Senin, 08 Juni 2026 | 00:02
NEWS

BMKG Peringatkan Potensi Gempa di Selatan Jawa, Ini Hasil Pengamatannya

BMKG Peringatkan Potensi Gempa di Selatan Jawa, Ini Hasil Pengamatannya
Ilustrasi. (Dok. Ntnews)

ASKARA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyampaikan peringatan zona gempa yang berada di selatan Pulau Jawa khususnya di selatan Pacitan, Sukabumi, dan Lebak yang cukup aktif. 

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, peringatan disampaikan lantaran seringnya wilayah tersebut mengalami gempa akhir-akhir ini. 

"Salah satunya adalah gempa tektonik dengan guncangan signifikan yang terjadi di selatan Pacitan dengan kekuatan M 5.0 pada hari Senin 22 Juni 2020 pagi dini hari pukul 02.33.08 WIB. Gempa berkedalaman menengah ini memiliki spektrum guncangan yang luas dan mampu menggetarkan wilayah sangat jauh," jelas Daryono kepada media, Selasa (23/6).

Dia menuturkan, guncangan gempa ke arah timur mencakup wilayah Pacitan, Wonogiri, Trenggalek, Nganjuk, Ponorogo, Tulungagung hingga Malang dan Karangkates. Sementara, jika guncangan gempa ke arah barat akan dirasakan di Klaten, Sukoharjo, Yogyakarta, Bantul, Maguwoharjo, Sleman, Purworejo, Banjarnegara hingga Purwokerto. 

"Hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas kegempaan sejak bulan Mei 2020 menunjukkan bahwa di wilayah selatan Pacitan terdapat klaster aktivitas gempa yang lebih aktif daripada wilayah sekitarnya. Artinya di wilayah ini memang terjadi peningkatan aktivitas kegempaan," kata Daryono.

Aktivitas gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5.0 selama periode Maret hingga Mei 2020 telah menunjukkan terjadinya peningkatan cukup signifikan. 

Peningkatan yaitu gempa dangkal dengan kurang dari 60 kilometer dan juga gempa berkedalaman menengah antara 60 hingga 300 kilometer.

"Meningkatnya aktivitas gempa yang terjadi akhir-akhir ini tentunya patut diwaspadai. Gempa signifikan yang terjadi tersebut di atas dapat menjadi alarm yang mengingatkan kita bahwa zona gempa Samudera Hindia selatan Jawa aktivitasnya meningkat," papar Daryono.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas gempa terkini di selatan Pacitan, dalam sepekan terakhir telah terjadi gempa sebanyak lima kali yaitu dengan kekuatan M 3.8 dan 2.9 pada 16 Juni, M 4.7 pada 18 Juni, dan M 3.2 serta 5.1 pada 21 Juni.

BMKG mengingatkan masyarakat tidak hanya berdasarkan hasil monitoring terbaru melainkan juga dari sejarah yang mencatat bahwa wilayah selatan Pacitan telah beberapa kali dilanda gempa kuat, bahkan beberapa di antaranya memicu tsunami. 

Berikut rentetan peristiwa gempa kuat dan tsunami di selatan Pacitan:

1. Tanggal 4 Januari 1840. Gempa kuat ini mengguncang seluruh Pulau Jawa. Segera setelah gempa berakhir muncul gelombang laut tinggi di Pantai Selatan Jawa termasuk pantai Pacitan yang diyakini sebagai tsunami. 

2. Tanggal 20 Oktober 1859. Gempa kuat juga memicu tsunami yang menerjang Teluk Pacitan dan menelan korban jiwa dua orang awak kapal Ottolina meninggal. 

3. Tanggal 10 Juni 1867 gempa menyebabkan guncangan kuat hingga mencapai skala intensitas VIII-IX MMI yang menyebabkan 500 orang meninggal dan ribuan rumah rusak.

4. Tanggal 11 September 1921 gempa dengan magnitudo 7.6 dirasakan hingga jauh di Sumatera dan Sumbawa. Gempa ini menyebabkan banyak rumah rusak di Pulau Jawa. Pasca terjadi gempa disusul tsunami yang teramati di Pantai Selatan Jawa.

5. Tanggal 27 September 1937 memiliki magnitudo 6.8. Dampak gempa menyebabkan guncangan hebat mencapai VIII-IX MMI menyebabkan 2200 rumah roboh dan banyak korban meninggal.

"Catatan gempa kuat masa lalu semacam ini dapat menjadi data dukung kesiapsiagaan kita bahwa gempa kuat memiliki periode ulang dengan periodesitas tertentu. Sehingga gempa kuat yang terjadi di suatu wilayah sangat mungkin dapat berulang kembali kejadiannya," jelas Daryono.

Di sisi lain, tidak hanya wilayah selatan Pacitan yang mengalami peningkatan aktivitas gempa akhir-akhir ini namun juga di Samudera Hindia, selatan Sukabumi dan Lebak. Dalam hal ini, masyarakat diminta untuk mewaspadai potensi gempa.

"Informasi ini sekadar pengingat kita bahwa potensi gempa itu ada dan harus direspons dengan langkah mitigasi yang cepat dan tepat untuk meminimalisir risiko jika terjadi gempa kuat," kata Daryono.

Seperti halnya tindakan nyata dalam mewaspadai terjadinya gempa kuat adalah dengan melakukan upaya sosialisasi mitigasi yang berkelanjutan. 

"(Sosialisasi) ini penting agar warga memahami cara selamat saat terjadi gempa. Namun demikian upaya mitigasi bahaya gempa yang paling utama sebenarnya adalah mitigasi struktural dengan cara membangun bangunan tahan gempa," kata Daryono.

Sementara, guna meminimalisir risiko tsunami, penting dilakukan penciptaan tata ruang aman berbasis risiko tsunami yakni dengan cara tidak membangun permukiman dan tempat usaha di area pantai rawan tsunami. 

"Selain itu, masyarakat pesisir perlu memahami konsep evakuasi mandiri dengan menjadikan gempa kuat yang dirasakan di pantai sebagai peringatan dini tsunami," tutup Daryono. 

Komentar