Kamis, 04 Juni 2026 | 09:00
NEWS

Kementan Temukan Potensi Eucalyptus untuk Cegah Corona

Kementan Temukan Potensi Eucalyptus untuk Cegah Corona
Tanaman eucalyptus. (Wikipedia)

ASKARA - Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tengah melakukan riset untuk menemukan potensi anti virus salah satu tanaman yang dikenal penggunaan minyak atisirinya yaitu eucalyptus.

Minyak atsiri dan berbagai ekstrak tanaman telah dianggap memiliki potensi sebagai obat alternatif untuk pengobatan banyak penyakit infeksius termasuk penyakit yang disebabkan oleh beberapa virus seperti influenza dan bahkan corona.

"Riset tersebut dilakukan oleh Balitbangtan melalui tiga UPT-nya yaitu Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) serta Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen). Riset bersama ini untuk membuktikan kemampuan beberapa tanaman herbal termasuk membuktikan potensi anti virus eucalyptus terhadap beberapa virus," jelas Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry, Selasa (5/5).

Dia mengungkapkan bahwa meskipun dalam riset belum menggunakan virus Covid-19 dalam pengujian, hasil telusur ilmiah serta riset daya anti virus eucalyptus yang dilakukan dapat memberikan informasi ilmiah berbasis riset kepada masyarakat tentang potensi eucalyptus sebagai anti virus yang diharapkan juga dalam membantu mencegah penyebaran Covid-19.

Hasil penelitian ini dapat menjadi harapan baru bagi masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan eucapyptus dalam mencegah infeksi virus, yang diharapkan dapat juga untuk digunakan mencegah paparan virus Covid-19.

"Penelitian dan pengembangan lanjutan akan terus dilakukan dengan menggandeng berbagai pihak, sehingga akan memperoleh hasil yang lebih optimal," kata Fadjry Djufry.

Lebih lanjut dikemukakan oleh Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner sekaligus peneliti yang menggeluti bidang virologi Indi Dharmayanti bahwa virus yang diuji termasuk influenza H5N1, gammacorona dan betacoronavirus clade 2a sebagai model dari virus corona yang diuji secara in vitro. Alphacoronavirus dan betacoronavirus secara umum menginfeksi mamalia sedangkan gammacoronavirus dan deltacoronavirus dapat menginfeksi unggas, burung liar, babi, paus dan lumba-lumba.

Hasil riset yang dilaksanakan di laboratorium BSL level tiga milik Balai Besar Penelitian Veteriner menunjukkan bahwa eucalyptus dapat dimanfaatkan sebagai anti virus dengan efektivitas membunuh virus 80-100 persen tergantung jenis virus.

"Termasuk terhadap virus corona yang digunakan serta virus influenza H5N1," ujar Indi.

Sementara itu Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Evi Savitri menjelaskan bahwa minyak atisiri eucalyptus memiliki senyawa 1,8-cineole yang juga disebut eucalyptol, yang merupakan komponen utama dari minyak atsiri yang ditemukan dalam daun eucalyptus.

"Senyawa 1,8-cineole dalam eucalyptus memiliki aktivitas anti virus, anti inflamasi dan antimikroba," katanya.

Evi menambahkan bahwa senyawa ini juga dapat berfungsi menghambat replikasi coronavirus dengan mengikat protein Mpro yang terdapat pada virus. Protein tersebut berperan dalam pematangan virus dan pembelahan polyprotein virus sehingga dapat mencegah penyebaran infeksi.

"Dalam penelitian ini, proses pembuatan minyak eucalyptus dilakukan melalui proses destilasi uap di laboratorium Balittro," ujarnya.

Penggunaan teknologi nano juga dilakukan untuk menghasilkan beberapa sediaan bahan aktif yang lebih stabil dan memiliki efektifitas lebih tingi.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Prayudi Syamsuri, bahwa dari hasil penelitian tersebut Balitbangtan juga telah mengembangkan beberapa prototype produk yang dihasilkan antara lain berupa roll on, balsam, minyak aromaterapi, inhaler, dan kalung. (industry) 

Komentar