Kamis, 18 Juni 2026 | 05:16
NEWS

Rasio Tes Covid-19 di Indonesia Tak Bisa Dibandingkan dengan Negara Lain

Rasio Tes Covid-19 di Indonesia Tak Bisa Dibandingkan dengan Negara Lain
Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito (Dok BNPB)

ASKARA - Rasio tes Indonesia per jumlah penduduk tidak bisa dibandingkan dengan negara-negara lain, sebab masing-masing negara memiliki letak geografis dan kekuatan ekonomi yang berbeda-beda.

Demikian dikatakan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito, melalui siaran virtual di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Selasa (5/5).

"Indonesia negara keempat dengan populasi terbesar di dunia. Tidak bisa serta merta dibandingkan dengan negara yang ekonominya tinggi dan penduduknya rendah," kata Wiku. 

Menurut Wiku, sebagai negara kepulauan, yang diperlukan Indonesia adalah memperkuat sistem untuk proses pengujian sampel agar mengetahui kasus Covid-19. Hingga saat ini, Pemerintah terus berupaya mempersiapkan laboratorium sekaligus mendata jumlah sumber daya manusia petugas laboratorium. Sehingga SDM yang ada bisa memenuhi kebutuhan laboratorium yang dibutuhkan di seluruh wilayah Indonesia. 

Seperti diketahui, hingga Selasa (5/5), telah dilakukan pemeriksaan sebanyak 121.547 spesimen dari 88.924 orang di seluruh Indonesia. Pengetesan ini dinilai Wiku sangat penting dilakukan.

"Untuk mengetahui virus ada di mana kita perlu melakukan testing menggunakan alat dan proses tertentu, diambil sampelnya dari manusia yang terpapar," ujar Wiku.

Ditemukannya kasus dengan cepat, maka akan dengan mudah ditindaklanjuti dengan perawatan pasien, sekaligus melakukan pelacakan riwayat kontak orang-orang yang kontak dekat dengan pasien positif Covid-19 guna mencegah penyebaran terjadi lebih luas.

Tiga metode pemeriksaan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini, yaitu pemeriksaan Real Time-PCR yang merupakan standar utama dengan sensitifitas dan spesifisitas hingga 95 persen, tes cepat molekuler yang juga memiliki sensitifitas dan spesifisitas 95 persen, serta rapid test berbasis antibodi dengan sensitifitas dan spesifitas 60-80 persen.

Untuk tes RT-PCR, Pemerintah Indonesia sudah menunjuk 46 laboratorium di seluruh Indonesia yang di mana akan ditingkatkan guna mencapai target 10 ribu pengujian sampel per hari. 

Untuk pemeriksaan tes cepat molekuler, lanjut Wiku, sudah bisa dilakukan di seluruh Indonesia, namun terkendala ketersediaan cartridge khusus Covid-19 yang sulit didapat karena seluruh dunia membutuhkan.

Sementara, saat ini yang lebih banyak digunakan adalah tes cepat berbasis antibodi yang digunakan sebagai skrining status Covid-19 pada masyarakat yang diduga terpapar virus. 

Namun tes cepat berbasis antibodi ini perlu diikuti oleh pemeriksaan RT-PCR guna memastikan dan lebih meningkatkan keakuratan apabila seseorang diketahui positif terjangkit Covid-19.

Tes cepat berbasis antibodi memiliki keunggulan yang dapat mengetahui hasil dalam kurun waktu 15-20 menit, sayangnya memiliki kelemahan dari sisi sensitifitas dan spesifitasnya yang rendah.

Komentar