Jenis-jenis Masker dan Keampuhannya Melindungi dari Virus
ASKARA - Selain melakukan social distancing, mencuci tangan dan menjalani hidup sehat untuk mencegah tertular virus corona (Covid-19) masker juga menjadi barang penting.
Spesialis Paru RSUP Persahabatan dr. Erlina Burhan Sp.P(K),M.Sc, pH.D mengatakan, masker memiliki berbagai jenis seperti masker kain yang bisa digunakan masyarakat yang sehat dan dipakai di tempat-tempat umum.
Sayangnya masker kain memiliki kekurangan tersendiri yang harus diperhatikan dan tidak disarankan untuk tenaga medis.
"Tapi tetap menjaga jarak 1-2 meter karena masker kain ini tidak bisa memproteksi masuknya semua partikel. Masker kain ini tidak disarankan bagi tenaga medis karena 40-90 persen partikel dapat menembus masker. Dan tentu saja idealnya dikombinasikan dengan pelindung wajah," jelasnya melalui live streaming di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (1/3).
Jenis kedua adalah masker bedah. Untuk diketahui jenis masker ini juga bisa digunakan masyarakat, khususnya bagi yang mengalami gejala flu, batuk, bersin, hidung berair, demam hingga nyeri tenggorokan. Masker ini juga digunakan bagi tenaga medis dalam fasilitas layanan kesehatan.
Adapun jenis lainnya yaitu masker N95. Masker ini juga digunakan oleh tenaga medis yang kontak langsung atau yang aktifitasnya dekat dengan pasien-pasien yang terpapar infeksi tinggi.
Jenis terakhir adalah face respirator. Jenis masker ini dikhususkan untuk para pekerja yang memiliki aktifitas dengan risiko rentan terpapar gas berbahaya. Biasanya masker ini digunakan di lingkungan industri.
Berbicara tentang penggunaan masker yang bukan untuk tenaga medis, seperti halnya masker kain. Masker ini memiliki perlindungan terhadap droplet namun tidak terhadap aerosol atau partikel aerobone.
"Jadi untuk pencegahan droplet pada bersin, kalau dropletnya besar iya tapi kalau dropletnya kecil tidak bisa masker kain ini. Jadi efektifitas filtrasinya adalah pada partikel ukuran tiga mikron itu bisa 10-60 persen partikel tersebut," tutur Dokter Erlina.
Tentunya masker kain tidak direkomendasikan sepenuhnya untuk tenaga medis disebabkan memiliki peluang droplet untuk masuk dalam sistem pernafasan, meskipun di sisi lain masker ini dapat dipakai berulang dengan cara dicuci menggunakan detergen dan bila perlu memakai air panas.
"Karena detergen dan air yang hangat itu bisa mematikan virus," kata Dokter Erlina.
Sementara, penggunaan masker bedah sangat dianjurkan bagi tenaga medis maupun yang mengalami gejala-gejala sakit seperti bersin, flu dan lainnya.
"Dipakai untuk melindungi kita dari droplet yang dikeluarkan oleh orang lain. Tapi memang tidak bisa dipakai untuk melindungi partikel yang ada di aerosol atau partikel di aerobone. Dan efektifitasnya adalah bisa menfiltrasi 30-96 persen partikel dengan ukurann 0,1 mikron," papar Dokter Erlina.
Meski begitu, masker bedah masih memiliki potensi kebocoran, terutama pada bagian samping kiri dan kanan sebab tidak sepenuhnya menutupi wajah.
"Dan ini sebetulnya tidak bisa dipakai berulang kali, ini sekali pakai. Dan durasinya tergantung dari kondisi, kalau sudah basah mestinya ini sudah segera diganti," ujar Dokter Erlina.
Kemudian untuk masker B95 atau sejenisnya memiliki proteksi sangat baik untuk droplet dan juga punya proteksi yang sama untuk partikel aerosol atau airobone.
"Makanya ini dianjurkan hanya dipakai petugas kesehatan bukan masyarakat umum, dan efektifitasnya cukup tinggi. Menfiltrasi partikel 0,1 mikron, itu sampai di atas 95 persen. Makanya namanya N95, dan tidak ada kebocoran kalau dipakai dengan baik," jelas Dokter Erlina.
Masker N95 bisa dipakai secara berulang dengan tata cara khusus misalnya setelah dipakai dijemur di bawah sinar Matahari selama 3-4 hari hingga virusnya mati yang kemudian dipakai kembali.
"Tapi ini disarankan hanya bila stok sangat sedikit tapi kalau stok masih ada kita tidak sarankan," kata Dokter Erlina.
Sementara, dalam penggunaan face respirator memiliki efek perlindungan terhadap droplet maupun aerosol atau airobone.
"Efektifitasnya bisa mencegah filtrasi partikel 0,1 mikron sampai di atas 99 persen, nyaris 100 persen. Tidak ada kebocoran, dapat dipakai berulang tapi tentu saja harus dibersihkan dengan disinfektan secara benar. Ini biasanya dipakai di industri yang terdapat gas-gas yang berbahaya," demikian Dokter Erlina.

Komentar