Penelitian untuk Pengobatan Covid-19 Berbasis Isolat Virus
ASKARA - Penularan virus corona (Covid-19) masih terus terjadi di tengah masyarakat. Upaya pencegahan dan pengobatan ditempuh dengan berbagai cara.
Peneliti Universitas Airlangga Dokter Purwati bersama Badan Intelijen Negara dan Gugus Tugas Nasional terus melakukan penelitian untuk memutakhirkan resep penyembuhan Covid-19.
Pihaknya melakukan penelitian terkait regimen kombinasi obat dan juga jenis stem cell yang efektif. Regimen merupakan komposisi jenis, jumlah obat serta frekuensi pemberian obat sebagai upaya terapi pengobatan.
Titik tolak penelitian berdasarkan prinsip penyakit infeksi yakni adanya konsep tiga sisi yang terdiri host, lingkungan, dan agen.
"Jadi manusia itu sendiri, virus itu sendiri serta faktor lingkungan yang apabila dibuat sesuatu hal yang sedemikian rupa sehingga mendukung pertumbuhan virus tersebut," jelasnya di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (13/6).
Upaya pengobatan merupakan rangkaian dari pengujian dan pelacakan. Pengobatan yang dilakukan bersifat medis dan non medis. Tetap menggunakan regimen untuk pengobatan.
"Kombinasi obat-obatan yang sudah dilakukan penelitian dari obat-obatan yang sudah ada di pasaran dan kita teliti untuk potensi dan efektivitas obat tersebut," terang Dokter Purwati.
Sehingga indikasinya diperluas menjadi obat yang mempunyai efek anti virus terhadap Covid-19 yang berbasis dari virus isolat Indonesia.
Sampelnya diambil dari pasien di RSUA yang telah mendapatkan sertifikat laik etik melalui serangkaian proses.
"Proses pertama yaitu uji toksisitas. Apakah obat yang akan dipakai itu toksik atau tidak untuk sel tubuh kita," kata Dokter Purwati.
Kedua, mengecek dan meneliti potensi obat yang digunakan seberapa besar daya bunuhnya terhadap virus corona.
"Ketiga, meneliti efektivitas obat tersebut berapa besar dan berapa lama berefek terhadap penghambatan dan penurunan jumlah virus," jelas Dokter Purwati.
Dalam penelitian juga dilakukan pengukuran sitokin sitokin inflamasi dan anti inflamasi. Dari hasil penelitian didapatkan peningkatan sitokin-sitokin anti inflamasi atau anti keradangan.
Serta penurunan sitokin-sitokin inflamasi. Di mana infeksi virus didapatkan kadar sitokin inflamasi tinggi, sehingga mengakibatkan keadaan kurang bagus bagi organ tubuh.
Dari 14 regimen obat yang diteliti, ada lima kombinasi regimen obat yang mempunyai potensi dan efektivitas cukup bagus menghambat virus masuk ke dalam sel target. Serta membantu penurunan perkembangbiakannya di dalam sel.
Purwati pun menunjukkan kemasan kombinasi obat yang belum diperjualbelikan. Hasil kolaborasi Unair, BIN dan BNPB.
"Jadi ada lima macam kombinasi yaitu lopinavir atau ritonavir dan azithromycin. Kedua, lopinavir atau ritonavir dan doxycycline. Ketiga, lopinavir atau ritonavir dan clarithromycin. Keempat, hydroxychloroquine dan azithromycin, dan kelima kombinasi hydroxy dan doxycycline," papar Dokter Purwati.

Komentar