebudayaan secara daring pada Jumat, 28 Agustus 2020 pukul 14.00 WIB. 

Komentar