Senin, 13 Juli 2020 | 06:28
NEWS

Menkeu Perkirakan Kontraksi Ekonomi Minus 3,8 Persen

Menkeu Perkirakan Kontraksi Ekonomi Minus 3,8 Persen
Menkeu Sri Mulyani. (Dok. Antara)

ASKARA - Dampak pandemi Covid-19 memukul pertumbuhan ekonomi hampir di seluruh negara. 

Di Indonesia, diperkirakan pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi hingga minus 3,8 persen pada kuartal II-2020. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, perkiraan itu suatu estimasi berbasis indikator-indikator yang bisa ditelusuri. Lebih lengkapnya data Badan Pusat Statistik yang disampaikan pada Agustus nanti.

"Estimasi kami di Kementerian Keuangan negatifnya 3,8 persen. Tentu kita akan melihat ketika BPS menyampaikan angka pastinya pada kuartal kedua awal Agustus mendatang," jelas Sri Mulyani dalam telekonferensi BNPB, Selasa (30/6).

Namun, angka itu dinilai cukup baik dibandingkan dengan sejumlah negara maju maupun berkembang lainnya. Mengingat, kondisi ekonomi mayoritas negara maju di kuartal kedua merosot. Seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Prancis yang dari banyak laporan menyebut kontraksi pertumbuhannya bisa minus double digit. 

"Estimasi di Amerika bisa sampai menjadi mendekati 10 persen, di Inggris bisa 15 persen, di Jerman kontraksinya 11 persen, di Prancis minusnya bahkan sampai 17 persen," beber Sri Mulyani. 

Sementara Jepang minusnya ditaksir 8 persen. Bahkan India yang selama ini dianggap negara berkembang seperti Indonesia yang pertumbuhannya cukup tinggi diperkirakan mengalami kontraksi 12 persen.

"Bandingkan negara-negara maju yang tadi atau bahkan India, Singapura yang 6,8 persen," kata Sri Mulyani. 

Hal tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia yang akan terpengaruh pada kuartal dua mengalami tekanan luar biasa dari sisi ekonomi. Semua tak terhindari karena langkah-langkah penanganan Covid-19.

"Itu konsekuensi yang kita mitigasi atau kita kelola. Karena kita melalukan berbagai langkah pencegahan Covid-19 yang mempengaruhi ekonomi kita di kuartal dua," imbuh Sri Mulyani.  

Komentar