Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:12
LIFESTYLE

Ibu Ini Perkuat Ketahahan Pangan Keluarga di Tengah Pandemi dengan Urban Farming

Ibu Ini Perkuat Ketahahan Pangan Keluarga di Tengah Pandemi dengan Urban Farming
Putri Simorangkir di tengah kebun urban farming (Dok BNPB)

ASKARA - Pandemi virus Corona (Covid-19) membuat ketahanan pangan keluarga maupun individu semakin memburuk, terlebih tidak ada siapapun yang memprediksikan waktu kapan berakhirnya pandemi ini sebelum vaksin berhasil ditemukan. 

Saat ini, banyak orang bertahan hidup hanya dengan kekuatan dan kemampuan. Demikian juga yang dilakukan Putri Simorangkir dari Indonesia Against COVID-19 (IAC19). 

Putri menghadapi penyebaran Covid-19 dengan menekankan nilai gotong royong sebagai cara memperkuat ketahanan pangan keluarga. Serta, dengan menunjukkan kepedulian jauh sebelum virus ini ada di Indonesia, bersama kelompoknya ia memperkenalkan urban farming kepada masyarakat kampung Pesanggarahan, Jakarta Selatan. Urban farming merupakan cara bercocok tanam di lingkungan rumah perkotaan dengan lahan terbatas. Cara ini dinilainya ampuh mengembalikan nilai kegotongroyongan.

“Dengan cara bertanam kolektif ini, kami harapkan memiliki rasa peduli kepada orang lain, bisa bekerja sama bahkan juga memelihara toleransi. Tepatnya mengembalikan sifat gotong royong,” ujar Putri, Minggu (17/5).

Putri mengaku telah menduga virus Corona akhirnya masuk ke Indonesia. Hingga akhirnya gerakan yang digagasnya tersebut digalakkan bersama kelompok, khususnya di tengah wabah virus mematikan ini mulai terkuak di Indonesia sejak awal Maret lalu. 

“Kondisi penyebaran yang meluas sangat mengejutkan siapa pun bahkan ketika wabah ini merembet dengan cepat ke seluruh dunia itu sangat mengejutkan sekaligus menakutkan,” katanya.

Virus Corona, lanjutnya, telah melemahkan kondisi masyarakat. Putri pun tergerak membagikan pengalamanannya dalam bertanam sayur dan beternak ikan.

“Saya sebagai salah satu ketua grup relawan pernah memiliki pengalaman tentang bertanam sayur secara hidroponik yang pernah kami terapkan di suatu wilayah Jakarta Selatan di Gang Hijau Pesanggrahan,” ujarnya.

Saat bertemu dengan Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Wisnu Widjaja, Jumat lalu (15/5), salah satu rekannya, Lourda, menyampaikan dukungan untuk mengenalkan secara luas urban farming. Putri pun berharap dari urban farming ini bisa mengantisipasi kesulitan pangan dan solusinya.

“Nah, kemudian teman-teman dari berbagai perkumpulan relawan bergabung oleh inisiatif ibu Lourda Hutagalung, bekerja sama dengan BNPB maupun Gugus Tugas. Semuanya berkonsolidasi dan berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan untuk menolong saudara-saudara sebangsa, baik para medis maupun para korban serta mereka yang terdampak Covid-19,” ungkapnya.

Mulanya gerakannya hanya didampingi seorang ahli pertanian yang mengenalkan cara berkebun di lahan terbatas kepada warga kampung Pesanggrahan. Hingga akhirnya menjadi inspirasi yang terus dilakukan Putri dan kelompoknya hingga saat ini.

“Tim ahli kami, Pak Bambang Riono, memberikan arahan dan kami lengkapi seluruh peralatan yang diperlukan bagi wilayah yang memang menunjukkan antusias. Oleh kerja keras serta semangat gotong royong, warga wilayah ini bersama-sama menjaga dan mengelola dalam bertanam sayur-sayuran secara hidroponik tersebut,” tuturnya.

Ia pun mengenang masa sukses dalam upayanya dalam menanam, bahkan memetik hasilnya selama tiga pekan sekali.

“Hasil mereka nikmati sendiri, siapa pun yang membutuhkan boleh mengambil secukupnya. Demikianlah mereka menikmati hasil panen setiap tiga minggu sekali,” katanya.

Putri mengaku, belakangan hasil panen semakin baik. Saat ini dia mulai belajar memasarkan. Selain itu Putri dan relawan lain juga mulai mengenalkan sistem baru budidaya sayuran dan ikan sekaligus, dengan aquaponik. 

Salah satu kampung yang sukses menerapkan adalah RT 14/RW 1, Kampung Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Kampung yang semula gersang, kini menjadi sejuk dan hijau.

“Setiap tempat yang bisa dimanfaatkan semuanya ditanami sayuran,” ucapnya.

Saat ini, pemerintah dan multipihak bagian dari pentaheliks yang berupaya memutus rantai penyebaran dan menjaga stabilitas di berbagai sektor. Namun, hal itu tidaklah cukup, karena kompleksnya virus ini.

Maka masyarakat sendirilah yang menjadi kapital terbesar dalam menghadapi pandemi ini, salah satunya dengan melakukan aktivitas bermanfaat untuk keseimbangan fisik dan mental di tengah pandemi.

Komentar