Jubir Pemerintah: Normal Baru Bukan Kebijakan yang Mudah
ASKARA - Tingkat kasus corona (Covid-19) yang menurun sebesar 50 persen dalam waktu tiga minggu berturut-turut menjadi salah satu syarat daerah dalam menerapkan protokol normal baru.
Hal itu disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, di Gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Minggu (31/5).
"Ini menjadi satu ukuran suatu daerah bisa menuju konsep kenormalan baru. Kedua kita harus lihat kalau kasus itu ada, paling tidak penambahan kasus positifnya rata-rata mestinya menurun lebih dari 5 persen dari kasus kita periksa," tutur Yuri.
Dikatakan, kedua aspek epidemiologi tersebut harus menjadi pertimbangan yang penting, termasuk jumlah penggunaan tempat tidur ICU dalam dua minggu terakhir.
"Ini yang akan disampaikan kepada pemerintah/kota. Sudah barang tentu akan ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten/kota, untuk memutuskan apakah akan melaksanakan kegiatan kenormalan baru atau masih menunda," ujar dia.
"Karena setelah diputuskan maka harus ada upaya sosialisasi kepada seluruh masyarakat di kabupaten/kota tersebut tentang keputusan pemerintah daerah yang akan mengimplementasikannya," lanjutnya.
Yuri menuturkan, masyarakat perlu diberikan edukasi tentang wacana normal baru, jika sudah dipahami maka kemudian yang dilakukan adalah simulasi.
"Mungkin disepakati untuk pasar, maka harus dilakukan simulasi tentang penataan pasar yang memenuhi protokol-protokol kesehatan dan diyakini masyarakat sudah memahami dan bisa melaksanakannya," ungkap Yuri.
Menurut Yuri, penerapan protokol normal baru sendiri bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Termasuk keterkaitan dengan bidang pendidikan, di mana seluruh murid juga harus tersosialisasi dengan penerapan normal baru ini.
"Kita tidak menganggap kenormalan baru itu bendera start lomba lari, semua bergerak bersama-sama. Tidak, sangat tergantung kondisi epidemiologis masing-masing daerah. Ini jadi keputusan masing-masing daerahnya," ujarnya.
"Tidak demikian tiba-tiba kemudian semuanya diberlakukan pada semua aspek, pada semua bidang tanpa didahului simulasi, edukasi bagi para pihak di bidang tersebut, tanpa sosialisasi kepada masyarakat terkait bidang tersebut," tuturnya.
Ditambahkan Yuri, tahap penerapan protokol normal baru adalah bentuk kehati-harian, yang di mana masyarakat ikut berperan aktif ambil bagian dalam kebijakan kenormalan baru.

Komentar