Rabu, 17 Juni 2026 | 15:30
COMMUNITY

Rumah Kos Bekas Pesugihan (5)

Rumah Kos Bekas Pesugihan (5)
Ilustrasi. (Bagusviddy)

ASKARA - Suara "Klik" teredam kunci kuputar dan pintu berdenyit terbuka beberapa senti. Kulihat wajah putih kusut berjerawat dan kilatan kacamata muncul di ruang antara pintu dan ambang pintu.  

"Lama sekali sih bukain pintunya," ujar Ani. Ani mengamatiku beberapa detik sebelum akhirnya mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah. 

"Ya maaf," jawabku sambil mengelap keringat di keningku. Aku berdiri di depan pintu melihat ke sembarang arah mencari-cari bayangan orang yang tadi kulihat.

"Heh, Buh nyari apaan kamu? Buruan tutup pintunya!" 

"Kamu tadi pas di luar gak lihat orang?"

"Orang apa? Gak ada orang di luar, kamu itu kenapa sih aneh banget. Habis ngapain kamu?"

"Ha? Maksudnya?"

"Ya kamu itu habis ngapain sampai keringetan kayak gitu? Habis push up kamu ha?"

"Enggak, takut aku. Tadi di luar rumah ada orang jalan, aku takut kalau itu maling atau rampok gitu. Mana dirumah sendirian lagi," ujarku sambil mengunci pintu. 

"Lah emang Muh sama Sigit ke mana?"

"Pergi ke Tulungagung. Kamu kok balik sekarang, katanya besok?"

"Gak jadi, kalau balik besok takut gak istirahat. Makanya cuma sehari di rumah. Yaudah ya Buh aku mau istirahat dulu capek banget aku."

Aku menganggukkan kepalaku. Ani masuk ke dalam kamarnya dan aku juga kembali ke kamarku. Aku masih ketakutan tapi setidaknya sekarang aku gak sendirian di rumah. Aku duduk di ujung ranjang. Kuraih kaleng susu yang tadi kuletakkan di atas meja dan kutenggak sampai habis. Dan kuletakkan kembali kaleng kosong di atas meja. Kurebahkan badanku di tempat tidur. Mulutku komat kamit baca doa tidur, ya kali aja malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa bermimpi. Kupejamkan mataku. Setelah semua hal yang udah terjadi tidak butuh waktu lama untukku tertidur lelap. 

Setengah sadar samar-samar aku merasakan ada seseorang di belakangku. Kulitnya menyentuh lenganku. Dingin. Rasanya dingin, aku ingin membuka mataku tapi rasanya berat kelopak mataku seperti dilem. Aku diam tanpa bergerak, di dalam hati sambil tetap memejamkan mata aku melafalkan ayat kursi. Perlahan-lahan kubuka mataku. Allahhuakbar, ada tangan putih pucat sedang memelukku dari belakang. Langsung saja aku beranjak bangun dan lari tanpa menoleh ke belakang. Pintu kamar kutarik dengan kasar, aku keluar tanpa kututup kembali. Kugedor-gedor kamar Ani. "An! Bangun. Ani!" teriakku sambil terus menggedor-gedor pintu.

"Ya sebentar," sahut Ani dari dalam kamarnya. Terdengar suara kunci dibuka dan beberapa detik kemudian pintu terbuka. Aku langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku menabrak Ani.

"Aduh," ujar Ani. "Ada apa sih Buh malam-malam berisik sekali?" Aku duduk di ujung tempat tidur.

"Aku mau tidur di sini. Boleh ya". Ani menatapku. "Ya udah, emangnya kenapa mau tidur di kamarku."

Ani merangkak ke atas tempat tidurnya dan merebahkan badan. "Aku takut, habis mimpi buruk," jawabku sambil meraih botol air minum. Kutenggak air mineral untuk membasahi tenggorokanku yang dari tadi terasa kering. 

"Ada-ada aja kamu ini Buh. Ya udah buruan tidur, ngantuk aku," ujar Ani sambil memeluk guling dan memejamkan matanya.

Aku merebahkan badan di samping Ani tanpa menjawab perkataannya. Yah aku gak mau membahas tentang apa yang kualami. Aku gak ingin membuatnya takut. Kantuk menyerangku tapi aku takut memejamkan mata. Sebisa mungkin aku berusaha tetap terjaga. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Rasa kantuk makin lama makin kuat, pertahananku pun tumbang.

Silau. Cahaya matahari menerpa wajahku. Kukucek-kucek mataku sebelum beranjak bangun dari tempat tidur. Ani sudah tidak ada di kamar. Sepertinya dia bangun lebih dulu. Aku beranjak bangun dan keluar kamar, jalan menuju kamar mandi. Pintu tertutup, terdengar suara air di toilet kemudian kunci pintu kamar mandi terbuka. 

"Udah bangun?" ujar Ani. Kujawab pertanyaannya dengan anggukan kepala sambil menguap. Aku beranjak masuk ke kamar mandi dan keluar beberapa menit kemudian. Ani duduk di kursi sambil mencecap kopinya.

"Kamu itu Buh sembrono." 

"Kenapa?" tanyaku setengah cuek.

"Ninggalin kamar, pintu dibiarin kebuka. Kalau kamarmu dimasukin orang terus barangmu diambil orang gimana?"

"Kan kita di rumah cuma berdua. Kalau ada yang masuk ke kamarku terus ngambil barangku ya berarti itu kamu yang ngambil. Eh yang nutup pintunya kamu ya?"

"Bukan, genderuwo yang buka," jawabnya ketus. 

"Ha? Iya kah?"

"Ya aku lah! Emang siapa lagi?"

Aku menggeser tempat dudukku mendekati Ani. "Hm... pas kamu nutup pintu ada apa di kamarku?" tanyaku sambil berbisik.

"Gak ada apa, cuma ada selimutmu jatuh ke lantai sama sprei berantakan. Kenapa sih?" ujarnya sambil melihatku.

Aku meringis "Gak papa." 

"Heh" Ani menyodok sikutku. "Semalam kamu kenapa gugup sampai keringetan pas aku baru dateng? Jangan-jangan kamu bawa pulang cowok ya makanya buka pintunya lama."

Kupukul pundaknya. "Ngawur, cowok apaan woy! Temen aja aku di sini gak punya, boro-boro cowok," ujarku dengan nada kesal. 

Ani tertawa terbahak-bahak. Aku pergi ke kamarku, kulihat sekeliling kamarku gak asa apa-apa, kuintip bawah tempat tidurku lalu membuka lemari. Hah aman gak ada apa-apa. Mungkin hantu itu udah pergi. Aku duduk di ujung tempat tidur. "Apaan ya yang semalem tidur di belakangku? Masa iya aku berhalusinasi?" gumamku dalam hati. Ah aku gak ingin pusing dengan memikirkan hal itu. Kuraih handuk dan pergi mandi.

Selesai mandi Ani ngajakin nyari sarapan. Kita pergi ke warung soto yang kemarin, aku menyempatkan membeli garam di warung.

"Buat apaan Buh? kan di rumah masih banyak garamnya."  

"Buat stok aja," jawabku ngasal.

Sesampainya di warung soto kami memesan dua mangkok soto ukuran sedang dan dua es teh. Aku masih penasaran dengan cerita si bapak kemarin. 

"Pak boleh nanya yang bapak ceritain kemarin pak?" aku membuka percakapan.

"Boleh dek mau nanya apa?"

"Istri sama anaknya Pak Asmadi dimakamin di mana pak? Penasaran saya, kan kata bapak, Pak Asmadi pendatang."

"Kamu ngomongin apa sih Buh? Pak Asmadi itu siapa?" sahut Ani.

"Orang yang tinggal di rumah kita dulu," jawabku.

"Iya dek, pelanggan bapak yang dulu tinggal di rumah yang sekarang adek tinggali. Istri dan anaknya dimakamkan di kampung halaman. Tapi sebelum dibawa pulang jasadnya sempat dibawa pulang ke rumah. Dia pernah cerita ke bapak semenjak istrinya habis kesurupan sikapnya jadi aneh, jadi sering marah-marah."

"Kesurupan pak?" 

"Iya, pas pulang kerja. Eh tiga hari setelah kesurupan beliau kecelakaan."

"Kesurupan di mana pak?" tanya Ani.

"Wah kurang tahu saya, katanya di jalan dekat rumahnya," ujar si bapak sambil membawakan dua mangkok nasi soto. 

"Ini sudah jadi."

"Terima kasih pak," ujarku dan Ani bebarengan. 

Kami gak ngelanjutin obrolan ini. Sambil makan aku berpikir, mungkinkah yang semalam tidur di belakangku itu hantu istrinya Pak Asmadi. Njir bulu kudukku berdiri mengingat kejadian semalam. 

Selesai sarapan kami pulang. Di rumah udah ada Muh dan Sigit. Dari kejauhan mereka tampak sedang mencari-cari sesuatu. 

"Mereka ngapain?" tanya Ani. Aku menggelengkan kepalaku. "Ayo samperin!". Kami membuka pintu gerbang dan nyamperin mereka. 

"Kalian lagi ngapain sih? Clingak clinguk bingung kayak gitu." 

"Nyari monyet," jawab Muh tanpa nengok ke kami. Matanya fokus ngelihat ke atas genting. 

"Ha, monyet?"

"Iya monyet, tadi pas baru aja kita dateng ada monyet duduk di teras, aku buka gerbang terus kita masuk monyet itu lari naik ke atap. Eh sekarang kok gak ada, hilang ke mana itu monyet," ujar Sigit sambil garuk-garuk kepala.

"Masa iya ada monyet, di sini itu di perumahan, di kota lagi bukan di desa, terus jauh dari hutan masa iya ada monyet. Halu kali kalian," kata Ani.

"Astaghfirulloh halu gimana, orang jelas-jelas kita lihat kok. Masa iya halu barengan. Sudah dua kali lho kita lihat ada monyet di rumah ini," ujar Sigit.

"Jangan-jangan pemilik rumah ini Ngujang," ujar Muh.

"Ngujang itu apa?" tanyaku.

"Pesugihan monyet," kata Moh duduk di tangga teras.

"Karena ada di Desa Ngujang, jadi banyak yang nyebut Ngujang. Jadi gini, konon jika ada orang yang melakukan pesugihan ketek ngujang di rumahnya itu ada kera. Katanya si pencari pesugihan harus memberikan tumbal entah itu anaknya atau kerabatnya untuk dijadikan kera dan menghuni makam ngujang. Dia juga harus melakukan perjanjian jika dia mati dia harus bersedia menjadi penghuni makam ngujang dan berubah menjadi kera. Lah di rumah ini kan aku sama Sigit udah dua kali lihat kera tapi pas dicari gak tahu hilang ke mana. Yak kan bisa jadi si pemilik rumah ini nyari pesugihan."

"Halah kamu itu Muh kebanyakan lihat film horor. Jadi otakmu itu isinya hal-hal yang gak masuk akal. Udah jangan ngomong sembarangan kalau didengar yang punya rumah atau didengar orang lain kamu bisa-bisa masuk penjara karena menyebar fitnah. Ngomong gak ada buktinya. Kali aja itu emang monyet warga sini yang lepas," sahut Ani sambil melenggang pergi ninggalin kami bertiga masuk ke dalam rumah.

"Heh, bang!" aku duduk mendekati Muh. "Pesugihan ngujang itu di mana?"

"Di desa Ngujang, Tulungagung. Di situ ada makam, konon monyet di sana itu adalah dua santri yang dikutuk karena membangkang. Aku setiap pulang ke Tulungagung selalu melewati tempat itu."

"Enggak takut?"

"Ya gak lah, orang tempatnya di pinggir jalan raya. Terus monyetnya itu suka berkeliaran di jalan raya. Mereka pinter tau, kalau nyeberang jalan nungguin jalan sepi baru mereka jalan. Terus kalau mau nyeberang jalan monyet yang gede berhenti di tengah jalan nungguin monyet yang kecil-kecil nyeberang, baru dia minggir. Mereka juga sopan-sopan, gak liar kayak monyet hutan. Kau tau... "Muh berhenti berbicara, dia memasukan rokok ke mulutnya dan menyalakan korek kemudian membakar rokoknya.

"Enggak tau, kan belum dikasih tau," jawabku sambil meringis.

"Ish kau ini," Muh menoyor kepalaku. 

"Monyet di area makam Ngujang itu jumlahnya gak pernah bertambah dan gak pernah berkurang, ya populasinya segitu-gitu aja jumlahnya. Di area makam Ngujang itu ada pohon gede rindang banget, para monyet banyak yang bersantai di situ. Aku pernah berhenti di area makam itu, kan di situ ada warung depan makam, nah aku capek motoran aku break di situ istirahat sambil ngopi, tiba-tiba ada monyet nyamperin aku. Dia itu minta makanan sopan banget, cara dia minta udah kayak manusia gitu, dia nyolek aku terus nunjuk makanan yang kupegang sambil matanya berkaca-kaca. Duh gak tega aku lihatnya. Monyet-monyet di sana katanya monyet jelmaan dari makhluk jadi-jadian atau siluman, ada juga yang bilang monyet-monyet di sana adalah para manusia yang dijadikan tumbal pesugihan dan berubah jadi monyet. Katanya juga setiap Suro yang jadi tumbal, dia diijinin pulang ke rumah nengok keluarganya. Terus orang-orang yang nyari pesugihan di makam ngujang setiap tanggal Satu Suro dimintain sumbangan untuk melakukan ritual dan selamatan.

"Oh pantesan kemarin pas kita lewat rame banget di sana," Sahut Sigit.

"Iya itu mereka sedang mau selamatan," ujar Muh.

"Bang, kan rumahmu ngelewatin tempat pesugihan Ngujang. Kenapa gak ikut nyari sekalian?" tanyaku sambil ketawa.

"Boleh juga daripada capek-capek kerja. Idemu bagus Buh. Nanti kamu yang aku jadiin tumbalnya." 

"Ya ogah. Udah ah aku mau masuk," ujarku sambil beranjak berdiri. Muh dan Sigit juga ikut masuk ke dalam rumah. 

"Buh aku bawa nasi jagung mau gak kamu? An mau nasi jagung gak?" ujar Sigit.

"Nasi jagung dari mana?" sahut Ani dari dalam kamar.

"Dikasih ibunya Muh."

Kami jalan ke meja makan. Sigit membuka nasi jagung yang dia bawa, sementara Muh masuk ke kamar menaruh tasnya.

"Ini nasi jagung bang? Kok kayak tepung?"

"Iya ini nasi jagung, kamu belum pernah makan ya." 

"Belum pernah, lihat aja baru ini."

"Coba makan! Ini enak banget."

Ani dan Muh jalan menghampiri kami. Muh duduk di depanku sedangkan Ani duduk di sampingku. Aku menyendok nasi jagung yang ada di atas meja. Aku penasaran dengan makanan yang terlihat seperti tepung yang dibilang Sigit enak. Nasi jagung ini teksturnya agak kasar mirip makan tepung tapi enak rasanya ya kayak jagung. Bikin seret, baru aja makan dua suap aku tersedak. Langsung batuk dan "BUM" nyembur. Nasi jagungnya semburat ke mana-mana, Muh yang duduk tepat di depanku kena semburan nasi jagung. 

"Astaga Subuh!" kata Muh langsung beranjak berdiri. "Gimana sih, aelah makannya pelan-pelan dong sampai nyembur-nyembur." Ani dan Sigit ketawa ngakak sedangkan aku masih batuk-batuk sambil menahan tawa, duh sampai nangis. 

"Maaf gak sengaja," kataku. 

Ani memberiku segelas air minum. "Buh kalau kamu gak enak hati sama Muh bilang, jangan main sembur," ujar Sigit sambil ketawa.

Wahyu Pujiningsih
(Pekerja swasta, pencinta alam, tinggal di Madiun)

Sebelumnya:
Rumah Kos Bekas Pesugihan (4)

Komentar