Mendaki Gunung Semeru Sendirian, Guna Melatih Mental (1)
ASKARA - Kisah perjalanan ini sudah lama berlalu. Sekitar 20 tahunan silam. Baru saat ini berkesempatan dicatat.
Pastinya detail kronologis yang diingat sudah tidak 100 persen. Terlebih urusan dokumentasi, entah kemana film negatif itu. Setidaknya garis besar kisah ini masih terngiang; Mendaki Gunung Semeru Sendirian Guna Melatih Mental.
Sekitar sebulan sebelum pendakian, saya baru saja selesai mengikuti pendidikan. Pendidikan Dasar pada sebuah organisasi kegiatan alam terbuka. Pendidikan tersebut menghabiskan waktu selama satu bulan penuh. Di luar 2-3 minggu proses prapendidikan, termasuk mengikuti tes masuk, dan persiapan pendidikan.
Selain baru selesai mengikuti pendidikan, tahun 1999 kala itu, fenomena reformasi masih sangat kental. Nuansa idealisme dibenak ini, turut mengental. Termasuk dalam berkegiatan, tekad menjadi sedikit 'ekstrem'. Mendaki ke Semeru sendirian, menggebu! Bukan tidak ada teman untuk naik bareng, itulah tekad hasil berlatih.
Saat menyiapkan perlengkapan, tekad itu cukup berpengaruh. Ransel 65 liter yang biasa temani mendaki, digeser backpack 30 liter. Untuk bermalam, ponco sarungbag lebih favorit. Jaket tebal ditukar sweater. Pakaian hanya 3 set; yang bersih (salin), untuk dijalan (mendaki), untuk tidur. "Mental berlatih harus dijaga," harapku.
Persiapan perbekalan tak kalah ringkes. Disusun menjadi 9 paket untuk 3 hari, tidak kurang tidak lebih. Setiap paket berisi beras. Lauknya campur, mie instant 5 bungkus dan sarden kecil 4 kaleng. Tidak ada makanan kecil atau minuman suplemen sachet. Untuk makan di jalan atau di kereta, rencana mampir di warung.
Perjalanan diawali dari stasiun Senen menuju stasiun Malang, dengan merogoh tiket kereta 45 ribu kalau tak salah ingat. Situasi di dalam kereta dan stasiun kala itu tidak sama dengan sekarang; lebih nyaman, aman, tertib. Menyaksikan situasi itu tidur di kereta dengan tidak ada teman untuk bergantian berjaga, bukan keputusan pas.
Setiba di stasiun Malang yang 'memakan' waktu 15-16 jam, perjalanan 30 menit selanjutnya menggunakan angkot menuju Tumpang. Diteruskan ke Ranupani naik jeep berisikan 5-7 orang, dengan waktu tempuh 2 jam. Saat saweran untuk biaya sewa jeep, saya membayar 50 ribu. Sebenarnya bisa 20 ribu kalau naik pickup sayur yang mau ke Ranupani. "Kayaknya seruan ngobrol sama pendaki lain," gumamku.
Saat mendaftar di loket Ranupani, sebenarnya petugas khawatir karena saya datang sendiri dan hanya membawa backpack tapi tujuan Puncak Mahameru. Karena tahun-tahun itu tidak ada aturan larangan itu, terima tiket langsung saya tancap gas. Saat perjalanan dari Ranupani ke Ranukumbolo matahari terlihat sudah geser ke barat.
Setelah 3 jam trekking, tampaklah Danau Ranukumbolo di bawah sana. Tampak pula di depan saya satu rombongan pendaki yang sedang menuruni bukit yang sama. Rombongan yang berjumlah 5 orang itu berasal dari Bekasi. Begitu kata salah seorang pendaki paling belakang ketika langkah ini lebih mendekat.
Tiba di Ranukumbolo sore hari. Ketua rombongan tadi mengajak saya bergabung di rombongannya. Terlebih setelah mendengar saya juga berasal dari Bekasi. Lalu kami memilih area bermalam di ujung yang dekat jalur lintasan esok hari. Saat tenda dome mulai dibangun, saya dirikan bivak ponco di dekat tenda rombongan tadi. (djali ahmad/traveller)

Komentar