Kamis, 04 Juni 2026 | 09:44
COMMUNITY

Cerbung

Rumah Kos Bekas Pesugihan (3)

Rumah Kos Bekas Pesugihan (3)
Ilustrasi. (Bagusviddy)

ASKARA - "Muh kamu tadi mampir ke mana? lama bener," tanya Sigit.

Muh menghela nafas. "Ada yang aneh denganku," kata Muh. Dia meletakkan sendok di piring, dia berhenti sejenak dan menelan sisa makanan yang ada di mulutnya. 

"Tadi naik motor tiba-tiba pikiranku ngeblank. Motoran gak tau aku mau ke mana sampai di perempatan kan lampu merah menyala aku gak menghentikan motorku, kau tau, di depanku ada mobil hampir aja aku nabrak mobil itu.

"Muh berhenti berbicara dan kembali menelan entah ludah entah sisa makanan yang masih ada di mulutnya," untung aja itu mobil ngelakson terus buru-buru ngerem, aku kaget terus aku nginjek rem sampai motorku oleng, dikit lagi aku nabrak."

Aku dan Sigit berhenti makan kami mulai serius mendengarkan ceritanya Muh. 

"Lah terus gimana, kamu dimarahin bang?" tanyaku penasaran.

"Enggak, aku buru-buru minta maaf terus aku puter balik lalu nyamperin kalian." 

"Terus ngapain kamu tadi ngasih uang 70 ribu udah dibilang tujuh ribu," ujar Sigit.

"Dibilangin aku bingung." 

"Aku udah selesai makan, mau balik ke kamar dulu," kataku sambil memberesi piring dan gelasku. Aku masuk ke kamar dan meninggalkan mereka berdua yang masih duduk di meja makan. Kukunci pintu kamarku. Aku rebahan di dalam kamar sambil bermain HP. Jam menunjukkan pukul 9 malam. Malam ini malam Satu Suro. Kebiasaan di keluargaku kalau malam Satu Suro gak boleh tidur kalau belum lewat jam 12 malam. Gak tau kenapa alasannya karena aku udah tersugesti dengan hal tersebut, sebisa mungkin aku berusaha untuk gak tidur, tapi pada akhirnya aku ketiduran.

Aku terbangun dari tidurku, ugh suara berisik sekali. Aku mengucek-ngucek mataku sambil mengumpulkan nyawaku yang belum genap aku mencoba mendengarkan suara berisik. "Prang, dug, cring, glonteng-glonteng" terdengar suara barang-barang seperti dibanting-banting. Aku duduk sambil terus mendengarkan suara yang kudengar. Suara itu seperti berasal dari dapur. Aku beranjak berdiri dan bermaksud memeriksa sumber suara itu. Belum sempat kubuka kamar terdengar erangan lirih namun terdengar berat. Pintu kamar gak jadi ku buka. Aku loncat ke atas tempat tidur lalu menarik selimut dan menutupi seluruh badanku dengan selimut. Meringkuk di dalamnya. Bibirku komat kamit membaca doa.

"Itu suara setan apa orang?" gumamku dalam hati. "Ah itu mungkin suaranya Muh atau Sigit," pikirku.

Aku membuka selimutku. Daripada aku penasaran dan ketakutan atas bayanganku sendiri daripada parno aku bangun, jalan ke arah pintu lalu kubuka kunci pintu. Pas mau narik pintu, ah aku ragu. Buka, enggak, buka, enggak. Tiba-tiba muncul di otakku bayangan pas buka pintu tiba-tiba ada hantu berdiri di depan pintu langsung nyekek aku atau ada zombie kayak di film-film. Halah halu mulu ah dasar otak.

Resah, aku berdiri di depan pintu sambil mikir buka atau enggak. Nyaliku ciut tapi rasa penasaran mendorongku untuk membuka pintu. Pas aku buka pintu di depan kamarku penuh barang-barang berserakan. Telur pecah, wajan, piring, sendok, bawang merah, bawang putih, dan bumbu-bumbu dapur lainnya semua berserakan di lantai. Anehnya gak ada siapa pun di sini. "Ah mungkin tadi kucing, emang kucing sialan ngerjain orang aja malem-malem," gumamku kesal. Aku menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Tengah malam gini harus ngepel hah menyebalkan.

"Astaga Buh kenapa bisa berantakan seperti ini?" suara Muh yang menggema di dalam ruangan dan memecah keheningan malam membuatku tersentak kaget. "Ngagetin aja sih, kalau aku kena serangan jantung gimana?" kataku sambil jongkok memunguti bawang merah dan bawang putih yang berserakan.

"Kamu marah Buh? Ada masalah apa kamu dapur sampai dihancurin kayak gini?"

"Hancurin apanya, aku keluar kamar udah berantakan kayak gini. Bantuin dong jangan berdiri aja!"

Moh jongkok dan memunguti bawang merah. "Terus siapa yang ngelakuin ini?"

"Ya mana aku tau, kucing kali."

Kami berdua jongkok beresin dapur. Sigit jalan dari arah kamarnya dengan tergopoh-gopoh badannya basah penuh keringat.

Saking terburu-burunya dia jalan sampai nyerempet punggungnya Muh. Muh yang sedang jongkok pun tersungkur. Namun tak dihiraukan oleh Sigit, dia tetap jalan bahkan gak menoleh sama sekali ke arah Muh. Sigit membuka lemari es dan meraih sebotol air minum, dia menenggak air minum sampai air itu tumpah dan sedikit membasahi bajunya. Aku cuma melongo melihat tingkah lakunya Sigit.

"Heh kenapa kamu? Jalan pecicilan, matamu gak liat ada orang segede ini duduk di sini? Main tabrak aja," ujar Muh kesal. 

Sigit mearik nafas dalam-dalam lalu duduk di kursi. Sambil memegang botol minum.

"Maaf bro, mimpi buruk aku."

"Mimpi apa? Sampai keringetan kayak gitu? Habis mimpi dikejar kejar mantan ya?" tanyaku.

"Habis ketindihan aku, bajigur mimpi ada bayangan hitam tinggi besar menginjak dadaku, aku sampai gak bisa gerak, gak bisa nafas." 

"Lah terus?" tanyaku. 

"Dalam hati aku bilang Allahu Akbar, Allahu Akbar, akhirnya bisa bangun. Lah ini kenapa berantakan kayak gini?"

"Ni ulah si Subuh ini, marah-marah  dapur dihancurin segala, bumbu dibuang-buang, telur dipecahin," ujar Muh.

"He... tutup mulutmu ki sanak," ujarku sambil meletakkan jari telunjukku ke mulutnya Muh. Muh pun menepis tanganku. "Jangan menebar pitenah, ish bukan ulahku ini bang aelah tadi aku keluar kamar udah kayak gini."

"Bhueh,,, bhueh,,, amis goblok!" ujar Muh sambil mengusap bibirnya. Lalu menoyor kepalaku. 

"Aduh!" ujarku.

"Ngapain kamu itu Buh marah sampai ngancurin dapur kayak gini? " tanya Sigit.

"Bukan aku! Dibilangin bukan aku juga, tadi itu aku keluar kamar udah hancur berantakan kayak gini. Mungkin kucing masuk rumah," jawabku.

"Kucing bapak kau ha? Mana ada kucing di sini oneng?" ujar Muh.

"Ya kali aja kucing tetangga."

"Terus masuknya lewat mana? Orang semua pintu dan jendela ditutup," kata Sigit.

"Ya pokoknya bukan aku, ah tega sekali kalian menuduhku. "aku menyeringai". Jangan-jangan ini karena abang nyuri jajan pasar yang dibuat sesajen. Makanya setannya marah terus dapur diberantakin."

"Heh," ujar Muh sambil menjambak rambutku". "Ngomong setannya gak usah ngadep ke aku juga kali. Mana ada yang kayak begitu, setan itu gak doyan jajan pasar, dia doyannya bunga, menyan sama dupa." 

"Lah buktinya kalian berdua doyan."

"Kau juga itu. Kau kan juga makan," ujar Sigit sambil menepuk pundakku." Eh tapi bisa juga bener. Aku tidur ketindihan mungkin gara-gara udah nyuri jajan pasar yang dibuat sesajen."

"Ah apaan, kemarin sebelum nyolong jajan sesajen juga aku tidur ketindihan," sahut Muh. 

"Itu mah karena kamu tidur gak berdoa. Heleh udah ayo bantuin bersihin ini," kataku.

"Apa gak bisa besok aja sih Buh?" tanya Sigit sambil nguap.

"Menurutmu?" tanyaku dengan nada kesal.

Kami bertiga membersihkan dapur yang berantakan, membuang pecahan-pecahan telur dan ngepel lantai. Aneh memang padahal tidak ada orang lain selain kami bertiga, kalau ini ulah kucing kami berlima gak ada yang memelihara kucing. Kalau kucing liar juga gak mungkin, dia mau masuk dari mana?. Kalau ini ulah tikus, tikus macam apa tenaganya kuat banget segala wajan, panci mangkuk dijatuhin. Ah tapi aku mencoba berfikir rasional mungkin ini emang ulah kucing atau tikus. Kami bertiga saling diam. Kurasa mereka berdua juga gak ingin membahas hal ini. 

"Buh! malah diem mandorin," ucapan Muh membuyarkan lamunanku. 

"Kan udah selesai ngepelnya juga cuma dikit, udah ah bang ngantuk aku. Teruskan ya para lelaki," aku meringis.

"Loh mau tidur aja, ini udah jam dua ngapain tidur? Besok kan libur."

"Kalau gak tidur mau ngapain? Gibah sama kalian, ah ogah," jawabku sambil melenggang pergi masuk kamar.

Wahyu Pujiningsih
(Pekerja swasta, pencinta alam, tinggal di Madiun)

Sebelumnya:
Rumah Kos Bekas Pesugihan (2)

Komentar