Kamis, 18 Juni 2026 | 18:37
NEWS

Imam Besar Istiqlal: Jangan Mudik Jika Tak Ingin Dikucilkan

Imam Besar Istiqlal: Jangan Mudik Jika Tak Ingin Dikucilkan
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. KH. Nasaruddin Umar. (Dok. BNPB)

ASKARA - Aktivitas mudik pada saat pandemi Covid-19 justru dapat menambah beban moral baru bagi orang-orang di kampung halaman, seperti oran tua dan sanak saudara. 

Maka untuk tidak mudik adalah pilihan terbaik yang dapat menyelamatkan sanak saudara di kampung halaman.

"Kalau kita mudik sekarang, kasihan, memberikan beban moral terhadap orang tua kita. Banyak pengalaman yang kita terima dari kampung. Akhirnya orang tuanya dikucilkan gara-gara (menerima) tamunya, anaknya dari Jakarta, misalnya," kata Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. KH. Nasaruddin Umar di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (23/5).

Menurutnya, kehadiran pemudik dari kota besar seperti Jakarta akan membuat tetangga orang tua di kampung halaman menjadi takut tertular Covid-19. Terlebih penularan bisa terjadi oleh seseorang pembawa virus meski tanpa gejala atau tidak menunjukkan sakit.

"Ini gara-gara tetangga kita membawa tamu dari kota, ini kita was-was. Jadi kita mungkin pulang kembali kota, orang tua kita masih dikucilkan tetangga. Jadi kalau kita mudik sekarang, itu sangat membebani orang tua kita di sana,' ujar Prof. Nasaruddin.

Untuk itu, dia mengimbau agar masyarakat tidak mudik dan tetap di rumah saja. Sehingga tidak membebani keluarga di kampung halaman.

"Sudah mereka hidup rukun tapi kehadiran kita malah justru membuat orang tua kita itu nanti dikucilkan. Kita sudah kembali ke Jakarta, orang tua kita dikucilkan. Apalagi kalau misalnya ada yang sakit di tempat itu. Jangan-jangan dikutuk, dilaknat orang tua kita. Naudzubillah mindzalik. Jadi bukan membawa kebahagiaan tapi seperti membawa malapetaka," beber Prof. Nasaruddin.

Dia berharap masyarakat sabar menunggu hingga keadaan lebih baik. Juga mengajak untuk berdoa dan bersama-sama melakukan upaya pencegahan sehingga berakhirnya Bulan Suci Ramadan juga memberi keberkahan bagi umat muslim.

"Ramadan berarti menghanguskan (sesuatu yang buruk). Semoga kepergian bulan Ramadan juga menggulung habis virus corona ini. Siapa tahu ada keajaiban atas doa yang kita panjatkan," kata Prof. Nasaruddin.

 

Komentar