Mendaki Mahameru Ala Kelompok Perempuan di Atas 45 Tahun
ASKARA - Saya dan Anggun boncengan berangkat dari Surabaya menuju Nongkojajar, Malang. Singgah dulu di tempat janjian. Belanja berbagai keperluan untuk persiapan bekal tiga hari di gunung.
Menjelang tengah malam, kami berangkat dari Nongkojajar menuju kaki Gunung Semeru yang dikenal juga dengan sebutan Mahameru. Saya berangkat dengan tiga anak muda bersama Anggun, Bedhoel dan Baktiar, dengan dua motor melewati perkampungan dan jalan berkelok tajam, aspalan banyak lubang, gelap pisan. Entah dilewatkan mana saya hanya mengikuti dari belakang. Anggun sempat memilih turun karena jalan sedikit mengerikan.
Sekitar pukul 01.30 sampailah kami di desa paling ujung yang terdekat dengan jalur. Semua penduduk sudah terlelap, tidak satu pun yang bisa kami datangi. Beruntung ada rumah yang sedang dibangun belum selesai, pintu hanya ditutup papan triplek setengahnya.
Karena lelah, kami rebahan saja pada teras rumah kosong itu beralaskan tanah. Ternyata dinginnya luar biasa, akhirnya kami mencoba masuk rumah. Papan triplek kami lepas dan gunakan sebagai alas untuk sekadar merebahkan tubuh.
Pukul 03.00 pagi kami dengar salah satu penduduk terdekat membuka pintu. Tidak tunggu lama, Bedhoel mencoba menghampiri, alhasil kami diundang ikut ke dapur untuk menghangatkan tubuh di depan pawon (pawon adalah tempat memasak fungsi sebagai kompor dengan bahan bakar kayu yang masih ada di pedesaan). Kopi, teh hangat serta kue kami dapatkan. Inilah wajah dan keramahan orang desa yang dari dulu ada di Jawa. (Maaf, saya sebut Jawa karena memang saya tinggal di Jawa Timur).
"Apakah bisa titip parkir motor?" tanya Bedhoel kepada pemilik rumah. "Monggo, monggo. Badhe minggah Semeru toh" jawabnya. (Silakan, silakan. Mau naik ke Semeru toh). "inggih pak" kata Bedoel kemudian.
Segera kami pindahkan motor yang berada di pinggir jalan, masuk ke rumah bapak itu. Setelah habis kopi dan teh suguhan kami berpamitan.
Perjalanan pun dimulai melewati kebun tanaman kentang cukup panjang, baru kami memasuki semak belukar, hutan yang dingin. Jalur lumayan berat, dan tentunya sangat sepi. Rindang berteman kabut di kegelapan. Suara burung-burung menemani perjalanan kami berempat.
Pagi pun mulai menampakkan diri membawa hangatnya mentari. Sekitar pukul 07.00 kami sampai di Ranu Kumbolo. Beberapa tenda sudah berdiri. Setelah menyapa pendaki yang ada, kami mendekati air danau. Bening, bersih dan terasa sangat sejuk. Perlu diketahui, jangan menggunakan sabun untuk mencuci peralatan masak di Ranu ini agar tidak mencemari dan ikan akan mati.
Agenda berempat ini saya sambungkan dengan teman-teman pendaki perempuan di atas usia 45 tahun dari berbagai kota, ada yang dari Jakarta, Depok, Yogyakarta, Salatiga, Batu dan Malang juga. Yang entah berangkat jam berapa dari Malang tempat berkumpul mereka. Sembari menunggu, kami buka tenda dulu agar bisa menambah kebutuhan tidur.
Matahari mulai tinggi, dalam tenda terasa gerah, kami jalan ke sana kemari inspeksi, foto sana sini sampai pasang hammock di bawah pohon pinus rindang yang cukup jauh dari tenda kami, tampak bagaikan keluarga yang sedang berpiknik. Menghabiskan waktu sambil menunggu.
Siang pun berganti sore, teman-teman yang saya tunggu belum juga kelihatan. Mulai saya gelisah, apakah ada kendala menimpa mereka. Jadikah mereka datang?
Maghrib pun berkumandang, hari mulai sedikit gelap. Tidak lama kemudian, saya mengenali satu orang yang paling depan, aaah rupanya mereka. Bergegas kusambut. "Kenapa baru sampai jam segini, memang tadi berangkat jam berapa dari malang?" tanyaku. "ada kendala di basecamp, lampu mati, jadi pendaftaran online tidak bisa dicek, harus print dulu, setelah itu harus dengar briefing panjang," jawab temanku.
Ya yang penting sudah sampai, saya bantu bawa barang dan antar ke tempat camp ternyata mereka memilih sisi lain dari Ranu Kumbolo yang tersedia toilet dan warung. Suara genset menggelegar untuk menghidupkan lampu di seputaran. Setelah semua sampai, kami putuskan bersama bahwa besok pagi-pagi akan mengarah ke camp dulu di Kalimati baru menuju puncak.
Saya kembali ke tempat menemui tiga anak yang tadi, hemmm di sini lebih nyaman dan sepi. Jauh dari keramaian karena kebanyakan pendaki memilih di sana.
Pagi-pagi kami packing dan menemui teman-teman pendaki perempuan seumuran yang semalam baru tiba. Dan mulai perjalanan bersama melalui Tanjakan Cinta (di sini ada mitos, boleh percaya boleh tidak. bahwa saat melewati tanjakan cinta jangan sekali-kali menengok ke belakang, bikin putus sama pacar, katanya sih begitu)
Tanjakannya lumayan meski tidak terlalu panjang. Setelahnya akan melewati hamparan luas, kalau beruntung pas musimnya bisa ketemu hamparan bunga verbena ungu yang cantik, lalu Pos Cemoro Kandang menuju dan Pos Jambangan. Di sini terasa auranya agak tidak nyaman (buat saya sih) masuk hutan seperti hutan mati, lembab bikin merinding. Tidak lama kemudian sampailah di Pos Kalimati. Kami buka tenda lagi, tengah malam baru berangkat muncak. Pos ini tersedia sumber air, untuk mengambilnya harus sedikit turun.
Tengah malam pun tiba, kami bersiap sekitar pukul 01.00. Jalan gelap gulita. Karena kecepatan mendaki tidak sama maka dibagi dua kelompok, kelompok cepat dan lambat. Saya memilih dalam kelompok lambat saja.
Mahameru adalah gunung terfavorit dan sebagai salah satu puncak tertinggi dari tujuh di Indonesia. Tidak pernah sepi. Alhasil, untuk menuju puncak bisa antri saking padatnya pendaki. Di jalur ini, perlu perhatian lebih. Karena banyak batu labil, hati-hati melangkah, bila kita di depan jangan sampai menggelindingkan batu ke bawah kalau tidak sengaja cepatlah berteriak agar yang di belakang bersiaga, dan apabila banyak pendaki di atas kita tetap waspadalah, lihatlah ke atas siapa tahu ada batu yang terjatuh. Di tahun 2015 pernah terjadi seorang perempuan muda asal Sukabumi, Jawa Barat meninggal di jalur ini karena tertimpa batu yang berguguran dari arah puncak.
Menuju puncak, jalan terasa berat. Jalur berpasir tebal dengan bebatuan, satu langkah maju bisa mundur tiga langkah. Gunakan sepatu dengan benar dan tambahkan geiter. Agar aman. Jangan menggunakan sendal gunung, ini akan menganggu yang lain, karena membuatmu sering berhenti karena kemasukan pasir atau kerikil. Yang ngantri di belakangmu cukup banyak. Jalur berpasir menuju puncak Mahameru, mirip dengan puncak Rinjani.
Mendekati puncak, oksigen terasa makin tipis. Perhatikan perubahan tubuh, bila terasa pusing, berhentilah. Baca dan bekali diri dengan pengetahuan, ketahui bagaimana cara mengatasinya, agar tidak panik bila itu terjadi.
Angin juga seringkali kencang, meski bukan musim hujan, bawalah jas hujan tipis ataupun reincoat. Ini sangat membantu menahan angin, agar tidak kedinginan dan hipo nantinya. Tidak perlu terlalu lama berada di puncak, segeralah turun. Karena memang sebetulnya pendakian hanya diijinkan sampai Kalimati. Biasa bagi pendaki, tanggung sudah dilokasi, maka puncak akan jadi tujuan yang pasti meski dilakukan sembunyi-sembunyi.
Saat sebelum Arcopodo, kami melihat bekas api kecil. Anak-anak yang bersama saya mencoba mematikan. Entah siapa yang membuatnya, tidak ada orang di sekitarnya. Dirasa sudah mati, kami lanjut perjalanan.
Akhirnya tujuh perempuan usia seputaran lima puluhan dan satu perempuan usia enam puluh berhasil sampai di puncak Mahameru. Usia bukan halangan bila kita mau, mau bekerja keras dengan menjaga stamina tubuh dan selalu melatih diri dengan olah raga rutin.
Saatnya turun, gangguan utama adalah debu luar biasa, jangan lupa bawa dan pake buff, langkah kaki bisa begitu cepat, seolah main ski turun sambil sedikit berlari menghamburkan debu. Saat inilah perhatian juga harus ditingkatkan, ada blank spot yang suka bikin nyasar.
Saat kami memasuki hutan kembali, dikejutkan oleh api yang begitu besar, ternyata semalam belum mati beneran. Tertiup angin makin berkobar. Kebakaran meluas, saya sedikit panik karena Anggun dan Bedhoel yang bersama saya belum turun. Saya sempat menunggu cukup lama bersama Baktiar sembari memadamkan api paling dekat jalur sebisanya. Angin membuat kerja kami tidak berguna.
Sebagian pendaki segera turun dan melaporkan pada pos jaga di Kalimati dan diteruskan pada basecamp via HT.
Kebakaran di hutan sangat mengerikan kalau kita ada di dalamnya. Angin mempercepat penyebaran dan siapa pun bisa terjebak dan kehabisan oksigen. Jadi terbayang, kasihan para binatang.
Maka itu berhati-hatilah bila membuat perapian di gunung, pastikan ia benar-benar mati sebelum kalian tinggalkan.
Usut punya usut setelah turun, api ini infonya berasal dari penduduk yang sedang akan melakukan upacara adat di puncak. Saat istirahat di jalan ingin bikin kopi, gas bocor dan kompor berkobar, mungkin saking terkejutnya, kompor di lempar. Dan karena ketakutan lalu di tinggalkan.
Dari perjalanan ini bisa kita ambil pelajaran. Saat istirahat, mau bikin kopi, jauhi area rerumputan. Hidupkan kompor di area yang bertanah atau berpasir sedikit luas. Untuk memperkecil resiko.
Tidak perlu saling menyalahkan karena itu bisa terjadi pada siapa pun juga. Termasuk saya, pernah mengalami gas bocor kompor terbakar di area segara anak Gunung Rinjani. Beruntung alas kompor adalah area pasir, dengan sigap saya gunakan untuk mematikan. Dan bersyukur tidak terjadi apapun. Memang kagetnya luar biasa. Reflek itu yang tidak bisa kita duga.
Selain jauhi rerumputan, juga jangan masak terlalu dekat tenda, apalagi masak di dalamnya. Hati-hati lebih baik, sebelum celaka itu terjadi.
Kembali pada perjalanan, karena lama menunggu, saya, Anggun, Bedhoel dan Baktiar baru bisa beranjak dari kalimati pukul 19.00. Langsung packing dan menuju tempat teman-teman perempuan menunggu di Ranu Kumbolo. Perjalanan yang dingin, sampai lokasi pukul 21.00. Banyaknya tenda dan gelap bikin saya tidak bisa menemukan di mana lokasi teman-teman, sudah keliling, tetap tidak saya temukan karena semua sudah tidur juga.
Daripada lelah mencari, kami putuskan mendirikan tenda di area yang masih mencukupi. Malam itu saya benar-benar terjebak tidur dengan suara genset yang menggelegar, terpaksa harus didengar dan membuat sulit tidur. Dua malam yang lalu, saya memilih camp di sisi lain Ranu Kumbolo, hening dan sangat nyaman.
Pagi-pagi kami sarapan dan bersiap untuk pulang. Saya dan Anggun tetap naik motor menuju Surabaya. Yang lain menuju Malang lebih dulu. Baru pulang ke kota masing-masing.
Terima kasih pada teman-teman seumuran beda-beda tipis yang punya semangat luar biasa. Karena kalian, saya bisa sampai Mahameru. Salam sehat selalu. Salam seduluran saklawase.
Salam Lestari dan salam satu jiwa.

Komentar