Kebijakan Bansos Jadi Ajang Pencitraan, Kepala Desa: Kami Diadu Domba dengan Warga
ASKARA - Bantuan Sosial (Bansos) dari pemerintah bagai angin segar di tengah situasi tidak pasti akibat pandemi virus corona (Covid-19).
Namun kenyataanya masih banyak warga kurang mampu tidak mendapat bantuan tersebut.
Kepala Desa Jalan Cagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat Indra Zainal Alim mengaku kecewa lantaran alokasi bansos tidak merata dan malah membuat gaduh di tengah masyarakat.
Indra meluapkan kekecewaan melalui video berdurasi 3,38 menit yang diunggah di media sosial. Turut mendampinginya sesama perangkat desa lain seperti RT, RW dan kepala dusun.
Teruntuk kepada presiden, menteri desa dan terutama gubernur Jawa Barat, Indra meminta mereka ketika mengeluarkan kebijakan untuk masyarakat luas khususnya yang berhubungan dengan warga desa agar dipikirkan terlebih dahulu secara matang sehingga tidak menjadi polemik di masyarakat.
"Jangan sekali-kali menggembar-gemborkan bahasa bahwa akan mendapatkan bantuan. Dengan statement bapak bahwa warga kami akan mendapat bantuan ini semua ricuh," kata Indra dalam video yang beredar, Selasa (28/4).
Menurut Indra, bukan hanya dirinya yang merasakan hal tersebut. Semua kepala desa di Kabupaten Subang merasa bingung karena kebijakan bantuan yang berubah-ubah.
"Saya yakin seluruh kepala desa Kabupaten Subang, termasuk bupati kebingunan dalam kebijakan ini. Dari keputusan menteri kemudian keputusan dirjen. Mana hirarki perundangan kita digunakan," tuturnya.
Terlebih, data yang diambil oleh RT-RW tidak berguna. Seolah hanya dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) untuk diajukan ke Pemprov Jabar.
"RT kami sudah mendata dari bawah sekarang seolah-olah tidak ada guna. Siapa yang akan diserang oleh warga kami, pasti RT, RW dan kadus yang paling terakhir berada di pemerintahan desa," jelas Indra.
Sekali lagi, Indra merasa prihatin dengan regulasi yang keluarkan pemerintah. Tentu dirinya tidak ingin adanya kebijakan malah semakin memperkeruh keadaan.
"Dengan dijadikannya bencana atau musibah ini menjadi pencitraan bagi bapak-bapak. Tolong sekali lagi pak, kami sebagai kepala desa seolah-olah diadu domba oleh kebijakan bapak dengan warga kami sendiri," bebernya.

Komentar