Rabu, 10 Juni 2026 | 17:44
OPINI

Catatan Astina

Apa Kabar PSBB Transisi Jakarta?

Apa Kabar PSBB Transisi Jakarta?
Ilustrasi. (Kompas)

Pagi tadi seorang rekan wartawan menghubungi saya. Rekan wartawan mengatakan bahwa Anies khawatir Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi menyebabkan lonjakan kasus positif Covid-19. Tetapi di sisi lain Anies menyebutkan bahwa kalau tidak ada tanda-tanda perbaikan dan akan kembali ke masa pra PSBB Transisi. 

Atas pernyataan Gubernur Jakarta Anies Baswedan itu, rekan bertanya pada saya, "Abang melihatnya seperti apa ini?"

Kondisi lapangan di Jakarta sejak digulirkan PSBB Transisi memang kacau tanpa penjelasan atau pendidikan pada warga tentang proses tahapan ini. Warga menerjemahkan sendiri istilah kebijakan Pemprov Jakarta yang digulirkan Anies sebagai PSBB Transisi. Jadinya kondisi lapangan kacau balau seperti situasi sebelum terjadi pandemi Covid-19. Warga beraktivitas banyak yang tidak menggunakan masker. Banyak tempat publik yang tidak memenuhi standar atau protokol kesehatan seperti tidak ada alat cuci tangan, pengaman kontak langsung, tidak ada physical distancing. Sopir Mikrolet dan penumpangnya tidak menggunakan masker tanpa pembatasan kapasitas muatan. Banyak penjual makanan atau pedagang lainnya tidak menggunakan masker. Terjadi kerumunan di mana-mana seperti di depan stasiun kereta. Angkutan umum massal seperti Transjakarta muatannya lebih. 

Nah ini semua menandakan memang istilah PSBB Transisi tidak jelas, tidak dipahami masyarakat sehingga masyarakat tidak melakukan protokol kesehatan. Semua kekacauan itu menjadi lebih parah lagi tidak ada pengawasan dan penegakan protokol kesehatan oleh aparat Pemprov Jakarta.

Sejak awal sudah dikritisi apa itu PSBB Transisi? Tidak jelas prosesnya seperti ketidakjelasan ini mengakibatkan tidak adanya langkah sistematis membangun penanganan pandemi Covid-19 dalam PSBB Transisi. Akibatnya PSBB Transisi itu hanya istilah dan di lapangan yang terjadi keliaran dan improvisasi masing-masing stakeholder atau pengelola layanan publik. seperti pengelola kawasan perdagangan, pertokoan dan transportasi jalan sendiri-sendiri. Hasilnya ya masyarakat suka-suka saja dan berpotensi lonjakan kasus positif Covid-19.

Kalau Anies sekarang bicara ketakutan seperti ini ya itu kebodohannya sendiri. Anies tidak mau mendengar masukan berjalan dengan pikirannya sendiri. Anies hanya berjalan dengan nafsu pencitraan pribadi untuk Pilpres 2024. Anies mempolitisir pandemi Covid-19 untuk kepentingan politik kekuasaannya sendiri. Anies langkahnya bukan menangani pencegahan penyebaran covid tetapi memproduksi pasien positif Covid-19.

Langkah perbaikan yang harus segera dilakukan Pemprov Jakarta adalah membuat kebijakan perpanjangan PSBB kembali dan menjalankannya secara ketat serta mengawasi pelaksanaan PSBB secara benar sesuai protokol kesehatan. Jika langkah ini tidak segera dilakukan maka Jakarta akan kembali menjadi daerah teratas kembali sebagai provinsi zona merah Covid-19.

Ya kalau Anies saja ketakutan gagal sampai hari ini berarti Anies tidak yakin dengan PSBB Transisi yang dia buat sendiri. Nanti kita lihat saja angka lonjakan kasus positif Covid-19 setidaknya mulai minggu depan. Kalau terjadi lonjakan ya berarti gagal. Nah untuk mencegah kegagalan yang lebih fatal, Pemprov Jakarta harus bekerja baik, lakukan pengawasan dan penegakan PSBB sesuai protokol kesehatan, bukan lagi standar PSBB Transisi yang tidak jelas itu.

Jakarta, 18 Juni 2020

Azas Tigor Nainggolan
(Ketua Forum Warga Kota Indonesia)

Komentar