Berbuat Salah dengan Mahluk Halus Gunung Singgalang, Diarahkan Kakek Penunggu Hutan
ASKARA - Lima pendaki di Gunung Singgalang, Sumatera Barat terus berusaha mencari jalan menuju basecamp karena tersesat akibat cuaca ekstrem. Bahkan sampai tiga kali mereka hanya berputar di trek saat hendak turun.
Pengalaman itu diceritakan dalam akun Instagram @jejak_pendaki. Kejadian ini tepatnya terjadi pada 2002. Lima orang tersebut ialah Lukman (Almarhum), Ali, Leo Saputra, Indra, Redho.
"Saya berinisitif memotong satu dahan kecil sebagai tanda, bahwa jalan itu sudah kami lalui. Setelah berjalan berapa lama, saya terkejut berjumpa kembali dengan dahan yang saya potong tadi," tulis dalam Instagram @jejak_pendaki.
Dalam hatinya berdoa berharap agar segera menemukan jalan keluar menuju basecamp. Sebagian temannya itu dianggap tidak merasakan keganjilan tersebut.
"Hati saya berkata ini sepertinya jalannya muter-muter di sini sini saja. Namun karena cuaca ekstrem sepertinya teman-teman tidak sadar, lalu saya sedikit membaca doa dengan harapan setelah ini jalan akan lancar," harapnya.
Jalan menuju basecamp itu tidak kunjung ketemu. Bahkan mereka sampai tiga kali berjumpa dengan dahan untuk menandai mereka telah melintasi jalur tersebut.
"Teman saya Lukman yang berjalan paling belakang meminta berhenti. Setelah berhenti lalu Lukman berkata kalian sadar gak kalau kita berjalan muter-muter di sini saja dari tadi," ucapnya.
Ternyata mereka merasakan hal yang sama yaitu tersesat. Salah satu temannya bernama Indra yang dianggap mengerti tentang hal mistis. Dia menduga salah satu di antara mereka telah melakukan kesalahan.
"Sepertinya di antara kita ada yang melakukan kesalahan terhadap makhluk halus di wilayah ini," kata cerita dalam akun Instagram itu.
Mereka berhenti sejenak berdoa memohon petunjuk kepada sang maha kuasa supaya bisa segera sampai di basecamp. Bahkan mereka juga menyiapkan janji jika berhasil turun.
"Lalu kami duduk dan berdoa bersama sambil menangis meminta ampun kepada Allah. Kami pasang nazar kalau selamat. Uang di kantong akan kami sedekahkan di masjid berada di kaki gunung," cetus mereka.
Perjalanan lalu di lanjutkan, ketika di sebuah jalan mereka dikejutkan karena berjumpa sepasang kekasih yang sedang asyik duduk di pinggir jalan kecil di bawah pohon tepat berada di jalur pendakian.
"Mana mungkin pacaran tengah malam gerimis di bawah pohon di pinggir jurang apalagi di hutan gelap tanpa membawa peralatan apapun," pikirnya.
Jalur yang kecil otomatis posisi duduk dua orang itu menghalangi para pendaki itu. Mereka langsung mengucaokan salam tapi sepasang kekasih ini diam saja dengan posisi menunduk. Salah satu temannya sampai memohon maaf.
"Kemudian Ielakinya berdiri dan berkata kalian mau kemana? Kami menjawab. Mau turun ke bawah, lalu wanita yang duduk berkata lewat di sini aja sambil mununjuk sebelah kiri," ucapnya.
"Dia menambahkan kalau ada jalan memotong lewat di sini nanti kalian akan berjumpa rumah besar silakan tanya aja di rumah itu kalau ragu jalannya," tambahnya.
Salah seorang teman mengucapkan terima kasih sambil berkata bahwa mereka memilih jalur lurus lewat jalan biasa. Mereka tersadar bahwa jalur sebelah kiri adalah jurang.
Setelah berjalan sebentar mereka kembali dikejutkan karena berjumpa dengan satu orang kakek tua yang konon disebut sebagai penunggu hutan. Dia berjalan mengarah mereka tanpa alat penerangan.
"Teman saya bertanya maaf ya kek apakah ini jalan turun kebawah? Kakek jawab iyah turunlah kalian ikuti jalan ini jangan belok kemana-mana," ucap kakek itu.
Akhirnya semua lancar dan menjelang waktu subuh mereka telah tiba di suatu masjid. Dan langsung mereka pun bersedekah dan menunggu persiapan sholat subuh.
Mereka juga mencari informasi dari penduduk sekitar perihal yang telah menimpanya selama di Gunung Singgalang. "Menurut orang kampung kami ada yang kencing tadi pas maghrib di aliran air, sementara ada mahluk lain yang sedang mandi," bebernya.
Mereka mendaki lima orang, salah satunya sudah meninggal dunia. Sementara satu sekarang masih sakit-sakitan. Bahkan sempat koma berbulan-bulan.

Komentar