Ilmuan Deteksi Corona Virus Berada di Partikel Pencemaran Udara, Tingkatkan Jumlah Orang Terinfeksi?
ASKARA - Virus Corona (Covid-19), terdeteksi para ilmuwan berada di partikel pencemaran udara. Namun hingga saat ini penemuan itu masih diselidiki apakah memungkinkan partikel tersebut terbawa dalam jarak jauh.
Melansir The Guardian Selasa (28/4), jika memang partikel Covid-19 terbawa pencemaran udara dengan jarak jauh tentu akan meningkatkan jumlah orang yang terinfeksi.
Namun kebenaran hal tersebut masih diselidiki dan belum diketahui hasilnya. Apakah virus tersebut tetap hidup pada partikel polusi hingga menyebabkan penyakit atau tidak.
Dalam penyelidikannya, para ilmuwan Italia menggunakan teknik standar untuk mengumpulkan sampel polusi udara luar di salah satu kota serta satu lokasi industri di provinsi Bergamo, guna mengidentifikasi gen yang sangat spesifik untuk Covid-19 dalam banyak sampel. Pendeteksian ini dikonfirmasi di laboratorium independen.
Pemimpin penelitian dari Universitas Bologna di Italia, Leonardo Setti mengungkapkan pentingnya menyelidiki hal ini.
"Saya seorang ilmuwan dan saya khawatir ketika saya tidak tahu. Jika kita tahu, kita dapat menemukan solusinya. Tetapi jika kita tidak tahu, kita hanya akan menderita atas konsekuensinya," ujarnya.
Dari dua kelompok penelitian lain, menyebutkan partikel polusi udara dapat membantu perjalanan virus corona lebih jauh di udara.
Sementara itu analisis statistik oleh tim Setti menunjukkan, tingkat polusi partikel yang lebih tinggi dapat menjelaskan tingkat infeksi yang juga lebih tinggi, khususnya di bagian Italia Utara sebelum lockdown diterapkan. Terlebih saran analisis pendahuluan lainnya, wilayah ini juga disebut merupakan yang paling tercemar di Eropa.
Hingga saat ini, belum satu pun dari studi yang dilakukan tim Setti ditinjau oleh rekan sejawat, sebab penelitian ini belum disetujui oleh ilmuwan independen. Namun para ahli sepakat proposal tim Setti masuk akal dan membutuhkan investigasi.
Pada studi sebelumnya menunjukkan bahwa partikel polusi udara memang mengandung mikroba, dan bahwa polusi memungkinkan membawa virus yang menyebabkan flu burung, campak dan penyakit kaki-dan-mulut pada jarak yang cukup jauh.
Potensi yang ditularkan melalui polusi udara cukup tinggi, misalnya dari batuk, bersin orang yang di mana partikelnya jatuh ke tanah dalam satu atau dua meter.
Namun yang dikhawatirkan adalah tetesan partikel meskipun jauh lebih kecil, berdiameter kurang dari 5 mikron, namun dapat tetap di udara selama beberapa menit hingga berjam-jam dan bergerak lebih jauh.
Akan tetapi para ahli tidak yakin apakah tetesan kecil di udara ini dapat menyebabkan infeksi coronavirus, meskipun mereka tahu bahwa Sars coronavirus 2003 menyebar di udara dan bahwa virus baru dapat tetap bertahan selama berjam-jam di tetesan kecil.
Para peneliti mengatakan betapa pentingnya melakukan sebuat penyelidikan potensi penularan melalui udara, dan kemungkinan meningkatkan peran partikel dalam polusi.

Komentar