Selasa, 09 Juni 2026 | 02:47
NEWS

Bukan Skyquake, Kuat Dugaan Dentuman dari Erupsi Anak Krakatau

Bukan Skyquake, Kuat Dugaan Dentuman dari Erupsi Anak Krakatau
Erupsi Gunung Anak Krakatau difoto dari pos pemantauan. (Twitter)

ASKARA - Dentuman besar yang terdengar di Jabodetabek termasuk Lampung pada Sabtu dini hari (11/4) membuat masyarakat bertanya-tanya sumbernya. 

Banyak yang meyakini bahwa dentuman merupakan fenomena skyquake, ada juga yang menyebut berasal dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Di mana, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan erupsi mulai terjadi Jumat (10/4) pukul 22.35 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 657 meter di atas permukaan laut. 

Sementara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis bahwa dentuman bukan bersumber dari gempa tektonik erupsi Anak Krakatau. 

"Hasil monitoring muka laut menggunakan tide gauge di Pantai Kota Agung, Pelabuhan Panjang, Binuangen, dan Marina Jambu menunjukkan tidak ada anomali perubahan muka laut sejak 10 April 2020 pukul 21.00 hingga pagi 11 April 2020 pukul 6.00 WIB," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono. 

Ahli vulkanologi sekaligus mantan Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono menduga kuat bahwa suara dentuman bersumber dari aktivitas erupsi Anak Krakatau. 

"Jadi saya menduga kuat bahwa itu dari Gunung Anak Krakatau," katanya saat dihubungi Askara.

Hal ini kata dia, bisa dirasakan sejumlah warga lantaran aktifitas warha yang berdiam di dalam rumah membuat suara kendaraan dan lainnya berkurang, sehingga dentuman tersebut terdengar sangat jelas.

"Ingat loh di Jakarta khususnya dengan PSBB di mana-dimana sedang ada isolasi mandiri yang boleh dikatakan jam-jam segitu orang sudah tidak ke mana-mana. Apalagi jam segitu, pagi, sore juga noise sangat kecil sekali karena tidak ada kendaraan, tidak ada tukang bakso lewat, tidak ada pengamen," papar Surono.

Dugaan kuat dentuman akibat erupsi lantaran Anak Krakatau pernah menimbulkan fenomena yang sama. Saat itu bertepatan adanya letusan ketiga pada Desember 2018 lalu.

"Saat itu juga mendengar suara ledakan dan ada tanda-tanda kegempaan BMKG yang merekam bersamaan dengan suara ledakan itu. Saya kemudian cari data dan merekam ini, dulu seperti apa sih, ya ternyata pernah Desember 2018. Ya why not sekarang tidak, apalagi kondisinya sekarang lebih sepi," jelas Surono.

Dugaan bahwa dentuman berasal dari fenomena skyquake dinilainya kurang tepat, lantaran dentuman akibat skyquake seharusnya bisa terdengar di semua wilayah baik di luar Jabodetabek maupun Lampung Selatan. 

"Nah, kenapa saya menduga karena saya tidak punya data yang pasti, dan dari informasi-informasi saja ada yang mengatakan itu dari skyquake. Ya kalau di angkasa, wah kedengarannya bisa ke mana-mana, tidak sebagian," tutur Surono.

Dentuman dari skyquake juga bergantung pada kondisi tekanan dan temperatur udara di sekitarnya. Sementara yang terjadi pada Sabtu dini hari, dentuman terdengar dengan kondisi berbeda. 

"Suara-suara itu tidak sama kan kondisinya di setiap daerah," demikian Surono.

Komentar