Rabu, 17 Juni 2026 | 23:19
COMMUNITY

Misteri Wanita Berambut Panjang dari Pintu Pemandian Jenazah

Misteri Wanita Berambut Panjang dari Pintu Pemandian Jenazah
Ilustrasi wanita berambut panjang (Dok Yudha AF)

ASKARA - Rumah duka dan tempat krematorium merupakan lokasi yang kerap dihindari banyak orang lantaran meninggalkan cerita misterius di dalamnya. Namun, hal itu tidak untuk kelompok kami. 

Untuk memenuhi nilai mata kuliah tugas film, aku dan keempat orang temanku membuat sebuah dokumenter seorang perias mayat.

Ide menarik kami pun diterima oleh guru pembimbing, sehingga kami harus segera melakukan survei guna kelancaran proses syuting.

Tanpa terlalu kesulitan mencari rumah duka, kami menemukan sebuah lokasi yang cocok untuk proses syuting yang berada di Kota Bandung. 

Tempat ini sangat megah dan mewah, lengkap dengan beberapa patung Buddha emas untuk beribadah. Untuk memperlancar proses syuting, kami memberikan sebuah surat perizinan dari sekolah untuk keperluan tugas.

Setelah mendapatkan izin dan menemui pemeran utama kami yaitu perias mayatnya itu sendiri. Kami mengalami kendala. 

Pasalnya, seorang perias mayat tidak mungkin merias tanpa ada mayat itu sendiri. Hal ini sangat membuat aku (achi), Zaki, Arif, Dea dan Delima kebingungan.

"Kita harus banyak-banyak berdoa nih biar minggu-minggu ini banyak yang meninggal," ucap Delima dengan tatapan kosong.

"Shuttt.. jangan sembarangan ngomong nanti Buddha dengar bisa elu yang jadi mayat," kata Arif sambil menepuk pundak Delima.

"Yeh kok lu percaya begituan, agama lu kan Islam," ejek Zaki.

"Kita kan lagi depan tempat sembayang mereka, jadi ngehargain aja gue broo," balas Arif sambil mengintip kearah patung Buddha emas.

"Haha b*go, ya udah kita nunggu aja telepon dari tempat ini tiap hari, kan dia bilang bakalan kabarin kalau ada keluarga (mayat) masuk hari itu, jadi kita harus standby tiap hari buat segera berangkat gimana?" jelas Dea.

"De kalo itu sih pasti, tapi yang namanya orang mati kan nggak bisa diprediksi, kalau gitu kita harus cari talent," ujarku.

"Siapa yang mau jadi orang mati chiiii?," ucap kompak seluruh temanku.

"Sampai seminggu kita nggak dapat mayat yang cocok, kita gunain rencana gue ya," kataku.

Selama satu minggu itu pun kami terus berkomunikasi dengan pihak rumah duka. Kami merasa doa kami dikabulkan oleh Tuhan, karena dalam satu minggu setidaknya lima hari selalu ada orang yang meninggal kemudian datang untuk dikremasi oleh keluarganya.

Namun, sayangnya semua orang meninggal itu tidak ada yang sesuai dengan kriteria kebutuhan talent kami, ada nenek sudah tua, bapak berkumis tebal, korban kecelakaan yang sudah tidak jelas bagaimana bentuk wajahnya hingga bayi yang masih berusia 2 tahun. 

Sedangkan kebutuhan talent kami yakni seorang wanita yang masih muda, agar saat dirias wajahnya masih sangat terlihat cantik.

Akhirnya, seluruh kelompok sepakat untuk mencari talent guna keperluan syuting kamu. Hal tersebut tentunya gagal, hingga akhirnya aku meminta tolong kepada seorang teman gerejaku untuk menjadi mayat dalam tugas film dokumenter yang kami garap. Ia pun setuju.

"Hi guys, kenalin ini sahabat gue Regina, dia bakalan jadi mayat untuk tugas kita," ucapku pada teman-teman.

"Lu dibayar berapa sama Achi sampe mau bantu jadi mayat?" tanya Arif kebingungan.

"Nasi padang doang, haha nggak apa-apa santai ini kan bantu kalian semua juga," jawab Regina.

"Ok Regina, tenang aja nggak ada yang perlu di takutin ini cuma syuting, dan kita nggak bakalan ninggalin lu sendirian sama sekali," ucap Dea.

"Yuk stanby sama posisi masing-masing, kita harus beresin ini semua sebelum gelap," ucapku.

Proses syuting pun berjalan lancar, mulai dari simulasi datangnya jenazah ke rumah duka, memandikan jenazah, makeup, masuk dalam peti, hingga dikremasi. 

Namun, sebelum semua dilakukan oleh Regina, aku harus mempraktikkan semua terlebih dahulu, agar ia tidak terlalu bingung. Walau sebenarnya yang harus ia lakukan hanya tiduran, menahan napas dan menutup mata.

Proses wawancara dengan periasnya pun tidak begitu mengalami kesulitan, sehingga selama syuting tidak membuang waktu. 

Syuting kami pun selesai dalam satu hari, hari mulai gelap dan saat itu langit nampak tidak bersahabat, sehingga kami bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya hasil syuting kami pun segera diolah menjadi satu kesatuan film dokumenter yang utuh. 

Namun, dalam beberapa clip gambar terdapat beberapa hal ganjil yang saat proses syuting, bahkan tidak terlihat sama sekali. Terdapat seorang wanita berambut panjang seperti mengintip dari pintu tempat pemandian jenazah.

Keanehan juga terjadi pada saat pengambilan gambar detail wajah Regina, bibirnya sangat terlihat pucat dan kantong matanya cukup hitam tidak seperti aslinya. 

Hal terakhir yang sangat ganjil kami melihat saat pengambilan gambar peti mati dibawa kedalam ruangan kremasi, seluruh video nampak sulit fokus, dan pada detik ke 14 video tampak gelap tanpa merekam apapun.

Melihat hasil video yang kelompok kami review bersama tersebut. Mendadak aku khawatir dengan keadaan Regina. Sehingga aku memastikannya dengan menghubunginya melalui pesan singkat.

"Regii, lu pulang kemaren amankan? lagi disekolah ya?," tanyaku melalui pesan singkat

"Aman chi selow, nggak nih hari ini gue sakit, balik dari sana semalam badan gue kedinginan banget, tapi bukan meriang karena nggak demam sama sekali," jelas Regina

"Seriusan lu? gimana keadaanya sekarang?," tanyaku panik.

"Iya, udah mendingan kok abis pake minyak urapan (minyak doa) udah agak enak badan gue," balasnya menenangkan.

Apa yang lu liat waktu disana Re?," tanyaku to the point padanya

"Gue diikutin cewek rambut panjang dari mulai masuk ke rumah duka, dirias sampe balik ke rumah chi, kayaknya sih penunggu rumah kremasi tua itu" jelas Regina

Regina memang memiliki intuisi yang sangat kuat terhadap hal-hal berbau mistik tersebut. 

Namun, aku tidak menyangka bahwa ia akan sangat mengganggu sahabatku, bahkan sampai ia pulang ke rumah. (genpi)

Komentar