Rabu, 10 Juni 2026 | 16:47
NEWS

Uji Coba Vaksin Covid-19 dari Tiongkok Harus Aman dan Transparan

Uji Coba Vaksin Covid-19 dari Tiongkok Harus Aman dan Transparan
Ilustrasi vaksin Covid-19 (Industry)

ASKARA - Vaksin Covid-19 yang diproduksi perusahaan farmasi Sinovac asal Tiongkok akan diujikan mulai Agustus kepada 1620 relawan. 

Laporan Kepala Bagian Komunikasi Perusahaan Bio Farma Iwan Setiawan, sebanyak 2400 unit vaksin tersebut telah tiba di Indonesia. Bio Farma akan melakukan uji klinis fase III, sedangkan fase I dan II sudah dilakukan di Tiongkok. 

Untuk itu, anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta pemerintah memastikan dulu bahwa vaksin tersebut aman untuk diujicobakan.

"Jika benar sudah uji coba fase satu dan dua datanya harus transparan, jangan ada yang ditutup-tutupi. Kita tahu BPOM China pernah mengumumkan adanya sejumlah vaksin di bawah standar yang diproduksi dan diedarkan ke masyarakat. Ini kan berbahaya, apalagi jika digunakan pada anak-anak. Kita harus mengantisipasi hal tersebut agar jangan terjadi di Indonesia," jelasnya melalui keterangan tertulis, Senin (3/8).

"Harus benar-benar dipastikan bahwa proses produksi dan pengedaran vaksin sudah sesuai standar WHO dan jangan sampai ada yang dilewatkan. Sebab vaksin yang cacat produksi atau di bawah standar pasti  tidak aman dan membawa risiko tinggi pada penggunanya," tambah politisi PKS itu.

Netty menjelaskan, berdasarkan standar WHO, vaksin harus melalui uji coba ketat sebelum diedarkan ke masyarakat. Pengujian di laboratorium pada hewan percobaan meliputi uji keamanan, immunogenic, dan efikasi. Sedangkan uji klinis pada manusia dilakukan sebanyak tiga fase. 

Selain itu, pemerintah harus bisa menjelaskan kepada masyarakat mengapa vaksin Covid-19 buatan perusahaan Sinovac yang dipilih untuk diuji di Indonesia.

"Dari sejumlah produsen dan negara pembuat vaksin Covid-19 kenapa dari China yang diujikan? Ini harus dijelaskan oleh pemerintah kepada publik dengan komunikasi yang baik. Jangan sampai tersebar berita-berita yang menyatakan keraguan masyarakat atas tidak amannya vaksin tersebut," ujar Netty. 

"Jika memang aman dan prosesnya sesuai standar WHO publikasikan datanya secara transparan. Jangan biarkan publik curiga dan menduga-duga ada sesuatu dalam pengujian vaksin tersebut," pungkasnya. (industry)

Komentar